Saat Dunia Menolak, Trump Tetap Maju ke Jurang Iran - Republika
Saat Dunia Menolak, Trump Tetap Maju ke Jurang Iran
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Langit Timur Tengah kembali memerah, bukan oleh senja, melainkan oleh bayang-bayang keputusan yang belum diambil sepenuhnya. Di Washington, ruang-ruang kekuasaan dipenuhi kalkulasi, sementara di Teheran, kewaspadaan berubah menjadi kesiagaan. Dunia menahan napas, menunggu satu langkah yang bisa mengubah peta geopolitik, serangan darat Amerika Serikat ke Iran.
Desakan kepada Donald Trump untuk melancarkan operasi darat kian menguat, terutama setelah bombardemen udara dan serangan rudal belum juga melumpuhkan militer dan rezim Iran. Namun, di balik dorongan itu, tersimpan dilema besar yang tak mudah diselesaikan.
Sejatinya, opsi serangan darat bukanlah keputusan mendadak. Sejak awal, Amerika Serikat telah mempertimbangkan skenario klasik, merangkul kelompok minoritas untuk membuka jalan invasi, sebagaimana dilakukan di Afghanistan pada 2001 dan Irak pada 2003. Saat itu, aliansi dengan Tajik, Hazara, Uzbek, dan Kurdi menjadi pintu masuk kekuatan militer AS.
Namun, skenario itu kini kandas. Kelompok Kurdi menolak kembali menjadi sekutu, trauma oleh pengalaman lama ketika mereka merasa ditinggalkan setelah membantu AS melawan ISIS dan rezim Bashar al-Assad. Di sisi lain, opsi merangkul kelompok Baluch juga menemui jalan buntu akibat penolakan Pakistan. Strategi “divide et impera” yang selama ini menjadi buku teks intervensi Amerika, kali ini tak lagi menemukan pijakan.
Dalam kebuntuan itu, Trump beralih pada opsi yang lebih berisiko, operasi darat terbatas. Sekitar 10.000 personel dikerahkan, terdiri dari Unit Ekspedisi Marinir, pasukan lintas udara Divisi ke-82, hingga unit elit seperti Baret Hijau dan Delta Force. Jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan invasi Irak 2003 yang melibatkan 150.000 tentara.
Skalanya yang terbatas memberi isyarat bahwa tujuan operasi bukan pendudukan penuh, melainkan serangan presisi terhadap titik-titik strategis. Pulau Kharg yang menjadi jantung ekspor minyak Iran, Pulau Qeshm yang diduga pusat pengembangan rudal, hingga Pulau Larak yang mengunci Selat Hormuz menjadi target utama. Sementara itu, pasukan lintas udara diproyeksikan menyusup jauh ke dalam wilayah Iran untuk menghantam fasilitas nuklir di Isfahan.
Namun, Iran bukan Irak, dan bukan pula Afghanistan.
Teheran telah lama membaca pola ini. Mobilisasi hingga satu juta tentara menjadi sinyal bahwa Iran tidak akan menghadapi konflik ini secara defensif semata. Ancaman perluasan medan perang pun dilontarkan, dari Yaman hingga Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab, jalur vital perdagangan global yang menghubungkan Asia dan Eropa.
Halaman 2 / 4

Lebih dari itu, Iran belajar. Dari Vietnam, Irak, hingga Afghanistan, mereka menyerap pelajaran tentang bagaimana kekuatan besar bisa terjebak dalam perang panjang yang melelahkan.
Dukungan militer dari China dan Rusia, termasuk suplai rudal anti-kapal, semakin memperkuat posisi mereka. Ranjau anti-personel dan anti-tank telah dipasang, sementara Korps Garda Revolusi yang berpengalaman di Lebanon dan Suriah siap menghadapi skenario terburuk.
Yang dihadapi Amerika bukan sekadar militer, melainkan kombinasi antara strategi, ideologi, dan semangat nasionalisme. Seperti Vietnam puluhan tahun lalu, perang bisa berubah menjadi gerilya panjang yang menguras energi dan legitimasi.
Di dalam negeri Amerika sendiri, resistensi mulai mengeras. Mayoritas publik menolak perang di Iran. Survei menunjukkan 61 persen warga AS tidak mendukung konflik tersebut, bahkan di kalangan pemilih Partai Republik, dukungan terhadap serangan darat sangat terbatas. Demonstrasi “No Kings” di berbagai negara bagian menjadi simbol ketidakpuasan yang meluas.
Halaman 3 / 4
Tekanan juga datang dari elite politik. Sejumlah anggota legislatif, termasuk dari Partai Republik, mulai meragukan langkah invasi darat. Kekhawatiran akan jatuhnya korban besar di pihak militer AS bukan hanya persoalan kemanusiaan, tetapi juga risiko politik menjelang pemilu sela.
Di sisi lain, perang ini berpotensi mengguncang ekonomi global. Negara-negara Teluk telah mengalami kerugian miliaran dolar akibat serangan terhadap infrastruktur energi. Komitmen ekonomi mereka terhadap Amerika, yang mencapai 2 triliun dolar AS, terancam terganggu. Bahkan China, sebagai importir utama minyak Iran, memiliki kepentingan langsung terhadap stabilitas kawasan, terutama di Pulau Kharg.

Di titik ini, pilihan Trump tampak seperti jalan buntu. Menyerang berarti membuka risiko besar, mundur berarti kehilangan tekanan. Negosiasi pun bukan lagi opsi yang mudah, mengingat Iran telah kehilangan kepercayaan setelah pengalaman sebelumnya dengan Washington.
Beberapa pengamat menyebut situasi ini sebagai kondisi tanpa jalan keluar. Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius bahkan menilai Trump tidak memiliki strategi keluar yang jelas.
Halaman 4 / 4

Di antara semua kemungkinan itu, satu hal menjadi terang, ini bukan lagi soal siapa yang lebih kuat, melainkan siapa yang mampu bertahan lebih lama.
Dan dalam permainan panjang geopolitik, terkadang yang terjebak bukanlah pihak yang diserang, melainkan pihak yang memulai langkah pertama.
Di tengah ketegangan ini, dunia menyaksikan bukan hanya potensi perang, tetapi juga potret klasik kekuasaan, ketika ambisi bertemu realitas, dan keputusan besar justru melahirkan kebuntuan yang lebih besar.