0
News
    Home Berita Donald Trump Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Intel Bantah Klaim Trump, Yakin Iran Memiliki Ribuan Rudal untuk Melanjutkan Perang - Tribunnews

    7 min read

     

    Intel Bantah Klaim Trump, Yakin Iran Memiliki Ribuan Rudal untuk Melanjutkan Perang

    Ringkasan Berita:
    • Intelijen AS menyatakan Iran masih memiliki ribuan rudal dan drone meskipun telah dibombardir intensif oleh AS dan Israel.
    • Klaim tersebut bertentangan dengan pernyataan Donald Trump yang menyebut kemampuan militer Iran telah hancur.
    • Sementara itu, IRGC menegaskan kesiapan Iran untuk melanjutkan perang dan bahkan melancarkan serangan yang lebih besar.

    TRIBUNNEWS.COM - Meskipun telah terjadi serangan udara intensif selama berminggu-minggu oleh pasukan AS dan Israel, Iran tampaknya masih memiliki ribuan rudal dan drone kamikaze, menurut penilaian intelijen terbaru.

    Penilaian tersebut bertentangan dengan klaim kemenangan yang disampaikan Presiden AS Donald Trump terkait konflik di Timur Tengah.

    Bahkan sebelum gencatan senjata diumumkan, Trump dan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengklaim bahwa Angkatan Udara Iran telah dimusnahkan dan Angkatan Lautnya hancur.

    Namun, menurut laporan Business Insider, Letnan Jenderal Korps Marinir James Adams, Direktur Badan Intelijen Pertahanan, menyatakan bahwa Iran masih memiliki ribuan rudal dan drone serang satu arah yang tetap menjadi ancaman bagi pangkalan AS dan sekutunya di Timur Tengah.

    Adams menyampaikan hal tersebut saat memberikan kesaksian di hadapan Komite Angkatan Bersenjata DPR AS pekan lalu.

    Menurut pejabat tersebut, Iran berhasil mempertahankan persenjataannya meskipun mengalami penurunan kemampuan akibat kerusakan dan penggunaan selama konflik.

    Pernyataan ini memperkuat hasil investigasi CNN sebelumnya, yang menemukan bahwa sekitar setengah dari peluncur rudal Iran masih utuh dan ribuan drone serang satu arah tetap tersimpan, meskipun wilayah tersebut dibombardir setiap hari oleh serangan AS dan Israel selama lebih dari lima minggu.

    Laporan itu juga menyebutkan bahwa sebagian besar rudal jelajah pertahanan pantai Iran masih dalam kondisi utuh.

    Baca juga: Trump Perpanjang Gencatan Senjata, Pejabat Iran: Taktik Mengulur Waktu untuk Serangan Mendadak

    Klaim tersebut konsisten dengan pernyataan AS bahwa serangan udara mereka tidak difokuskan pada aset militer pantai, meskipun sejumlah kapal telah diserang.

    Rudal-rudal tersebut menjadi kemampuan kunci yang memungkinkan Iran mengancam jalur pelayaran di Selat Hormuz.

    "Mereka masih sangat siap untuk menimbulkan kerusakan besar di seluruh wilayah," kata seorang sumber kepada CNN.

    Klaim AS atas Kerusakan yang Dialami Iran

    Mengutip NDTV, sejak 28 Februari, pasukan AS dan Israel telah melancarkan ribuan serangan udara di Iran dalam Operasi Epic Fury.

    Pada 1 April, Trump menyatakan bahwa kemampuan Iran untuk meluncurkan rudal dan drone telah berkurang drastis, serta pabrik senjata dan peluncur roket mereka hancur, menyisakan sangat sedikit yang masih berfungsi.

    Jenderal Angkatan Udara AS Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan, pada 8 April mengatakan bahwa militer AS telah menyerang lebih dari 450 fasilitas penyimpanan rudal balistik Iran dan 800 fasilitas penyimpanan drone serang satu arah.

    "Semua sistem ini telah hancur," ujarnya.

    Para pejabat AS juga mengklaim bahwa Iran tidak lagi memiliki infrastruktur industri untuk memproduksi rudal, peluncur, maupun drone.

    IRGC Isyaratkan Siap Lanjutkan Perang

    Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan kesiapannya untuk melanjutkan perang melawan AS dan Israel.

    Mengutip PressTV, dalam pernyataan yang menandai peringatan berdirinya IRGC pada Rabu (22/4/2026), organisasi tersebut menegaskan bahwa seluruh unsur pasukannya, termasuk Basij, siap menciptakan kejutan di luar perhitungan musuh dengan strategi baru di medan perang.

    “Dalam babak baru kemungkinan pertempuran militer, kami akan memberikan pukulan telak di luar imajinasi musuh terhadap aset mereka yang tersisa di wilayah tersebut,” kata IRGC.

    Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari, yang disebut telah menewaskan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Ali Khamenei serta menyerang berbagai target, termasuk situs nuklir, sekolah, rumah sakit, dan sinagoge di Teheran.

    Angkatan bersenjata Iran merespons dengan sekitar 100 gelombang serangan balasan dalam Operasi True Promise 4, meluncurkan ratusan rudal balistik, hipersonik, serta drone ke pangkalan militer AS di Asia Barat dan target Israel.

    Gencatan senjata yang awalnya berlaku selama dua minggu kini diperpanjang tanpa batas waktu, meskipun ketegangan tetap tinggi akibat ancaman blokade angkatan laut oleh AS dan kendali strategis Iran atas Selat Hormuz.

    Terkait operasi gabungan rudal dan drone terbaru, IRGC menyatakan bahwa serangan tersebut telah memberikan pukulan besar terhadap infrastruktur dan pusat strategis musuh.

    “Saat ini, dengan runtuhnya prestise kekuatan militer Amerika Serikat dan rezim Zionis, kawasan berada di ambang tatanan regional baru di Asia Barat tanpa kehadiran kekuatan asing,” tambahnya.

    (Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

    Komentar
    Additional JS