Jika Khamenei Digulingkan, Benarkah Warga Iran Ingin Rezim Shah Berkuasa Lagi? - Kompas
Jika Khamenei Digulingkan, Benarkah Warga Iran Ingin Rezim Shah Berkuasa Lagi?

TEHERAN, KOMPAS.com - Di tempat pengasingannya di Washington, Amerika Serikat, Reza Pahlavi tetap mengikuti jalannya aksi protes besar di Iran yang telah berlangsung sejak Desember 2025.
Ia bahkan terus mendesak rekan-rekan senegaranya untuk turun ke jalan.
Reza Pahlavi (65) adalah putra sulung dari Shah Mohammad Reza Pahlevi, pemimpin monarki Iran yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979.
Saat revoluasi terjadi, Reza yang merupakan pewaris pertama takhta Iran masih berusia 16 tahun.
Nama Pahlavi menggema di tengah aksi protes
Dalam aksi protes di Iran saat ini, sejumlah demonstran meneriakkan namanya dan berharap bisa kembali berkuasa.
"Ini adalah pertempuran terakhir. Pahlavi akan kembali!" bunti seruan yang paling menonjol dari aksi protes itu, dikutip dari CNN, Jumat (9/1/2026).
Pahlavi, yang berbasis di AS, telah berupaya memposisikan dirinya sebagai pemimpin de facto.
Namun, dukungan terhadap monarki yang digulingkan adalah hal tabu di Iran dan bisa dikategorikan pelanggaran pidana.
Ini merupakan sentimen yang sejak lama dikecam oleh masyarakat yang melancarkan pemberontakan rakyat untuk menggulingkan kediktatoran Shah.
Para analis mengatakan, masih belum jelas apa yang mendorong munculnya kembali antusiasme terhadap keluarga kerajaan dan Reza Pahlavi yang berada di pengasingan.
"Reza Pahlavi tidak diragukan lagi telah meningkatkan pengaruhnya dan telah menjadikan dirinya sebagai tokoh terdepan dalam politik oposisi Iran,” kata Arash Azizi, seorang akademisi dan penulis buku What Iranians Want.
"Namun, ia juga memiliki banyak masalah. Ia adalah sosok yang memecah belah, bukan sosok yang mempersatukan," sambungnya.
Reza Pahlavi kurang menarik bagi Trump
Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh AS mungkin juga telah membangkitkan semangat oposisi yang berharap rezim tersebut segera tumbang.
Rekaman di media sosial menunjukkan seorang demonstran mengubah nama jalan menjadi "Jalan Trump".
Namun, para analis menilai harapan tersebut mungkin keliru.
"Trump sedang mempertimbangkan pilihannya dan tidak ingin memberikan kredibilitas kepada seseorang sebelum mereka membuktikan bahwa mereka dapat menang," ujar Azizi.
"Pahlavi secara pribadi tidak memiliki kualitas yang menarik bagi Trump. Dia agak kutu buku dan kurang memiliki karisma pribadi yang dapat menarik perhatian seseorang seperti Trump," lanjutnya.
Pahlavi sendiri bersikap tidak pasti mengenai keterlibatannya dalam aksi protes Iran.
Ia mengaku bersedia memimpin Iran dalam masa transisi jika para demonstran berhasil menggulingkan rezim dalam demonstrasi ini.
Namun, Pahlavi tidak banyak memberikan detail tentang rencananya itu.
Warga Iran putus asa
Sementara itu, dukungan yang meluas di sekitar Pahlavi adalah tanda pasti bahwa Republik Islam Iran tampaknya telah mencapai jalan buntu.
Ekonominya telah terpuruk akibat korupsi dan sanksi selama bertahun-tahun.
Kaum muda merasa tidak nyaman di bawah pemerintahan konservatif dan penindasan kebebasan politik.
Jika rezim mencoba untuk menumpas pemberontakan secara kekerasan, seperti yang telah dilakukan sebelumnya, hal itu mereka berisiko menarik kemarahan Trump.
"Warga Iran tidak memilih (Pahlavi) karena dia hadir di tengah masyarakat, tetapi karena mereka putus asa," kata Vali Nasr, seorang ahli Iran dan profesor di Johns Hopkins University’s School of Advanced International Studies.
Pahlavi memanfaatkan nostalgia akan era sebelum Republik Islam.
"Banyak warga Iran yang lebih tua mengingat hari kelahiran saya dan betapa hebohnya euforia nasional saat itu," kata Pahlavi kepada The Wall Street Journal minggu ini.
"Tetapi sekarang di usia 65 tahun, warga Iran muda memanggil saya ayah. Itu adalah hal terbaik," tambahnya.
