Gedung Putih: Trump Belum Tetapkan Deadline Gencatan Senjata Iran, Tunggu Respons Teheran - Tribunnews
Gedung Putih: Trump Belum Tetapkan Deadline Gencatan Senjata Iran, Tunggu Respons Teheran
Ringkasan Berita:
- Gedung Putih menegaskan Donald Trump belum menetapkan batas waktu pasti untuk perpanjangan gencatan senjata dengan Iran.
- Washington masih menunggu respons terpadu dari kepemimpinan Teheran terkait proposal penghentian konflik.
- Di tengah negosiasi, blokade AS dan ketegangan di Selat Hormuz tetap berlanjut.
TRIBUNNEWS.COM – Soal kelanjutan gencatan senjata Iran masih menjadi topik panas yang disorot mata dunia.
Terbaru, Gedung Putih menyatakan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump belum menetapkan batas waktu pasti terkait perpanjangan gencatan senjata dengan Iran.
Washington mengaku masih menunggu respons terpadu dari para pemimpin Teheran.
Menurut laporan The Times of Israel, sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Trump ingin melihat satu posisi yang jelas dari kepemimpinan Iran sebelum langkah berikutnya diputuskan.
“Presiden belum menetapkan tenggat waktu pasti untuk menerima proposal dari Iran, tidak seperti beberapa pemberitaan yang kita lihat hari ini,” kata Leavitt kepada wartawan, Rabu (22/4/2026).
Ia menegaskan bahwa Trump masih memberi “sedikit fleksibilitas” karena Iran saat ini dinilai sedang mengalami perpecahan internal yang cukup serius setelah perang dan tekanan ekonomi yang berkepanjangan.
Washington Tunggu Respons Terpadu dari Iran
Leavitt menyebut saat ini terdapat pertarungan antara kelompok pragmatis dan garis keras di dalam struktur kekuasaan Iran.
Gedung Putih menilai kondisi itu membuat respons resmi dari Teheran belum sepenuhnya jelas.
“Presiden menginginkan respons yang terpadu,” ujar Leavitt.
Axios melaporkan, mengutip pejabat AS, Washington sebenarnya memberi waktu sekitar tiga hingga lima hari bagi Iran untuk menyatukan posisi dan kembali ke meja perundingan.
Jika tidak ada kejelasan, gencatan senjata yang saat ini berlaku berisiko runtuh.
Media Israel seperti Kan dan Ynet juga menyebut Teheran diperkirakan diberi waktu hingga akhir pekan untuk menyampaikan posisi finalnya.
Namun Leavitt membantah adanya deadline resmi dari Trump.
Fokus Utama: Program Nuklir Iran
CNN melaporkan fokus utama negosiasi tetap berada pada program nuklir Iran, khususnya soal uranium yang telah diperkaya.
Baca juga: Blokade AS Dipertanyakan, 34 Kapal “Hantu” Iran Lolos Angkut Minyak Rp15,6 Triliun
Leavitt menegaskan Trump tidak ingin Iran memiliki senjata nuklir yang dapat mengancam Amerika Serikat maupun sekutunya.
“Iran tidak boleh memperoleh bom nuklir dan mereka harus menyerahkan uranium yang diperkaya yang mereka miliki,” tegasnya.
Ia juga merujuk pada Operasi Midnight Hammer, yakni serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025, yang disebut telah melemahkan infrastruktur nuklir Teheran.
Meski demikian, Iran disebut hanya bersedia mengurangi kadar uranium yang diperkaya, bukan memindahkannya keluar dari negara itu.
Iran Balas dengan Nada Menantang
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan tindakan Amerika Serikat justru menjadi hambatan utama bagi negosiasi yang tulus.
Ia menyoroti blokade terhadap pelabuhan Iran, ancaman militer, dan tekanan ekonomi Washington.
“Dunia melihat retorika munafik Anda yang tak berkesudahan dan kontradiksi antara klaim dan tindakan,” katanya.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga mengecam langkah AS dan Israel.
Ia menegaskan tekanan militer tidak akan memaksa Iran menyerah.
Selat Hormuz Tetap Panas
Di saat diplomasi berjalan lambat, ketegangan di lapangan justru meningkat.
BBC dan CNN melaporkan Iran menembaki kapal-kapal di Selat Hormuz serta menyita dua kapal asing pada hari yang sama.
Sementara itu, Gedung Putih menegaskan “Operasi Kemarahan Ekonomi” tetap berlanjut, istilah baru untuk sanksi dan blokade yang diterapkan Washington terhadap Teheran.
Trump bahkan mengklaim Iran sedang mengalami “keruntuhan keuangan” akibat tekanan tersebut.
Negosiasi Baru Masih Menggantung
Putaran negosiasi baru antara AS dan Iran disebut berpotensi digelar di Islamabad, Pakistan, paling cepat akhir pekan ini.
Namun hingga kini Iran belum memberikan komitmen resmi.
Baca juga: AS Desak Warganya Segera Tinggalkan Iran di Tengah Ketidakpastian Keamanan
Menurut laporan New York Post dan Axios, Wakil Presiden AS JD Vance bahkan sempat bersiap terbang ke Pakistan, tetapi keberangkatannya tertunda karena ketidakpastian dari pihak Iran.
Situasi ini menunjukkan bahwa meski Trump membuka ruang diplomasi, jalan menuju kesepakatan damai masih jauh dari pasti.
Gencatan senjata masih bertahan, tetapi ketidakjelasan respons Iran membuat risiko eskalasi tetap tinggi di kawasan Timur Tengah.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)