Dikritik, Putra Netanyahu Diminta Diusir dari AS dan Didesak Ikut Perang Iran - Viva
VIVA –Mantan kepala strategi Presiden AS Donald Trump, Steve Bannon, melontarkan pernyataan keras terhadap putra Perdana Menteri Israel, Yair Netanyahu, serta anggota keluarga kerajaan negara-negara Teluk. Bannon menilai mereka seharusnya ditempatkan di garis depan invasi Iran sebelum pasukan Amerika Serikat dikerahkan.
Yair yang berusia 34 tahun, diketahui telah menghabiskan waktu lama di luar Israel sejak 7 Oktober 2023, meskipun ia memenuhi syarat untuk bertugas di cadangan militer Israel. Menurut Ynet News, pada Februari lalu Yair tinggal di Miami bersama ibunya, Sara.
“Anak Netanyahu di Miami, usir besok juga. Mana Departemen Keamanan Dalam Negeri saat kita butuh mereka? Usir dia. Kembalikan ke sana. Pasang seragamnya. Biarkan dia jadi gelombang pertama,” kata Bannon dalam podcast War Room, merujuk pada Departemen Keamanan Dalam Negeri AS seperti dikutip dari laman Middle East Eye, Rabu 1 April 2026.
Pernyataan Bannon ini diposting secara online pada hari Senin, setelah Channel 12 Israel melaporkan bahwa Israel tidak akan mengirim pasukan ke Iran meski AS melancarkan invasi darat.
Israel diyakini telah melobi AS untuk menyerang Iran, bahkan Sekretaris Negara Marco Rubio mengatakan bahwa AS melancarkan serangan karena Israel berniat menyerang meski akan menempatkan pasukan Amerika dalam bahaya.
Negara-negara Teluk Arab, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar, awalnya melobi Trump agar tidak menyerang Iran. Namun negara-negara ini menjadi sasaran ribuan serangan misil dan drone sebagai balasan Iran atas perang AS-Israel. Beberapa negara Teluk akhirnya bergerak mendukung serangan AS, yang dimulai pada 28 Februari lalu.
Middle East Eye menjadi media pertama yang mengungkap bahwa Arab Saudi membuka Pangkalan Udara King Fahd untuk AS. Khususnya UEA secara terbuka mendorong balasan agresif AS atas penguasaan Selat Hormuz oleh Iran. Duta Besar UEA untuk AS, Yousef al-Otaiba, menolak “gencatan senjata sederhana” dengan Iran pekan lalu.
‘Keluar dari kasino dan rumah bordil di London’
Bannon mengatakan bahwa setiap negara Arab yang ingin invasi darat AS juga seharusnya mengirim pasukannya sendiri. Ia menyinggung para penguasa Teluk yang hidup mewah sementara pasukan AS bersiap untuk dikerahkan.
“Biarkan orang Arab ikut. Saya ingin orang Arab. Saya ingin UEA… MBZ, yang terbaik yang mereka punya di sana, dan dia punya tentara sungguhan… tidak terlalu besar, tapi mereka benar-benar tahu cara bertempur. Pulau Kharg, itu targetmu, ayo!” kata Bannon, merujuk pada Presiden UEA Mohamed bin Zayed.
“Tambahkan beberapa pangeran Qatar. Masukkan juga pangeran Arab Saudi. Keluarkan mereka dari London. Keluarkan mereka dari kasino dan rumah bordil di London dan kembalikan mereka ke Teluk,” sambung dia.
Bannon diketahui sudah lama mengkritik intervensi AS. Ia menjadi penasihat utama kampanye presiden Trump pada 2016, yang menekankan penolakan terhadap perang asing. Ia juga menjabat sebagai kepala strategi Trump selama pemerintahan pertamanya sebelum mundur pada 2017.
Ini bukan pertama kalinya Bannon menyoroti Israel dan negara-negara Teluk, karena ia berusaha menyeimbangkan dukungan terhadap Trump dengan menyalurkan kemarahan populis terhadap intervensi AS.
“Orang Israel main-main dengan kita. Orang Arab main-main dengan kita. Orang Eropa main-main dengan kita. Dan kita ngapain? Kita mengirim pasukan ke sana, yang itu wajar. Presiden Trump butuh opsi dan alternatif untuk menegosiasikan Operasi Victory. Saya ingin orang Arab di garis depan, gelombang pertama di Pulau Kharg, kirim UEA,” katanya awal bulan Maret lalu.
Bannon sebelumnya menentang serangan AS ke Iran pada Juni. Ia sering mengkritik Israel sebagai protektorat AS, tetapi berhati-hati untuk tidak menentang keputusan Trump menyerang Iran secara langsung. Ia pernah mengatakan bahwa kampanye pemboman Israel bertentangan dengan tujuan Trump yakni menjatuhkan Republik Islam tapi tetap menjaga Iran tetap utuh.