Iran Tegaskan Tak Akan Buka Selat Hormuz, Minta AS Penuhi Syarat-Syarat Termasuk Kompensasi Perang - Tribunnews
Ringkasan Berita:
- Iran telah memberlakukan blokade efektif terhadap Selat Hormuz sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang pada akhir Februari 2026.
- Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan diskusi dengan Oman mengenai transit dan pengelolaan Selat Hormuz mendekati tahap akhir.
- Namun, Iran tidak akan membuka Selat Hormuz sampai Amerika Serikat memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan Teheran.
TRIBUNNEWS.COM - Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan mereka tidak akan membuka kembali Selat Hormuz yang vital bagi perekonomian dunia, Minggu (9/8/2026)
Iran menegaskan tidak akan membuka Selat Hormuz sampai Amerika Serikat (AS) memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan Teheran sehari sebelumnya, termasuk kompensasi atas kerusakan perang.
Iran telah memberlakukan blokade efektif terhadap Selat Hormuz sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang pada akhir Februari 2026.
Teheran juga ingin mengenakan biaya tol untuk pelayaran, menyerang kapal-kapal yang dituduhnya mencoba menghindari rute yang diinginkannya.
Serangan berkelanjutan di jalur air tersebut, yang bebas dilalui sebelum perang, menyebabkan runtuhnya gencatan senjata bulan April.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan diskusi dengan Oman mengenai transit dan pengelolaan Selat Hormuz "mendekati tahap akhir", dilansir Arab News.
Namun, Abbas Araghchi menambahkan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz "tergantung pada syarat dan kompensasi lain atas pelanggaran" perjanjian Juni 2026.
Araghchi pun membantah pada hari Minggu bahwa Iran sedang bernegosiasi dengan Amerika Serikat.
Ia mengatakan bahwa mereka hanya "bertukar pesan" melalui perantara.
Baca juga: Misi Tak Kunjung Usai, Perang Iran Seret USS Abraham Lincoln, Ribuan Tentara Kelelahan di Laut
Tuntutan Iran ke AS
Kepala keamanan Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, menyampaikan daftar tuntutan untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Tuntutan itu termasuk mengakhiri “perang dan agresi terhadap Iran dan sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak”.
Mohammad Bagher Zolghadr juga menuntut pencabutan blokade balasan AS terhadap pelabuhan Iran, pengakhiran sanksi, pelepasan aset yang dibekukan, dan kompensasi atas kerusakan akibat perang, menurut pernyataan yang dilaporkan oleh kantor berita Tasnim.
AS, yang menginginkan kesepakatan yang dapat diterima terlebih dahulu mengenai selat tersebut sebelum mengakhiri blokade, tidak memberikan komentar langsung.
Menurut kesepakatan sementara yang ditandatangani pada bulan Juni, jadwal untuk mengakhiri sanksi dan rencana kompensasi akan menjadi bagian dari kesepakatan akhir, dan negosiasi akan membahas aset yang dibekukan.

Diberitakan AP News, Iran mengatakan pihaknya hampir mencapai kesepakatan terpisah dengan Oman untuk mengelola selat yang membentang di antara kedua negara tersebut.
Oman, negara Teluk Arab yang berperan sebagai mediator dan relatif kurang berkomentar mengenai perundingan tersebut, menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa diskusi sedang berlangsung “dalam suasana yang positif dan konstruktif,” dan mengutuk serangan terhadap kapal-kapal di selat tersebut.
Selat Hormuz, yang sangat penting bagi pasokan minyak dan gas alam global, dianggap sebagai jalur air internasional sebelum perang.
Kesepakatan yang sedang diupayakan Iran dan Oman untuk diselesaikan bersifat sementara, tetapi akan membuka kembali selat tersebut dengan kapal-kapal yang memasuki selat melalui jalur yang dekat dengan Iran dan keluar melalui jalur yang dekat dengan Oman.
Informasi ini menurut dua orang yang mengetahui pembicaraan tersebut dan berbicara dengan syarat anonim karena mereka tidak berwenang untuk berbicara di depan umum.
Baca juga: Soal Peran Houthi di Timur Tengah, Pakar: Iran Terapkan Prinsip Plausible Deniability
Kapal-kapal akan melintasi selat tanpa membayar biaya atau tol selama periode sementara tersebut.
Kesepakatan ini dirancang untuk memulihkan perjanjian terpisah sebelumnya antara AS dan Iran dan memulai kembali jangka waktu 60 hari bagi kedua negara untuk bernegosiasi mengenai program nuklir Iran.
Selama periode tersebut, Iran diperkirakan akan dapat menjual minyak.
Batas waktu 60 hari saat ini untuk menegosiasikan kesepakatan akhir akan berakhir dalam waktu kurang lebih seminggu.
Menurut dua orang yang berbicara tentang pembicaraan tersebut, kesepakatan itu didukung oleh anggota Dewan Kerja Sama Teluk dan diharapkan, setelah diselesaikan, akan diumumkan bersama oleh Iran, Oman, AS, dan Organisasi Maritim Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Namun, orang-orang tersebut menekankan bahwa ketentuan-ketentuan tersebut masih dapat berubah sebelum kesepakatan tersebut difinalisasi.
(Tribunnews.com/Nuryanti)