Trump Perpanjang Gencatan Senjata, Pejabat Iran: Taktik Mengulur Waktu untuk Serangan Mendadak - Tribunnews
Trump Perpanjang Gencatan Senjata, Pejabat Iran: Taktik Mengulur Waktu untuk Serangan Mendadak
Ringkasan Berita:
- Donald Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran sambil tetap mempertahankan blokade angkatan laut.
- Pakistan berperan sebagai mediator dan mendorong dimulainya kembali negosiasi dalam 24–48 jam.
- Pejabat Iran menilai perpanjangan tersebut hanya taktik AS untuk mengulur waktu sebelum melakukan serangan.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden AS Donald Trump mengatakan gencatan senjata diperpanjang hingga Iran mengajukan proposal terbaru berisi syarat-syarat untuk mengakhiri perang, serta hingga proses negosiasi selesai.
Namun, seperti dikutip dari Al Jazeera, Trump menegaskan bahwa blokade angkatan laut AS terhadap Iran akan tetap berlaku.
"Berdasarkan fakta bahwa Pemerintah Iran sangat terpecah belah, yang tidak mengejutkan, serta atas permintaan Marsekal Lapangan Asim Munir dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, kami diminta untuk menunda serangan terhadap Iran hingga para pemimpin dan perwakilan mereka dapat mengajukan proposal yang terpadu," kata Trump dalam unggahan di platform Truth Social miliknya.
Trump menambahkan, "Saya telah menginstruksikan Militer kita untuk melanjutkan Blokade dan, dalam segala hal lainnya, tetap siap dan mampu, dan oleh karena itu akan memperpanjang Gencatan Senjata sampai proposal mereka (Iran) diajukan."
Di sisi lain, Iran bersikeras bahwa blokade di Selat Hormuz merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata.
Iran juga menyatakan tidak akan bernegosiasi di bawah bayang-bayang ancaman atau selama blokade masih berlangsung.
Baca juga: Trump Perpanjang Gencatan AS–Iran, Ini Alasan di Balik Keputusan Krusialnya
Pakistan Dorong Pembicaraan Lanjutan dalam 48 Jam ke Depan
Sementara itu, Pakistan memainkan peran sentral dalam mengamankan perpanjangan gencatan senjata antara Iran dan AS.
Menurut Maria Sultan, Direktur Jenderal South Asian Strategic Stability Institute dan penasihat Kementerian Pertahanan Pakistan, negaranya telah memperingatkan kedua pihak bahwa alternatif dari diplomasi adalah perang.
“Jika gencatan senjata tidak diperpanjang, kita akan melihat peningkatan mendadak dalam situasi militer di kawasan Teluk,” kata Sultan kepada Al Jazeera.
“Hal itu dapat memperburuk situasi di Selat Hormuz, di mana terjadi peningkatan kehadiran pasukan militer AS,” lanjutnya.
Sultan menambahkan bahwa Pakistan telah terlibat dalam konsultasi intensif dengan AS dan Iran, serta mendorong dimulainya kembali keterlibatan langsung di Islamabad.
“Jika tidak ada negosiasi, perang mungkin menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa bagi kedua pihak,” ia memperingatkan.
Meski demikian, ia juga menyampaikan optimisme yang berhati-hati terkait kemungkinan dimulainya pembicaraan dalam waktu dekat.
“Kami masih sangat berharap bahwa negosiasi akan dimulai dalam 24 hingga 48 jam ke depan,” kata Sultan.
Ia menambahkan bahwa kedua pihak tampaknya memahami risiko yang dihadapi.
“Mereka memahami bahwa biaya dari tahap perang berikutnya akan sangat besar, bukan hanya bagi mereka, tetapi juga bagi kawasan dan ekonomi global.”
Pejabat Iran Remehkan Pengumuman Gencatan Senjata Trump
Di sisi lain, Mahdi Mohammadi, penasihat senior Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, mengejek perpanjangan gencatan senjata yang diumumkan Donald Trump.
Mengutip NDTV, ia menyatakan bahwa hal tersebut tidak berarti apa-apa dan pihak yang kalah tidak dapat mendikte persyaratan.
Menurut Mohammadi, kelanjutan “pengepungan” tidak berbeda dengan pemboman.
"Perpanjangan gencatan senjata Trump tidak berarti apa-apa. Pihak yang kalah tidak dapat mendikte persyaratan. Kelanjutan pengepungan tidak berbeda dengan pemboman dan harus ditanggapi dengan respons militer," tulisnya dalam unggahan di X.
"Terlebih lagi, perpanjangan gencatan senjata Trump jelas merupakan taktik untuk mengulur waktu demi serangan mendadak."
"Saatnya bagi Iran untuk mengambil inisiatif telah tiba."
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)