Harga Solar Melonjak, Trump Minta Zelensky Hentikan Serangan ke Kilang Rusia - Tribunnews
Ringkasan Berita:
- Presiden AS, Donald Trump meminta Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky menghentikan serangan terhadap kilang minyak dan diesel Rusia karena dinilai mengganggu pasokan bahan bakar.
- Trump mengaitkan gangguan pasokan Rusia dengan lonjakan harga solar, yang rata-rata di AS mencapai rekor 6,05 dolar AS per galon.
- Permintaan Trump disampaikan saat pasar energi global juga tertekan akibat konflik AS-Israel dengan Iran dan gangguan di Selat Hormuz.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump meminta Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky menghentikan serangan terhadap kilang diesel dan minyak Rusia.
Trump menilai serangan Ukraina terhadap fasilitas energi Rusia mengganggu pasokan bahan bakar dan ikut mendorong kenaikan harga solar di tengah krisis energi global.
Anadolu Agency melaporkan, Trump menyampaikan permintaan tersebut kepada Zelensky saat berbicara kepada wartawan di atas pesawat Air Force One dalam perjalanan kembali ke Washington, DC dari Irlandia, Minggu (13/9/2026).
“Masalah yang saya hadapi dengan Ukraina dan Rusia adalah bahwa sebagian besar solar berasal dari Rusia, dan pabrik-pabrik Rusia terkena dampak dari Ukraina,” kata Trump.
“Saya telah meminta Presiden Zelensky untuk tidak menyerang pabrik diesel dan kilang minyak.”
Trump mengatakan, gangguan terhadap produksi dan distribusi solar Rusia membuat pasokan bahan bakar semakin sulit diperoleh.
“Harga solar melonjak karena kesulitan mengimpornya dari Rusia, dan itu merugikan dunia. Kita harus menghentikannya,” ujarnya.
Serangan Ukraina Sasar Kilang Rusia
Permintaan Trump disampaikan setelah Ukraina meningkatkan serangan terhadap fasilitas energi Rusia dalam beberapa hari terakhir.
Baca juga: Rusia Tawarkan 1,5 Juta Rubel untuk Rekrut Warga Asing Berperang di Ukraina
Ukraina melancarkan serangan terhadap sejumlah kilang minyak di Siberia pada Kamis (10/9/2026), yang menyebabkan gangguan pasokan bahan bakar di Rusia.
Salah satu serangan menargetkan Nizhnekamsk, yang menjadi lokasi sejumlah kilang minyak utama Rusia.
Serangan drone lainnya menghantam kilang minyak penting di Slavyansk-on-Kuban, wilayah Krasnodar, Rusia, dekat Krimea.
Gangguan terhadap fasilitas tersebut kemudian mendorong Rusia melakukan serangan balasan terhadap sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di wilayah perkotaan.
Trump mengatakan, dirinya telah membicarakan masalah tersebut dengan Zelensky dan meminta Ukraina mengalihkan serangannya ke target lain.
“Tuan Zelensky harus melakukan satu hal,” kata Trump.
“Dia harus berhenti melumpuhkan bahan bakar diesel di Rusia. Kami telah berbicara dengan Tuan Zelensky tentang hal itu. Ada banyak target lain. Jangan serang bahan bakar diesel, karena itu merugikan, itu merugikan dunia.”
Trump kembali menegaskan bahwa sulitnya memperoleh pasokan dari Rusia menjadi salah satu faktor yang mendorong harga solar naik.
“Dan jika memang demikian, itu merugikan dunia,” lanjut Trump. “Kita harus menghentikannya.”
Harga Solar Tembus Rekor
Dampak kenaikan harga bahan bakar terlihat di Amerika Serikat.
The Hill melaporkan, harga rata-rata solar di AS mencapai rekor 6,05 dolar AS per galon pada Jumat (11/9/2026).
Baca juga: Serangan Drone Rusia Hampir Bunuh Eks PM Inggris, Lokomotif Ukraina Meledak di Perbatasan Polandia
Angka tersebut, naik sekitar 63 persen dibandingkan harga 3,71 dolar AS per galon pada periode yang sama tahun sebelumnya, menurut data AAA.
Kenaikan harga solar diperkirakan meningkatkan biaya transportasi dan kemudian mendorong kenaikan harga berbagai kebutuhan sehari-hari.
Di saat yang sama, pasukan Rusia juga meningkatkan serangan terhadap Ukraina menggunakan rudal balistik dan drone bertenaga jet.
Serangan Rusia menyasar jaringan listrik Ukraina menjelang musim dingin.
Krisis Energi Global Makin Tertekan
Kenaikan harga solar dan gangguan pasokan Rusia terjadi ketika pasar energi global juga menghadapi tekanan akibat konflik AS-Israel dengan Iran.
Harga gas turut melonjak dalam lebih dari enam bulan sejak konflik tersebut dimulai.
Iran membatasi jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Gangguan di Selat Hormuz memengaruhi harga energi sekaligus meningkatkan risiko kekurangan bahan bakar bagi maskapai penerbangan dan bandara di berbagai negara.
AS dan Iran masih berada dalam kebuntuan terkait selat tersebut, meskipun kedua pihak telah melakukan serangan terhadap kapal dan pangkalan di kawasan itu.
Media pemerintah Iran pada Minggu (13/9/2026) melaporkan sebuah kapal Iran terkena “proyektil tak dikenal”, dengan mengutip Gubernur Qeshm Hossein Amir Teymoori.
Trump sebelumnya mengatakan konflik tersebut akan berakhir setelah pemilihan paruh waktu AS.
Baca juga: Putin Peringatkan Pasukan NATO di Ukraina Berarti Perang dengan Rusia
Ia juga memperkirakan harga gas akan “turun drastis” setelah konflik berakhir.
Pada Minggu, Trump bahkan mengemukakan kemungkinan AS memasuki Iran dan “mempertahankan minyak, seperti Venezuela”, dengan merujuk pada kesepakatan minyak AS dengan negara Amerika Selatan tersebut.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)