Iran Pasang 7 Syarat ke AS untuk Buka Kembali Selat Hormuz: Kapal Dagang Kena Proyektil- Tribunnews
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/KAPAL-PERANG-IRAN-Kapal-Shahid-Hassan-Bagheri.jpg)
Iran Pasang 7 Syarat ke AS untuk Buka Kembali Selat Hormuz: Kapal Dagang Kena Proyektil
Ringkasan Berita:
- Iran dilaporkan mengajukan tujuh syarat kepada AS sebagai prasyarat pembukaan kembali Selat Hormuz.
- Upaya Oman menjembatani Iran dan negara kawasan belum menjamin jalur pelayaran kembali normal.
- Gangguan Hormuz dan jalur alternatif Saudi berisiko menekan pasokan energi serta mendorong harga minyak global.
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan di Selat Hormuz memasuki babak baru.
Iran disebut telah menyampaikan tujuh syarat kepada Amerika Serikat (AS0 yang harus dipenuhi sebelum jalur pelayaran komersial di selat strategis tersebut kembali dibuka.
Informasi itu dilaporkan media Iran, Tasnim, dengan mengutip sumber yang disebut mengetahui persoalan tersebut.
Menurut laporan itu, daftar tuntutan telah mendapatkan persetujuan dari jajaran tertinggi politik dan keamanan Iran.
Iran disebut menyampaikan tuntutan tersebut melalui jalur perantara.
Teheran juga menegaskan kalau pembukaan Selat Hormuz tidak akan dilakukan hanya berdasarkan kesepakatan teknis dengan negara-negara kawasan.
Dengan kata lain, persoalan utama yang menyangkut kelancaran pelayaran di Hormuz masih dikaitkan langsung dengan hubungan Iran dan AS.
Iran Kaitkan Pembukaan Hormuz dengan Keputusan AS
Sumber yang dikutip Tasnim menyatakan Selat Hormuz akan tetap tertutup bagi pelayaran komersial normal sampai ketujuh syarat tersebut dipenuhi.
“Sampai tujuh syarat ini, yang telah disetujui pejabat tertinggi Iran, dipenuhi, Selat Hormuz akan tetap ditutup.”
Menurut sumber tersebut, keputusan mengenai kapan dan apakah jalur pelayaran itu dapat kembali dibuka pada akhirnya bergantung pada langkah yang diambil pemerintah AS.
Namun, laporan mengenai tujuh syarat tersebut belum merinci seluruh poin tuntutan Iran secara terbuka.
Karena itu, klaim mengenai isi dan status persyaratan tersebut perlu dibaca sebagai laporan dari sumber Iran, bukan sebagai kesepakatan yang telah dikonfirmasi Washington.
Situasi ini membuat upaya diplomasi melalui negara-negara kawasan menjadi semakin penting.
Oman Berusaha Menjembatani Ketegangan
Dalam beberapa waktu terakhir, Iran dan Oman melakukan pembicaraan mengenai keamanan maritim dan kemungkinan pengaturan jalur pelayaran.
Oman selama ini memiliki posisi penting dalam diplomasi kawasan karena memiliki hubungan dengan Iran sekaligus komunikasi dengan negara-negara Barat.
Negara tersebut juga kerap menjadi perantara dalam persoalan yang melibatkan Teheran dan Washington.
Akan tetapi, menurut laporan media Iran, kesepakatan teknis atau pengaturan jalur pelayaran dengan Oman tidak otomatis berarti Selat Hormuz akan dibuka sepenuhnya.
Iran membedakan pembahasan mengenai mekanisme transit regional dengan persoalan yang sedang dihadapi bersama AS.
Pada Senin, 14 September, negara-negara Teluk, Irak, dan Iran juga dijadwalkan menghadiri pertemuan yang dipimpin Oman untuk membahas usulan pengaturan transit di Selat Hormuz.
Meski demikian, pejabat Iran memperingatkan agar tidak terlalu berharap bahwa pertemuan tersebut akan langsung menghasilkan pembukaan jalur pelayaran secara umum.
Kapal Dagang Kembali Jadi Sasaran
Ketegangan di Hormuz juga meningkat setelah muncul laporan mengenai insiden baru yang melibatkan kapal komersial.
United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan pada Minggu, 13 September, kalau sebuah proyektil tak dikenal menghantam kapal yang sedang bergerak di kawasan Selat Hormuz.
Belum ada kepastian mengenai identitas proyektil, pihak yang melancarkannya, maupun tingkat kerusakan kapal dan kondisi seluruh awak.
Insiden tersebut menambah kekhawatiran terhadap keselamatan kapal-kapal yang melewati salah satu jalur laut paling penting bagi perdagangan energi dunia.
Bagi perusahaan pelayaran dan pasar energi, ketidakpastian semacam ini bisa sama seriusnya dengan penutupan fisik sebuah jalur laut.
Kapal dapat memilih menunda perjalanan, mengubah rute, atau menaikkan biaya asuransi dan operasional.
Mengapa Hormuz Sangat Penting?
Selat Hormuz berada di antara Iran di sisi utara dan Oman di sisi selatan.
Selat ini menjadi pintu utama yang menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan perairan internasional menuju Samudra Hindia.
Lebarnya memang tidak terlalu besar.
