Iran Menilai Blokade AS Jadi Salah Satu Alasan Kesepakatan Sulit Dicapai - Tribunnews
Iran Menilai Blokade AS Jadi Salah Satu Alasan Kesepakatan Sulit Dicapai
Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka selama blokade laut, penyanderaan ekonomi, dan agresi militer AS masih berlangsung
Ringkasan Berita:
- Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa pemerintahannya selalu menyambut baik dialog perdamaian, namun pemerintahan Presiden AS Donald Trump terus merusak upaya tersebut.
- Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa blokade laut AS di Selat Hormuz adalah pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata.
- Ghalibaf menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka selama blokade laut, penyanderaan ekonomi, dan agresi militer (dari AS dan Israel) masih berlangsung
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Iran menegaskan bahwa pihaknya selalu terbuka terhadap upaya perdamaian dengan Amerika Serikat (AS).
Namun demikian, Iran menilai upaya tersebut akan sulit terealisasi selama pemerintahan Presiden AS Donald Trump terus merusak jalannya pembicaraan damai.
Hal ini disampaikan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian melalui sebuah unggahan di platform X (sebelumnya Twitter) pada Kamis dini hari WIB (23/4/2026).
Presiden Iran tersebut menekankan bahwa pemerintahannya selalu menyambut baik dialog dan kesepakatan.
Meski demikian, Pezeshkian menilai langkah tersebut tak akan memberikan progres untuk pembicaraan damai selama kebijakan yang diterapkan oleh pihak AS hingga saat ini terus menjadi hambatan terbesar.
Lebih lanjut, ia memberikan pernyataan tegas mengenai mandeknya diplomasi antara kedua belah pihak.
"Republik Islam Iran telah menyambut baik dialog dan kesepakatan dan terus melakukannya. Pelanggaran komitmen, blokade, dan ancaman adalah hambatan utama bagi negosiasi sejati." buka Pezeshkian melalui akun @drpezeshkian.
"Dunia melihat retorika munafik Anda (Trump) yang tak ada habisnya dan kontradiksi antara klaim dan tindakan.." pungkas Pezeshkian.
Blokade AS jadi Sorotan
Baca juga: Detail 3 Kapal yang Ditahan Iran, Salah Satunya Diduga Terafiliasi Israel
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran sekaligus Kepala Delegasi Perundingan putaran pertama di Islamabad, Mohammad Bagher Ghalibaf, turut angkat bicara.
Ia menyatakan bahwa blokade maritim yang dilakukan AS di Selat Hormuz merupakan bentuk pelanggaran nyata terhadap kesepakatan yang ada.
Hal ini disampaikan oleh Ghalibaf dalam unggahan media sosial miliknya.
Ghalibag menilai ada tiga perkara besar yang menghambat negosiasi Iran dan AS dalam gencatan senjata selama ini.
"Gencatan senjata penuh hanya memiliki arti jika tidak dilanggar oleh blokade laut ,dan penyanderaan ekonomi global, dan jika hasutan perang Zionis di semua lini dihentikan" terang Ghalibaf,
Selama tiga masalah tersebut tak terselesaikan, Ghalibaf menilai pembukaan Selat Hormuz tak akan bisa dilakukan.

"Pembukaan kembali Selat Hormuz tidak mungkin dilakukan di bawah pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata tersebut," pungkas Ghalibaf.
Dalam keterangan tambahannya mengenai pihak-pihak yang menekan Teheran yang merujuk pada Amerika Serikat dan Israel, Ghalibaf menyebut bahwa "mereka" tidak akan bisa menundukkan Iran dengan cara apa pun.
"Mereka tidak akan mencapai tujuan mereka melalui agresi militer, dan mereka juga tidak akan mencapainya melalui paksaan. Satu-satunya jalan adalah menerima hak-hak bangsa Iran." tegasnya.
(Tribunnews.com/Bobby)