Gedung Putih Bela Penanganan Visa Iran di Piala Dunia 2026 - Kompas
KOMPAS.com - Pihak Gedung Putih secara resmi memberikan pembelaan terkait kebijakan pembatasan visa yang diterapkan kepada Timnas Iran selama ajang Piala Dunia 2026.
Andrew Giuliani, pejabat tinggi yang memimpin Gugus Tugas Gedung Putih, menegaskan bahwa keputusan tim untuk memilih Tijuana, Meksiko, sebagai markas utama merupakan langkah yang saling menguntungkan bagi semua pihak yang terlibat dalam turnamen ini.
Meski sempat muncul berbagai keluhan dari Federasi sepak Bola Iran (FFIRI) selama babak penyisihan grup, Gedung Putih bersikeras bahwa logistik lintas batas antara Amerika Serikat (AS) dan wilayah sekitarnya telah berjalan dengan baik.
Otoritas AS menekankan bahwa penempatan tim di luar negeri bukanlah sebuah hambatan, melainkan strategi yang memang telah disepakati bersama guna memastikan kelancaran administrasi.
Iran Bersumpah Akan Balas Serangan AS
Pilihan Logistik dan Markas Tim
Baca juga: Iran Sindir AS dan Trump Usai Belgia Lolos 8 Besar Piala Dunia 2026
Giuliani menjelaskan bahwa keputusan untuk bermarkas di Tijuana, alih-alih di Tucson seperti rencana awal, sepenuhnya merupakan pilihan yang didukung oleh berbagai pihak.
Ia menolak anggapan bahwa pihaknya sengaja mempersulit posisi tim Iran.
"Penting untuk ditegaskan bahwa Iran memilih untuk pergi ke Tijuana. Kami senang dengan pilihan itu," kata Andrew Giuliani dikutip dari Reuters, Kamis (9/7/2026).
Baca juga: Jelang Meksiko vs Inggris, Three Lions Siapkan Latihan dan Jadwal Khusus
"Saya pikir orang Meksiko sangat senang dengan pilihan itu. Saya pikir orang Iran, seperti yang mereka katakan, juga sangat senang dengan pilihan itu."
"Saya pikir apa yang kami coba lakukan di Gugus Tugas Gedung Putih ini adalah menerapkan akal sehat untuk memastikan para atlet bisa bermain adil di lapangan."
Polemik Visa dan Keamanan
Terkait keluhan tim Iran yang merasa menjadi "tim yang paling tertindas" karena pembatasan masuk ke wilayah AS, Giuliani membela pengaturan perjalanan yang diterapkan.
Baca juga: Pejabat AS Mengaku Gembira dan Menari Usai Iran Tersingkir dari Piala Dunia
Menurutnya, batasan waktu masuk ke wilayah AS disesuaikan dengan durasi perjalanan logistik agar tercipta kesetaraan bagi seluruh tim.
"Di Los Angeles, mereka bisa datang sehari lebih awal untuk pertandingan. Sebagai perbandingan, di AS, mereka berada di Orange County."
"Mereka naik bus, perjalanan bus yang lebih lama daripada penerbangan untuk tim Iran," tegas Andrew Giuliani.
Pembatasan tersebut kemudian dilonggarkan saat pertandingan ketiga di Seattle.
"Untuk Seattle, dibutuhkan dua hari karena kami tahu penerbangan itu memakan waktu sedikit lebih dari tiga jam," ujarnya melanjutkan.
Baca juga: Nestapa Iran di Piala Dunia 2026: Ditindas Tuan Rumah, Gagal ke 32 Besar
"Jadi kami ingin memastikan mereka memiliki hari tambahan itu agar kami dapat mencapai kesetaraan."
Di sisi lain, kebijakan ini juga disebut sebagai langkah preventif untuk memastikan bahwa tidak ada individu yang terafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memanfaatkan ajang olahraga ini untuk masuk ke wilayah AS.
Pemerintah Meksiko melalui Presiden Claudia Sheinbaum menyatakan dukungannya dengan mengizinkan tim tersebut tinggal di wilayah mereka.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Merasa Disabotase di Piala Dunia, Iran: AS Tidak Pantas Jadi Tuan Rumah Lagi