0
News
    Home Dunia Internasional Featured Spesial Venezuela

    Raksasa Energi Global Berebut Peran untuk Kelola Minyak Venezuela - Beritasatu

    5 min read

     

    Raksasa Energi Global Berebut Peran untuk Kelola Minyak Venezuela

    Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:04 WIB
    AD
    AD
    AS berupaya menguasai cadangan minyak besar Venezuela pascapenangkapan Nicolas Maduro guna amankan pasokan energi global dan menurunkan harga bahan bakar dunia. (AP/AP)

    Jakarta, Beritasatu.com - Persaingan memperebutkan akses ekspor minyak mentah Venezuela ke Amerika Serikat (AS) memanas. Sejumlah raksasa energi dan perusahaan global dilaporkan berlomba mendapatkan kontrak dari pemerintah AS untuk memasarkan minyak negara Amerika Selatan tersebut, tak lama setelah penangkapan Nicolas Maduro.

    Beberapa sumber industri menyebut, perusahaan minyak besar seperti Chevron, bersama perusahaan energi Vitol dan Trafigura, termasuk di antara pihak yang aktif melobi Washington. Mereka mengincar peran strategis dalam ekspor minyak mentah Venezuela yang selama bertahun-tahun tertekan sanksi.

    BACA JUGA

    CSIS Nilai Serangan AS ke Venezuela Bentuk Kolonialisme Baru

    Persaingan ini mencerminkan besarnya minat industri energi global terhadap cadangan minyak Venezuela, yang merupakan salah satu terbesar di dunia. Pada sisi lain, pemerintah AS disebut ingin mengontrol penjualan minyak dan aliran pendapatan Venezuela dalam jangka panjang, sebagai bagian dari strategi geopolitik dan energi.

    AS Ingin Kendalikan Penjualan Minyak

    Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan keinginannya agar perusahaan-perusahaan AS mendapatkan akses penuh ke sektor energi Venezuela. Pernyataan ini disampaikan hanya beberapa hari setelah pasukan AS menangkap Nicolas Maduro dalam operasi yang mengguncang kawasan.

    “Perusahaan-perusahaan Amerika akan mendapat kesempatan membangun kembali infrastruktur energi Venezuela yang membusuk dan meningkatkan produksinya ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ucap dia.

    Pejabat AS menegaskan bahwa Washington berniat mengendalikan penjualan dan pendapatan minyak Venezuela tanpa batas waktu. Langkah ini diklaim bertujuan menekan korupsi, memperbaiki tata kelola, serta memastikan kepentingan AS di kawasan tetap terjaga.

    Dalam konteks tersebut, Vitol dan Trafigura dijadwalkan bergabung dengan Chevron dan sejumlah perusahaan minyak besar lain dalam pertemuan di Gedung Putih. Agenda utama pertemuan itu adalah membahas peran masing-masing pihak dalam masa depan industri minyak Venezuela.

    Rebutan Stok Minyak PDVSA

    Fokus awal perebutan kontrak adalah kesepakatan untuk memasarkan hingga 30–50 juta barel minyak mentah yang menumpuk di persediaan PDVSA, perusahaan negara milik Venezuela. Stok besar ini terakumulasi akibat embargo ketat, termasuk penyitaan sejumlah kapal tanker.

    PDVSA mengonfirmasi bahwa proses negosiasi sedang berlangsung, meski belum merinci detailnya. Bagi Chevron, situasi ini menjadi peluang sekaligus tantangan. Sebagai satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang masih memiliki kehadiran operasional di Venezuela, Chevron dinilai berada pada posisi strategis untuk memperluas lisensinya. Namun, untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, Chevron harus bersaing langsung dengan perusahaan asing lain.

    Menurut sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, PDVSA ingin memastikan mitra usaha patungan lama dan pelanggan terdahulu ikut dilibatkan. Tujuannya adalah melunasi sebagian utang, meningkatkan produksi, serta mendapatkan harga yang wajar untuk berbagai jenis minyak mentah Venezuela.

    Peran Trader Global Dinilai Krusial

    Masuknya perusahaan internasional dinilai memberi dimensi baru. Konsultan energi Jean-Francois Lambert menilai, perusahaan dagang besar memiliki keunggulan yang tidak selalu dimiliki perusahaan minyak murni.

    “Perusahaan minyak besar unggul dalam produksi, tetapi trader global membawa jangkauan internasional dan fleksibilitas logistik. Karena itu, masuk akal jika mereka aktif berdiskusi dengan pemerintah AS mengenai langkah selanjutnya,” ujarnya.

    Vitol, misalnya, disebut telah memperoleh izin awal dari pemerintah AS untuk memulai negosiasi impor dan ekspor minyak Venezuela selama 18 bulan. Sebelum sanksi diberlakukan pada 2019, Vitol dan Trafigura merupakan pemain utama dalam perdagangan minyak Venezuela dan memiliki armada kapal yang siap digerakkan dengan cepat.

    Infrastruktur Jadi Batu Sandungan

    Di balik potensi bisnis yang besar, tantangan teknis di lapangan tidak kecil. Bertahun-tahun minim investasi dan sanksi membuat infrastruktur energi Venezuela memburuk. Banyak kapal tanker tua digunakan sebagai penyimpanan terapung, sementara tangki penyimpanan di darat kurang terawat.

    Sumber perkapalan menyebut, proses pemindahan minyak dari kapal ke kapal atau ke darat berisiko tinggi karena keterbatasan peralatan, masalah asuransi, dan aturan tanggung jawab. Kondisi ini memaksa perusahaan mencari solusi logistik kreatif, termasuk transfer minyak di perairan negara tetangga seperti Aruba dan Curacao meski biayanya lebih mahal.

    Ambisi Besar, Keraguan Tetap Ada

    Trump bahkan menyebut ingin perusahaan AS menanamkan investasi hingga US$ 100 miliar untuk membangun kembali industri minyak Venezuela. Dalam pertemuan dengan eksekutif perusahaan seperti Exxon Mobil, ConocoPhillips, dan Chevron, Trump menyatakan produksi Venezuela bisa melonjak ke level yang belum pernah terlihat sebelumnya.

    Namun, analis dan pelaku industri tetap berhati-hati. Produksi minyak Venezuela kini hanya sekitar 1 juta barel per hari, jauh dari puncaknya di era 1970-an yang mencapai 3,5 juta barel per hari. Ketidakpastian politik, kualitas minyak yang berat, serta kondisi fasilitas menjadi faktor risiko utama.

    BACA JUGA

    Harga Minyak Naik, Pasar Waspadai Protes di Iran dan Ekspor Venezuela

    Namun, bagi kilang-kilang di Pantai Teluk AS yang dirancang untuk mengolah minyak berat, potensi kembalinya pasokan Venezuela tetap menjadi daya tarik besar.

    Dalam beberapa bulan ke depan, arah kebijakan Washington dan hasil negosiasi dengan perusahaan energi global akan menentukan apakah ambisi besar ini dapat terwujud atau justru tersandung realitas di lapangan.

    Komentar
    Additional JS