Berunding di Washington, Pemerintah Lebanon dan Israel Sepakat Lucuti Senjata Hizbullah - Republika
Berunding di Washington, Pemerintah Lebanon dan Israel Sepakat Lucuti Senjata Hizbullah
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON— Pada Selasa (14/4/2026) malam, di ibu kota Amerika Serikat, Washington, putaran pembicaraan langsung antara Lebanon dan Israel telah berakhir.
Pembicaraan ini, yang melibatkan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, merupakan yang pertama dari jenisnya dan bertujuan utama untuk membahas kemungkinan tercapainya gencatan senjata dan penghentian Israel, di tengah eskalasi terus-menerus oleh Israel di wilayah selatan Lebanon.
Pembicaraan yang digelar di markas Departemen Luar Negeri AS tersebut dihadiri oleh Duta Besar Israel untuk Washington Yehiel Leiter, Duta Besar Lebanon untuk Washington Nada Hamadeh Mouawad, serta Duta Besar AS untuk Beirut Michel Issa.
Kesepakatan melucuti senjata Hizbullah
Sebuah pernyataan bersama AS-Lebanon-Israel, setelah berakhirnya sesi pembicaraan, menyebutkan para pihak sepakat memulai negosiasi langsung di tempat dan waktu yang akan ditentukan kemudian.
Sementara Lebanon menyerukan gencatan senjata dan mengambil langkah-langkah untuk menangani krisis kemanusiaan yang parah.
Pernyataan tersebut menyebutkan bahwa Washington menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata harus dilakukan di bawah naungannya dan bukan melalui jalur terpisah, sekaligus menegaskan negosiasi tersebut dapat membuka peluang bagi bantuan untuk rekonstruksi Lebanon.
Halaman 2 / 4
Pernyataan bersama tersebut menyebutkan bahwa Washington menegaskan Israel memiliki hak untuk membela diri terhadap Hizbullah, dan menyatakan dukungannya terhadap rencana pemerintah Lebanon untuk memulihkan monopoli senjata dan mengakhiri pengaruh Iran.
Pernyataan tersebut juga mencatat bahwa Israel menegaskan komitmennya untuk bekerja sama dengan pemerintah Lebanon guna melucuti senjata kelompok-kelompok non-pemerintah.
Sementara Lebanon menekankan perlunya melaksanakan perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani pada November 2024.
Menanggapi putaran pembicaraan tersebut, Duta Besar Israel untuk Washington, Yehiel Lighter, mengatakan pihaknya sepakat dengan pihak Lebanon untuk membebaskannya dari pasukan pendudukan Iran, yaitu Hizbullah.
"Kami telah menyampaikan kepada pihak Lebanon bahwa keamanan warga sipil bukanlah bahan negosiasi," kata dia menambahkan.
Leiter juga mengklaim Hizbullah berada dalam kondisi terlemahnya, dan pemerintah Lebanon tidak menanggapi sikapnya yang menolak negosiasi, sambil menekankan perlunya pemisahan total antara Lebanon dan Iran, menurutnya.
Dalam konteks ini, seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS mengatakan kepada Aljazeera bahwa pembicaraan antara Lebanon dan Israel merupakan bagian dari upaya untuk mencegah Iran memaksakan kehendaknya.
Dia menekankan bahwa tidak ada hubungan antara pembicaraan AS-Iran dan pembicaraan Israel-Lebanon.
Halaman 3 / 4
Pejabat AS tersebut menegaskan dukungan Washington terhadap pelucutan senjata Hizbullah secara total.
"Hizbullah adalah organisasi teroris yang tidak layak memiliki tempat dan harus dilucuti senjatanya," kata dia.
Dia juga menyebutkan Iran telah menyeret rakyat Lebanon ke dalam perang, dan tidak bisa berpura-pura menjadi pelindung Lebanon.
"Iran tidak akan diizinkan memaksakan kehendaknya terhadap masa depan Lebanon," ujar dia menambahkan.
Selain itu, pejabat AS tersebut mengatakan Washington telah menyetujui alokasi 58,8 juta dolar AS untuk program-program kemanusiaan bagi pengungsi Lebanon.
Dia menjelaskan bantuan tersebut akan difokuskan pada pemenuhan kebutuhan yang menyelamatkan nyawa para pengungsi.
Sebelum dimulainya pembicaraan, Menteri Luar Negeri AS meredam ekspektasi, dan mengatakan semua isu yang kontroversial antara kedua belah pihak tidak akan terselesaikan dalam enamjam.
Halaman 4 / 4
Sementara Presiden Lebanon Joseph Aoun mengutarakan harapannya agar pembicaraan tersebut berkontribusi dalam mengakhiri penderitaan rakyat Lebanon, menurut pernyataan kepresidenan.
Di lapangan, tentara Israel terus melancarkan serangan intensif terhadap desa-desa, kota-kota, dan pemukiman di selatan Lebanon, sementara Hizbullah membalas dengan menyerang kota-kota dan pemukiman di utara Israel, serta kelompok-kelompok tentara yang masuk ke wilayah selatan Lebanon.
Sejak 2 Maret lalu, Israel melancarkan serangan militer ke Lebanon, yang mengakibatkan lebih dari 2.000 orang gugur serta ribuan lainnya terluka dan mengungsi.