Analis: Blokade Laut Houthi terhadap Arab Saudi Berpotensi Picu Eskalasi Horizontal - Tribunnews
Ringkasan Berita:
- Kelompok Houthi di Yaman mengumumkan blokade laut terhadap kapal Arab Saudi sebagai balasan atas serangan bandara yang menargetkan delegasi mereka.
- Analis menilai langkah ini menandakan eskalasi konflik, terutama karena Bab el-Mandeb kini dikuasai Houthi dan berisiko memicu perang lebih luas.
- Meski ketegangan meningkat, peluang diplomasi antara Amerika Serikat, Iran, dan mediator Saudi masih terbuka, dengan Selat Hormuz menjadi kunci penentu arah konflik.
TRIBUNNEWS.COM – Langkah kelompok Houthi di Yaman untuk mengumumkan blokade laut terhadap pelabuhan dan kapal-kapal Arab Saudi dinilai berpotensi memperluas konflik di Timur Tengah.
Langkah tersebut disebut sebagai aksi balasan atas serangan terhadap landasan pacu bandara yang digunakan delegasi Houthi beberapa hari sebelumnya.
Analis Senior Indo Pacific Strategic Intelligence, Fauzia Cempaka Timur, menjelaskan bahwa ketegangan meningkat setelah delegasi Houthi kembali dari menghadiri pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Menurut Fauzia, landasan pacu bandara yang menjadi tujuan pendaratan rombongan Houthi dibombardir oleh pemerintah Yaman untuk menghambat kepulangan mereka.
"Salah satu landasan pacu di bandara yang akan digunakan rombongan Houthi dibom oleh pemerintah Yaman untuk menghentikan delegasi ini kembali. Meskipun pada akhirnya delegasi tersebut berhasil mendarat di bandara lain," ujar Fauzia dalam program Sapa Indonesia Malam KompasTV Selasa (21/7/2026).
Ia mengatakan serangan tersebut memicu friksi antara pemerintah Yaman dan Houthi.
Kelompok Houthi meyakini pemboman itu mendapat dukungan dari Arab Saudi.
"Retaliasi yang terjadi saat ini pada penutupan Bab el-Mandeb dilakukan sebagai pembalasan pada pemboman landasan pacu yang dilakukan beberapa hari lalu," katanya.

Bab el-Mandeb adalah selat sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia, terletak di antara Yaman di Semenanjung Arab dan Djibouti serta Eritrea di Tanduk Afrika.
Selat ini dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia karena menjadi pintu masuk menuju Terusan Suez dan menyalurkan sekitar 12 persen perdagangan global.
Fauzia menilai aksi tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya eskalasi konflik di kawasan.
Baca juga: Kecam Houthi yang Ancam Blokade Laut, Arab Saudi Bisa Ikut Terseret Perang AS-Iran
"Saya melihat ada tiga hal yang sangat menandakan eskalasi akan meningkat dan salah satunya terkait bagaimana proksi Bab el-Mandeb yang saat ini dikuasai Houthi," ujarnya.
Ia menambahkan, dukungan publik terhadap Houthi juga semakin terlihat dengan adanya ratusan orang yang turun ke jalan mendukung penutupan jalur pelayaran strategis tersebut.
Houthi Dinilai Mulai Merealisasikan Ancamannya
Menurut Fauzia, ancaman penutupan Bab el-Mandeb sebenarnya sudah beberapa kali disampaikan pimpinan Houthi sejak akhir Februari hingga Juni.
Namun, rencana tersebut sebelumnya belum direalisasikan.
"Sudah dua sampai tiga kali pemerintah atau pimpinan Houthi menyatakan siap mengaktivasi penutupan Bab el-Mandeb, namun tidak dilakukan sampai akhirnya tercapai Burgenstock Agreement," katanya.
Burgenstock Agreement adalah kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang ditandatangani di resor Burgenstock, Swiss, pada akhir Juni 2026.
Fauzia menyebut blokade yang diumumkan saat ini menjadi realisasi pertama setelah memasuki babak baru konflik usai serangan Amerika Serikat pada 7 Juli lalu.
