Ekonomi AS Mendadak Melambat ke 1,5%, Warga Amerika Justru Makin Konsumtif? - SindoNews
Makin mudah baca berita nasional dan internasional.
Kamis, 30 Juli 2026 - 22:53 WIB
Ekonomi Amerika Serikat (AS) secara mengejutkan mengalami perlambatan signifikan pada kuartal kedua tahun 2026. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Ekonomi Amerika Serikat (AS) secara mengejutkan mengalami perlambatan signifikan pada kuartal kedua tahun 2026. Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa produk domestik bruto (PDB) Negeri Paman Sam -julukan AS- hanya tumbuh di tingkat tahunan sebesar 1,5% pada periode April hingga Juni 2026.
Raihan tersebut meleset jauh dari prediksi analis yang memproyeksikan pertumbuhan bertahan di level 2%. Capaian ini menandai penurunan dari kuartal pertama yang mencatatkan pertumbuhan 2,1%, di tengah tekanan ganda akibat kecamuk perang versus Iran serta guncangan tarif impor .
Misteri Konsumsi Warga: Harga Bahan Pokok & Bensin Naik, Belanja Tetap Melesat
Meskipun laju ekonomi melambat akibat penurunan belanja pemerintah, investasi, dan nilai ekspor, sektor konsumsi rumah tangga -yang menopang lebih dari dua pertiga perekonomian AS- justru menunjukkan daya tahan luar biasa.
Baca Juga: 60 Negara Resmi Kena Tarif Impor Baru Trump, Ini Dampaknya ke Dompet Warga AS
Pengeluaran konsumen melonjak ke angka 3,2% pada kuartal terakhir, naik drastis dari 0,5% di awal tahun. Meskipun inflasi harga konsumen mencapai 3,5% hingga Juni, masyarakat AS tetap agresif berbelanja barang otomotif (terutama truk ringan), furnitur, hingga obat-obatan resep.
"Data pertumbuhan ini sejatinya mengecilkan kekuatan asli perekonomian AS. Rumah tangga Amerika terbukti mampu mengabaikan (shrug off) tekanan anggaran akibat melambungnya harga bahan bakar," pangkas Bradley Saunders, Ekonom Kuzut Amerika dari Capital Economics.
Harga Bensin Tembus USD4 per Galon & Dilema Bos Baru The Fed
Eskalasi konflik militer di Timur Tengah menjadi pemicu utama kenaikan harga energi global. Harga minyak mentah acuan Brent bertengger pada kisaran USD90 per barel, yang secara otomatis mendongkrak harga bensin di SPBU Amerika Serikat kembali melewati USD4 per galon.
Baca Juga: Elon Musk Sebut AS 1.000% Bakal Bangkrut: Utang Amerika Tembus Rp713.684 Triliun
Di tengah melesatnya Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) sebesar 3,7% -ukuran inflasi favorit Federal Reserve- Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh menegaskan, bahwa tidak ada "tongkat sihir" untuk memangkas kenaikan harga secara instan. Bank sentral pun memutuskan untuk menahan suku bunga acuan lima kali berturut-turut.
Investasi AI Masih Jadi Motor Utama
Kendati pertumbuhan ekonomi menipis, para ekonom melihat titik terang dari sektor riil dan teknologi. Michael Pearce, Chief US Economist di Oxford Economics memproyeksikan pertumbuhan AS akan kembali melonjak di atas 2% pada akhir tahun.
Meskipun impor microchip AI yang tinggi membuat kontribusi bersihnya terhadap PDB tampak moderat, demam investasi berbasis AI tetap menjadi motor penggerak terbesar perekonomian Amerika saat ini. Disusul oleh mulai bangkitnya investasi pada industri non-teknologi.
Apakah ketahanan konsumsi warga Amerika ini mampu bertahan di tengah ancaman kenaikan harga energi akibat perang, ataukah AS berada di ambang resesi tersembunyi?.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rekomendasi
Infografis

Presiden AS Donald Trump Kecam Serangan India ke Pakistan
Terpopuler
1
2
3
4
5





