Ancaman Trump Dibalas Tegas, Panglima Militer Iran Klaim Siap Lawan AS - Kompas
Ancaman Trump Dibalas Tegas, Panglima Militer Iran Klaim Siap Lawan AS
TEHERAN, KOMPAS.com - Panglima militer Teheran pada Rabu (7/1/2026) memperingatkan Amerika Serikat, Iran kini jauh lebih siap dan kuat untuk menghadapi serangan apa pun.
Peringatan ini muncul setelah Presiden AS, Donald Trump pekan lalu mengancam akan turun tangan jika Iran membunuh demonstran.
"Republik Islam menganggap intensifikasi retorika semacam itu terhadap bangsa Iran sebagai ancaman dan tidak akan membiarkan kelanjutannya tanpa tanggapan," kata Panglima militer Iran, Mayor Jenderal Amir Hatami, dikutip dari Euronews.
"Saya dapat mengatakan dengan yakin bahwa kesiapan angkatan bersenjata Iran saat ini jauh lebih besar daripada sebelum perang. Jika musuh melakukan kesalahan, mereka akan menghadapi respons yang lebih tegas, dan kami akan memotong tangan setiap agresor," sambungnya.
Jenderal Amir mengatakan, pihaknya saat ini menghadapi ancaman ganda yang ditimbulkan oleh Israel dan AS.
Ancaman itu muncul di tengah aksi protes protes besar selama berhari-hari yang dipicu memburuknya kondisi dalam negeri.
Dalam upaya meredakan ketegangan, pemerintah Iran mulai memberikan subsidi kenaikan biaya kebutuhan pokok seperti beras, daging, dan pasta.
Para pemilik toko memperingatkan, harga barang-barang kebutuhan pokok seperti minyak goreng kemungkinan akan naik tiga kali lipat.
Ini merupakan akibat tekanan dari runtuhnya nilai tukar rial Iran dan berakhirnya nilai tukar dolar-rial bersubsidi preferensial untuk importir dan produsen.
Para aktivis dan kelompok hak asasi manusia mengatakan, sejauh ini 36 orang tewas dalam bentrokan dengan pasukan keamanan.
Demo tersebut berlangsung di seluruh kota-kota terbesar di negara itu, termasuk Teheran dan Isfahan.
Laporan tentang pihak berwenang yang menggunakan kekuatan mematikan untuk menekan para pengunjuk rasa dan membubarkan demonstrasi pertama kali muncul pekan lalu.
Hal ini mendorong Trump untuk mengeluarkan peringatan kepada Teheran agar berhenti membunuh para pengunjuk rasa damai atau menghadapi respons militer dari Washington.
Aksi protes dimulai karena inflasi terus melonjak di atas 40 persen.
Kondisi tersbut berkontribusi pada kenaikan pesat harga pangan, yang menurut para analis melebihi 72 persen.
Para pengunjuk rasa mengatakan, mereka akan terus berdemonstrasi sampai masalah mereka terselesaikan.