"Ini menunjukkan bagaimana ternyata Houthi memang bisa saja melakukan realisasi," ujar Fauzia.
Meski saat ini sasaran blokade hanya kapal berbendera Arab Saudi, ia mengingatkan adanya risiko salah identifikasi terhadap kapal negara lain.
"Jika kapal lain juga mengalami hal demikian meskipun bukan berbendera Saudi Arabia, maka ini akan menjadi full scale of war yang artinya eskalasi yang sifatnya horizontal tidak akan terelakkan," katanya.
Arab Saudi Hadapi Dilema
Fauzia menilai Arab Saudi kini berada dalam posisi sulit.
Di satu sisi Riyadh masih membuka peluang menjadi mediator antara Amerika Serikat dan Iran, namun di sisi lain negara itu kini menjadi target langsung dampak konflik.
"Saudi Arabia tidak menutup pintu negosiasi atau sebagai pihak yang melakukan mediasi terhadap kembalinya Amerika Serikat dan Iran ke meja perundingan," ujarnya.
Namun, menurutnya, blokade Houthi kini tidak lagi hanya menyasar aspek militer, tetapi juga kepentingan ekonomi Arab Saudi.
"Sebelumnya yang terdampak adalah pangkalan militer Amerika Serikat di Saudi. Sekarang yang terdampak adalah kebutuhan ekonominya karena kapal-kapalnya yang akan lewat ditutup," kata Fauzia.
Ia juga mengingatkan bahwa jalur alternatif menuju Bab el-Mandeb banyak bergantung pada wilayah Arab Saudi.
"Kalau betul-betul ditutup oleh Houthi tentu akan berdampak luar biasa terhadap Arab Saudi sendiri," ujarnya.
Diplomasi Masih Terbuka
Di tengah meningkatnya ketegangan, Fauzia menilai peluang diplomasi masih tetap ada karena baik Iran maupun Amerika Serikat masih menyampaikan sinyal untuk kembali berunding.
Ia menjelaskan bahwa pernyataan mengenai kemungkinan terjadinya perang besar kini tidak hanya datang dari kalangan militer Iran, tetapi juga disampaikan oleh Presiden Iran.
"Ketika disampaikan oleh pimpinan sipil, terlebih presiden, konsekuensi eskalasinya tentu lebih tinggi dibanding jika hanya disampaikan oleh pimpinan militer," katanya.
Meski demikian, ia mengatakan kedua negara masih menyampaikan komitmen untuk membuka ruang negosiasi.
"Statement ini disampaikan setidaknya oleh pihak Iran maupun Amerika Serikat. Mediator termasuk Saudi Arabia juga menjadi pihak yang menyampaikan gagasan-gagasan untuk kembali lagi ke meja perundingan," ujarnya.
Selat Hormuz Jadi Kunci Perundingan
Fauzia menilai pembahasan mengenai Selat Hormuz akan menjadi faktor utama yang menentukan berhasil atau tidaknya upaya deeskalasi konflik.
Menurutnya, Amerika Serikat menginginkan jalur pelayaran utara dan selatan Selat Hormuz kembali beroperasi seperti semula, sedangkan Iran menghendaki hanya jalur utara yang berada di bawah pengawasannya yang digunakan.
"Dari Amerika Serikat ingin kembali ke posisi awal, sedangkan Iran menginginkan hanya jalur utara yang diatur oleh Iran sendiri," jelasnya.
Karena itu, ia meyakini penyelesaian sengketa terkait Selat Hormuz akan menjadi penentu arah konflik ke depan.
"Pertanyaannya apakah Selat Hormuz ini akan menjadi poin penentu? Saya setuju," pungkas Fauzia.
"Karena ini yang memang menjadi sumbat dan ini juga yang menjadi penentu."
"Kalau kita lihat satu hal yang dilakukan Araghchi (Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, red) ketika serangan gelombang Amerika Serikat sampai ke gelombang tiga dan empat adalah dia pergi ke Oman."
"Jadi ini yang menandakan sebenarnya betapa pentingnya diskusi antara Oman dan isu Hormuz ini sebagai penentu apakah ini akan bereskalasi atau justru akan terdeeskalasi"
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)