Iran Masih “Kebal”! Klaim Simpan 170 Juta Barel Cadangan Minyak di Tengah Blokade AS - Tribunnews
Iran Masih “Kebal”! Klaim Simpan 170 Juta Barel Cadangan Minyak di Tengah Blokade AS
Ringkasan Berita:
- Ekspor minyak AS melonjak tajam hingga 5,44 juta barel per hari pada April 2026 dan diproyeksikan naik lagi pada Mei, menjadi rekor tertinggi dalam sejarah.
- Asia menjadi pasar utama, menyerap hingga 3,29 juta barel per hari, hampir tiga kali lipat dibanding awal tahun, akibat gangguan pasokan dari Timur Tengah.
- Meski ekspor AS meningkat, pasar global tetap kekurangan pasokan karena hilangnya minyak dari kawasan Timur Tengah jauh lebih besar daripada tambahan dari Amerika.
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Iran mengklaim masih memiliki cadangan minyak dalam jumlah besar meski menghadapi blokade militer Amerika Serikat.
Cadangan tersebut diperkirakan mencapai 160 hingga 170 juta barel, yang saat ini tersimpan di ratusan kapal tanker di berbagai wilayah dunia.
Mantan analis Iran di Congressional Research Service, Kenneth Katzman, menyebut bahwa sebagian besar minyak tersebut telah melewati Selat Hormuz sebelum blokade diberlakukan. Saat ini, pasokan tersebut berada di laut dan siap dikirim kapan saja.
“Pasokan ini berada di kapal-kapal di seluruh dunia dan menunggu untuk dikirim,” ujar Katzman, mengutip dari Daily Star.
Senada dengan klaim pemerintah Iran, perusahaan analisis energi global Vortexa merilis data yang menunjukkan bahwa sekitar 10,7 juta barel minyak mentah Iran berhasil keluar dari area blokade dalam periode 13 hingga 21 April.
Pengiriman tersebut dilakukan menggunakan enam kapal tanker, dengan sebagian diantaranya mematikan sistem pelacakan otomatis (AIS) guna menghindari pemantauan.
Lalu Lintas Menurun, Tekanan Tetap Terasa
Meski masih ada pergerakan, penurunan aktivitas pelayaran mulai terlihat di jalur distribusi minyak Iran setelah Amerika Serikat memperketat blokade militer di kawasan strategis.
Vortexa menjelaskan bahwa blokade yang diberlakukan Amerika Serikat sejak 13 April tidak dilakukan secara statis di satu titik, melainkan diterapkan secara fleksibel di wilayah laut yang luas.
Area pengawasan mencakup sekitar 300 mil perairan, mulai dari perbatasan Iran-Pakistan hingga wilayah Oman, sehingga pengawasan dilakukan secara dinamis.
Baca juga: Italia Ngamuk! Usulan Gantikan Iran di Piala Dunia 2026 Disebut Memalukan dan Tidak Pantas
Dalam periode 13 hingga 22 April, tercatat sedikitnya 35 pergerakan kapal yang terkait dengan Iran berhasil melintasi area pengawasan, baik untuk masuk maupun keluar.
Imbasnya jumlah kapal tanker yang melintas kini hanya berkisar 1 hingga 2 kapal per hari, menurun dari sebelumnya sekitar 2 hingga 3 kapal per hari sebelum kebijakan tersebut diberlakukan.
Ini terjadi karena tekanan yang meningkat membuat aktivitas pengiriman menjadi lebih terbatas dan berisiko tinggi.
Kapal-kapal yang tetap mencoba melintas harus menghadapi kemungkinan dicegat atau dipaksa menghentikan perjalanan, sehingga berdampak langsung pada penurunan volume lalu lintas.
Situasi ini menjadi perhatian global mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur vital yang dilalui sebagian besar pasokan energi dunia.
Di tengah kondisi tersebut, Iran diketahui masih memiliki cadangan minyak yang cukup untuk beberapa bulan kedepan. Namun, keterbatasan distribusi akibat pengawasan ketat berpotensi mempengaruhi stabilitas pasokan energi global.
Sejumlah analis menilai langkah Iran menyimpan minyak di kapal tanker merupakan strategi taktis untuk menjaga pemasukan di tengah tekanan sanksi.
Meski demikian, efektivitas strategi tersebut sangat bergantung pada kemampuan distribusi di lapangan yang kini berada di bawah pengawasan ketat militer AS.
Amerika Panen dari Perang Iran
Sementara itu, tak mau kalah dengan Iran pemerintah AS mengeklaim ekspor minyak mentahnya mencatat lonjakan signifikan di tengah terganggunya pasokan energi global akibat konflik Iran dan lumpuhnya jalur strategis Selat Hormuz.
Pemerintah AS melaporkan bahwa banyak negara kini mengalihkan pembelian minyak ke Amerika, sehingga arus pengiriman dari kawasan Teluk Meksiko hingga Pantai Timur AS bergerak deras menuju pasar internasional, terutama ke wilayah timur.
Kondisi tersebut mendorong peningkatan ekspor minyak mentah AS ke level tertinggi dalam sejarah. Berdasarkan laporan Kpler yang dikutip Reuters, ekspor minyak AS mencapai 5,44 juta barel per hari pada April 2026 dan diperkirakan naik menjadi 5,48 juta barel per hari pada Mei 2026. Angka ini jauh di atas capaian awal tahun yang masih berada di bawah 4 juta barel per hari.
Namun, kenaikan tersebut belum mampu sepenuhnya menutup kekurangan pasokan global dari Timur Tengah. Dampak konflik dan terganggunya Selat Hormuz membuat arus minyak dunia menyusut signifikan, terutama ke kawasan Asia yang menjadi wilayah paling terdampak.
Asia sendiri tercatat menyerap porsi besar ekspor minyak AS, dengan volume mencapai 2,27 juta barel per hari pada April dan melonjak menjadi 3,29 juta barel per hari pada Mei.
Meski demikian, total perdagangan minyak via laut ke Asia justru mengalami penurunan, dari 24,87 juta barel per hari pada Februari menjadi 14,8 juta barel per hari pada April 2026.
Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun Amerika Serikat “diuntungkan” dari lonjakan permintaan global, pasar energi dunia masih berada dalam kondisi defisit pasokan.
Hilangnya suplai dari Timur Tengah dinilai jauh lebih besar dibandingkan tambahan produksi dan ekspor dari AS, sehingga ketidakseimbangan energi global masih terus berlanjut.
(Tribunnews.com / Namira)