Pada bagian tertentu, jalur pelayaran hanya memiliki ruang sekitar dua mil untuk lalu lintas kapal di masing-masing arah.
Posisi tersebut membuat Hormuz menjadi salah satu chokepoint atau titik sempit paling strategis dalam perdagangan energi global.
Selama kondisi normal, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati kawasan ini. Hormuz juga menjadi jalur penting bagi ekspor gas alam cair (LNG) dari negara-negara produsen di kawasan Teluk.
Karena itu, gangguan berkepanjangan di Hormuz berpotensi menjalar jauh di luar kawasan Timur Tengah.
Risiko Bukan Hanya Harga Minyak
Jika kapal tanker kesulitan melintas, persoalannya bukan sekadar keterlambatan pengiriman minyak.
Gangguan pasokan dapat mendorong harga minyak mentah naik. Biaya transportasi dan produksi kemudian berpotensi meningkat, yang pada akhirnya dapat ikut menekan harga bahan bakar dan barang kebutuhan di berbagai negara.
Dampaknya juga bisa terasa di negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah.
Pasar biasanya bereaksi bahkan sebelum terjadi kelangkaan fisik. Kekhawatiran bahwa pasokan akan terganggu dapat mendorong kenaikan harga minyak dan premi risiko dalam waktu relatif cepat.
Dalam situasi saat ini, harga minyak Brent dilaporkan kembali menembus US$100 per barel.
Jalur Alternatif Saudi Ikut Terganggu
Tekanan terhadap jalur energi tidak hanya datang dari Hormuz.
Arab Saudi sebelumnya mengambil langkah menghentikan sementara operasi pipa East-West sepanjang sekitar 1.200 kilometer sebagai tindakan pencegahan setelah serangan drone.
Pipa tersebut memiliki kapasitas sekitar 4 juta hingga 5 juta barel per hari dan menjadi salah satu jalur alternatif Saudi untuk mengirim minyak tanpa melewati Selat Hormuz.
Artinya, ketika Hormuz terganggu dan jalur alternatif juga menghadapi masalah keamanan, ruang bagi negara-negara produsen untuk mengalihkan ekspor menjadi semakin terbatas.
Kondisi inilah yang membuat setiap perkembangan keamanan di Teluk mendapat perhatian besar dari pasar energi.
Konflik Meluas ke Titik Lain
Ketegangan juga tidak berhenti di Hormuz.
Kelompok Houthi di Yaman dilaporkan terlibat dalam perkembangan keamanan di kawasan Bab el-Mandeb, jalur lain yang sangat penting bagi pelayaran internasional.
Sementara itu, serangan di wilayah Saudi menambah tekanan terhadap negara-negara Teluk yang berada di sekitar konflik.
Menurut laporan yang sama, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman juga meminta bantuan militer AS dalam menghadapi ancaman Houthi melalui pembicaraan dengan Presiden AS Donald Trump.
Washington sejauh ini disebut memilih memberikan dukungan intelijen dan belum mengambil langkah intervensi langsung.
Trump juga mengatakan perwakilan Houthi telah menghubungi pemerintahannya dan meminta AS tidak terlibat secara langsung.
Rangkaian perkembangan tersebut menunjukkan bahwa gangguan pelayaran di kawasan Timur Tengah kini tidak berdiri sendiri. Hormuz, Bab el-Mandeb, jalur pipa Saudi, dan keamanan kapal dagang saling berkaitan dalam satu rantai risiko energi.
Negosiasi Iran-AS Masih Buntu
Di tengah meningkatnya tekanan di laut, komunikasi antara Tehran dan Washington juga belum menunjukkan terobosan.
Negosiasi formal kedua negara dilaporkan mandek setelah kesepakatan singkat pada Juni. Iran menilai dialog tidak akan efektif jika AS belum bersedia menerima tuntutan Tehran.
Salah satu persoalan paling sensitif adalah klaim Iran mengenai hak pengendalian dan pemungutan biaya transit di Selat Hormuz.
Posisi semacam itu berhadapan dengan kepentingan AS dan negara-negara lain yang menginginkan jalur tersebut tetap terbuka bagi pelayaran internasional.
Di sinilah persoalan Hormuz menjadi lebih rumit. Ini bukan sekadar persoalan apakah kapal tanker boleh melintas atau tidak, melainkan menyangkut siapa yang memiliki kewenangan atas salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia.
Masa Depan Hormuz Bergantung pada Diplomasi
Pertemuan yang difasilitasi Oman menjadi salah satu upaya untuk mencegah situasi berkembang menjadi krisis energi yang lebih besar.
Namun, jika laporan mengenai tujuh syarat Iran benar dan Tehran tetap menjadikan pemenuhan tuntutan tersebut sebagai prasyarat pembukaan Hormuz, ruang kompromi dengan Washington masih cukup sempit.
Untuk saat ini, pasar energi harus menghadapi dua ketidakpastian sekaligus: kapan Selat Hormuz dapat kembali berfungsi normal dan seberapa lama jalur alternatif mampu menanggung beban jika gangguan berlanjut.
Jika diplomasi gagal meredakan ketegangan, dampaknya berpotensi tidak berhenti di Timur Tengah. Kenaikan harga minyak, biaya pengiriman, hingga tekanan inflasi dapat ikut dirasakan negara-negara yang berada ribuan kilometer dari kawasan konflik.