Trump Hina Bangsa Iran di KTT NATO, IRGC Balas dengan Peluncuran Rudal ke Markas AS - Tribunnews
Hubungan Iran dan Amerika Serikat kembali membara setelah Presiden AS Donald Trump secara sepihak mengakhiri kesepakatan gencatan senjata.
Tayang:
Tribunnews.com/Generated by AI/Grok
ILUSTRASI - Ilustrasi bendera Amerika Serikat dan Iran yang dibuat menggunakan Grok AI.
Ringkasan Berita:
- Menlu Iran Abbas Araqchi kecam hinaan vulgar Donald Trump di KTT NATO dan tegaskan Teheran akan membalas lewat tindakan nyata.
- Usai Trump akhiri gencatan senjata secara sepihak, militer Iran rilis rekaman rudal yang hantam 85 titik pangkalan militer AS.
- Situasi Timur Tengah membara setelah Iran bom markas Armada Kelima AS di Bahrain sebagai respons atas agresi udara Washington.
TRIBUNNEWS.COM - Hubungan Iran dan Amerika Serikat kembali membara setelah Presiden AS Donald Trump secara sepihak mengakhiri kesepakatan gencatan senjata dan melontarkan hinaan rasial terhadap bangsa Iran.
Menanggapi provokasi tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araqchi, menegaskan bahwa Teheran tidak akan menurunkan derajatnya untuk membalas retorika vulgar Trump dengan kata-kata, melainkan langsung dengan tindakan militer yang nyata.
Ketegangan ini memuncak di sela-sela KTT NATO di Ankara, Turki.
Baca juga: China: Menyalakan Lagi Perang Amerika dan Iran Tak Menguntungkan Siapa Pun
Dalam pernyataannya, Trump secara blak-blakan menyebut para negosiator Iran "gila" (cuckoo), serta melabeli bangsa Iran sebagai "kotoran" (scum) dan "orang-orang sakit".
Frustrasi karena menilai Iran melanggar komitmen denuklirisasi, Trump mengumumkan bahwa kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya dimediasi di Islamabad telah berakhir.
Trump pun mengancam akan menggempur wilayah Iran jauh lebih keras.
Merespons hinaan tersebut, Menlu Araqchi langsung melayangkan kecaman keras melalui akun media sosial X miliknya.
"Menggunakan bahasa yang merendahkan terhadap bangsa Iran yang beradab dan pemberani tidak akan mengurangi kebesaran mereka. Kami tidak menjawab kevulgaran dengan kevulgaran, melainkan dengan tindakan, tanpa rasa takut dan dengan keberanian yang besar," tulis Araqchi, seperti dikutip Fars News.
Ucapan Araqchi bukan gertakan sambal. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) langsung merilis rekaman video yang menunjukkan serangan rudal dan drone besar-besaran terhadap aset-aset militer strategis AS di Timur Tengah.
Operasi gabungan angkatan laut dan kedirgantaraan IRGC tersebut menargetkan 85 situs militer AS, termasuk Pelabuhan Salman dan markas Armada Kelima AS di Bahrain, serta Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait.
Pihak Iran menyatakan pemboman tersebut merupakan balasan atas agresi udara AS sebelumnya yang menyasar fasilitas sipil dan pangkalan pantai di Provinsi Hormozgan Selatan dan kota Mahshahr.
Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth berdalih bahwa serangan udara semalam dilakukan untuk menghancurkan fasilitas bawah tanah penyimpanan drone, situs radar, serta kapal-kapal kecil Iran yang kerap mengganggu jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Meski situasi kian kritis, Hegseth menyatakan pasukan AS di Timur Tengah berada dalam posisi siap tempur penuh dan menunggu perintah instan dari Trump untuk meluncurkan serangan susulan yang jauh lebih dalam ke jantung pertahanan Iran.
“Malam ini, jika diperlukan, atas perintah Anda, Bapak Presiden, kami akan menyerang lebih banyak lagi, lebih dalam lagi, karena itulah konsepnya,” katanya seperti diberitakan NBC News.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ilustrasi-Iran-Amerika-Serikat-bendera-124fdasfa.jpg)