Armada Nyamuk Iran Bikin Pusing Angkatan Laut AS di Hormuz: Ribuan Kapal Serang Cepat Susah Dilacak - Tribunnews
Armada Nyamuk Iran Bikin Pusing Angkatan Laut AS di Hormuz: Ribuan Kapal Serang Cepat Susah Dilacak
Armada Nyamuk Iran Bikin Pusing Angkatan Laut AS di Hormuz: Ribuan Kapal Serang Cepat Susah Dilacak
TRIBUNNEWS.COM - Meskipun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim kalau AS telah "mengalahkan angkatan laut Iran" melalui gelombang serangan terhadap kapal perang, kapal selam, dan situs militer, Iran terus mengganggu Selat Hormuz — jalur penting bagi minyak global.
Faktanya, hingga kini, Iran masih mengendalikan selat strategis bagi jalur perdagangan dunia tersebut lewat blokade yang belum bisa dipatahkan angkatan laut AS.
Baca juga: Data Tunjukkan Iran Masih Kuat Lawan AS, Masoud Pezeshkian: Memang Siapa Trump? Ngatur-ngatur!
Alasannya, menurut para ahli, bukan terletak pada aset angkatan laut yang besar, tetapi pada "armada nyamuk" Iran yang tidak konvensional.
Armada nyamuk Iran ini terdiri dari ribuan kapal serang kecil dan cepat yang didukung oleh drone dan rudal pantai.
Strategi kawanan ini telah terbukti mampu mengguncang pasar global bahkan setelah kerusakan signifikan pada infrastruktur militer konvensional Teheran.
Apa Itu 'Armada Nyamuk' Iran?
Armada "nyamuk" Iran terdiri dari ribuan kapal serang kecil dan cepat yang dilengkapi dengan drone dan rudal pantai.
Menurut laporan NYT yang mengutip Congressional Research Service, armada tersebut mencakup ribuan kapal kecil berkecepatan tinggi yang mampu melaju dengan kecepatan 40 hingga 60 knot, dipersenjatai dengan senapan mesin, roket, dan, dalam beberapa kasus, rudal anti-kapal atau peralatan penebar ranjau.
Mantan pejabat Pentagon, Alex Plitsas, mengatakan, “Mereka menyebutnya 'armada nyamuk' karena ukurannya kecil dan mengganggu — dan mereka menyerang. Meski kecil, tapi mereka cukup kuat untuk menggigit dan menjengkelkan.”

Armada Pengubah Permainan
Beberapa pakar menilai, armada nyamuk Iran bisa berperan sebagai 'Game Changer' dalam pertempuran laut.
Tidak seperti kapal perang tradisional, kapal-kapal ini sulit dilacak dengan radar, mudah disembunyikan di sepanjang garis pantai Iran, dan cukup murah untuk dihilangkan tanpa konsekuensi strategis.
Sistem yang lebih kecil dan lebih sulit dilacak, seperti drone dan kapal serang cepat, lebih sulit dieliminasi karena ukuran, mobilitas, dan jumlahnya yang banyak.
Kapal-kapal ini mampu mengancam salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, Selat Hormuz, mengganggu pergerakan dan menciptakan tekanan ekonomi global tanpa menutupnya sepenuhnya.

Diremehkan Trump
Sementara pasukan AS fokus pada penghancuran kapal-kapal yang lebih besar, Trump mengakui bahwa "kapal serang cepat" yang lebih kecil sebagian besar diabaikan karena "tidak dianggap sebagai ancaman besar."
Namun, para ahli sekarang memperingatkan bahwa kapal-kapal itulah yang "menimbulkan masalah besar," yang mampu membuat transit melalui Selat terasa seperti perjudian.
"Mereka menyadari bahwa mereka tidak perlu benar-benar memasang ranjau di selat... [mereka] telah mampu mencekik jalur air strategis terbesar di dunia yang berisiko," kata Plitsas seperti dikutip dalam laporan NYT.
Selat Hormuz Tertutup
Pada hari Sabtu (18 April), Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan selat tersebut kembali ditutup dan berada di bawah "pengelolaan ketat."
Teheran menyebut blokade angkatan laut AS yang terus berlanjut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai "pelanggaran kepercayaan" dan pelanggaran perjanjian gencatan senjata.
Pada 17 April, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Presiden AS Donald Trump sama-sama menyatakan selat tersebut "sepenuhnya terbuka."
Iran telah setuju untuk membuka selat tersebut setelah gencatan senjata, tetapi menutupnya setelah Lebanon diserang oleh Israel.
AS kemudian memblokir Selat tersebut bagi kapal-kapal berentitas Iran, dari dan menuju ke Iran.
(oln/khbrn/*)