Forum Menlu ASEAN Jadi Pertemuan Penting AS-Rusia, Rubio: Perang Ukraina Tak Akan Bisa Selesai Cepat - Tribunnews
Ringkasan Berita:
- Forum Menteri Luar Negeri ASEAN yang digelar di Manila, Filipina menjadi pertemuan penting bagi Amerika Serikat (AS) dan Rusia.
- Sebab, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov bertemu di sela-sela acara tersebut.
- Berdasarkan laporan media resmi Rusia, pembicaraan antara Rubio dan Lavrov berlangsung selama lebih dari 30 menit.
TRIBUNNEWS.COM - Forum Menteri Luar Negeri ASEAN yang digelar di Ibu Kota Filipina, Manila pada Kamis (23/7/2026), menjadi momentum penting bagi Amerika Serikat (AS) dan Rusia.
Pertemuan yang dihadiri Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio dan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov ini menjadi salah satu momentum krusial dalam upaya menghentikan perang di Ukraina.
Berdasarkan laporan media resmi Rusia, pembicaraan antara Rubio dan Lavrov berlangsung selama lebih dari 30 menit.
Dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Rusia, Lavrov menegaskan kembali kesiapan Moskow untuk mencapai penyelesaian politik dan diplomatik guna mengakhiri perang di Ukraina.
Lavrov menyampaikan kepada Rubio, Rusia tetap berpegang pada proposal penyelesaian yang sebelumnya dibahas dalam pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska pada Agustus 2025 lalu.
Namun, Lavrov juga menggarisbawahi syarat ketat dari pihak Moskow.
Ia menegaskan, kelanjutan pengiriman pasokan senjata oleh negara-negara Barat ke Kyiv adalah tindakan yang tidak dapat diterima.
Selain itu, Lavrov mengecam kebijakan negara-negara Eropa yang dinilainya destruktif dan berupaya menimbulkan "kekalahan strategis" bagi Rusia.
"Sangat penting untuk menanyakan pertanyaan mendasar dan mendapatkan jawaban yang jelas," ujar Lavrov, mengutip Al Jazeera.
Di sisi lain, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mengonfirmasi pihak Kyiv terus berkomunikasi secara intensif dengan utusan khusus AS guna menghidupkan kembali perundingan damai yang sempat terhenti.
Melalui unggahan di media sosial X pada Kamis (23/7/2026), Zelenskyy mengabarkan telah melakukan diskusi penting dengan dua utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Baca juga: Serangan Drone Iran di Fasilitas Rahasia CIA Buat Geger, Rusia Dituduh Terlibat
"Kami melakukan percakapan yang baik dan penting tentang bagaimana menghidupkan kembali diplomasi," tulis Zelenskyy.
Langkah diplomasi ini berlangsung di tengah dinamika internal militer Ukraina, termasuk perombakan struktur kepemimpinan militer di Kyiv dan fokus pemerintah Ukraina untuk mempertahankan dukungan internasional.
Perang Ukraina Tak Akan Selesai Cepat
Sementara itu, Marco Rubio menegaskan, pemerintahan Trump berkomitmen penuh untuk membantu mengakhiri perang "tak masuk akal" di Ukraina.
Kendati demikian, Washington mewanti-wanti dunia agar tidak berharap pada solusi instan.
"Pemerintahan Trump siap membantu mengakhiri perang yang tak beralasan ini, namun kami harus realistis bahwa tidak ada jalan pintas untuk mencapai kesepakatan damai," ujar Rubio, mengutip AP News.
Pertemuan Rubio dan Lavrov berlangsung tertutup dan menyedot perhatian publik internasional.
Saat keluar dari ruang perundingan, Lavrov memilih bungkam dan menolak menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan gencatan senjata di Ukraina maupun dugaan keterlibatan Rusia dalam membantu militer Iran menargetkan pasukan AS di Timur Tengah.
Tak hanya membahas soal Ukraina, Rubio juga memanfaatkan forum ASEAN untuk menyuarakan ancaman krisis keamanan di Timur Tengah yang berpotensi memukul perekonomian Asia.
Rubio mengkritik keras klaim sepihak Iran yang ingin mengontrol dan memungut biaya lintas di Selat Hormuz.
Menurutnya, langkah Teheran tersebut menciptakan preseden buruk bagi hukum internasional dan kebebasan navigasi maritim dunia.
Baca juga: Usai Temui Menlu Rusia, Rubio: Pertemuan Trump-Putin di Anchorage Gagal Akhiri Perang
Menanggapi gertakan Menlu Iran Abbas Araghchi yang mengusung prinsip balasan "mata dibayar mata", Rubio menyampaikan pesan menohok terkait ketegangan militer AS-Iran.
"Kebijakan Presiden Donald Trump terhadap Iran sangat jelas: jika mereka meminta 'mata dibayar mata', kami akan membalasnya dengan 'kepala dibayar mata'," tegas Rubio.
Kehadiran para diplomat kawakan dari AS, Rusia, hingga China di forum ASEAN tahun ini menegaskan betapa strategisnya kawasan Asia Tenggara di tengah tumpang-tindih konflik global—mulai dari perang di Eropa Timur hingga eskalasi militer di Selat Hormuz.
(Tribunnews.com/Whiesa)