0
News
    Home Amerika Serikat Berita Donald Trump Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Trump Sebut Iran Ogah Akui Ikut Negosiasi karena Takut: Mereka Mengira Akan Dibunuh Rakyat Sendiri - Tribunnews

    9 min read

     

    Trump Sebut Iran Ogah Akui Ikut Negosiasi karena Takut: Mereka Mengira Akan Dibunuh Rakyat Sendiri - Tribunnews.com

    Ringkasan Berita:
    • Trump mengatakan Iran ikut serta dalam perundingan perdamaian.
    • Trump mengulangi pernyataannya bahwa Iran sedang “dihancurkan” dalam konflik yang kini memasuki minggu keempat.
    • Menurut Trump, penolakan Teheran untuk mengakuinya disebabkan oleh ketakutan para negosiator Iran akan dibunuh oleh pihak mereka sendiri.

    TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Iran ikut serta dalam perundingan perdamaian, Rabu (25/3/2026).

    Menurut Trump, penolakan Teheran untuk mengakuinya disebabkan oleh ketakutan para negosiator Iran akan dibunuh oleh pihak mereka sendiri.

    Komentar Presiden AS itu muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa “kami tidak berniat untuk bernegosiasi.”

    “Mereka sedang bernegosiasi, dan mereka sangat ingin mencapai kesepakatan. Tetapi mereka takut untuk mengatakannya, karena mereka mengira akan dibunuh oleh rakyat mereka sendiri,” kata Trump dalam sebuah jamuan makan malam untuk anggota Kongres dari Partai Republik, Rabu, dilansir Al Arabiya.

    “Mereka juga takut akan dibunuh oleh kita," klaim Presiden AS.

    Trump mengulangi pernyataannya bahwa Iran sedang “dihancurkan” dalam konflik yang kini memasuki minggu keempat, meskipun Teheran masih mempertahankan kendali efektif atas jalur minyak Selat Hormuz yang sangat penting.

    Menyerang lawan-lawan domestiknya, Trump juga mengklaim bahwa Partai Demokrat mencoba untuk “mengalihkan perhatian dari semua keberhasilan luar biasa yang kita raih dalam operasi militer ini.”

    Dalam sindiran terhadap seruan dari Partai Demokrat agar ia meminta persetujuan Kongres untuk konflik tersebut, Trump menambahkan:

    “Mereka tidak suka kata 'perang,' karena Anda seharusnya mendapatkan persetujuan, jadi saya akan menggunakan kata operasi militer.”

    Gedung Putih sebelumnya mengatakan bahwa Trump siap untuk “melepaskan malapetaka” jika Iran tidak mengakui kekalahan, sambil juga menegaskan bahwa Teheran masih ikut serta dalam pembicaraan.

    Media pemerintah Iran sebelumnya mengutip seorang pejabat yang tidak disebutkan namanya yang mengatakan bahwa Republik Islam telah menanggapi “negatif” terhadap rencana 15 poin yang dilaporkan dari Washington.

    Baca juga: Ini 15 Poin Tuntutan Trump ke Iran, Dibalas 5 Poin Tuntutan Iran ke AS

    Iran Tolak Rencana AS

    Pada Rabu, Iran menolak rencana AS untuk menghentikan sementara perang di Timur Tengah dan melancarkan serangan lebih lanjut terhadap Israel dan negara-negara Teluk Arab, termasuk serangan yang mengenai tangki bahan bakar di Bandara Internasional Kuwait, yang memicu kebakaran.

    Sikap Iran terjadi ketika Israel melancarkan serangan udara ke Teheran dan ketika Amerika Serikat mengerahkan pasukan terjun payung dan lebih banyak Marinir ke wilayah tersebut .

    Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan dalam sebuah wawancara di televisi pemerintah bahwa pemerintahnya belum terlibat dalam pembicaraan untuk mengakhiri perang, "dan kami tidak berencana untuk melakukan negosiasi apa pun."

    Pernyataan itu menyusul laporan dari stasiun televisi berbahasa Inggris milik pemerintah Iran yang mengutip seorang pejabat anonim yang mengatakan bahwa Iran menolak proposal gencatan senjata Amerika dan memiliki tuntutan sendiri untuk mengakhiri pertempuran.

    FASILITAS MINYAK TIMTENG - Tangkap layar The Guardian menampilkan lokasi fasilitas gas dan minyak Iran-Qatar. Serangan Israel dan Iran terhadap fasilitas energi memicu eskalasi konflik menjadi perang ekonomi yang berdampak global.
    FASILITAS MINYAK TIMTENG - Tangkap layar The Guardian menampilkan lokasi fasilitas gas dan minyak Iran-Qatar. Serangan Israel dan Iran terhadap fasilitas energi memicu eskalasi konflik menjadi perang ekonomi yang berdampak global. (Tangkap layar Guardian)

    Sebelumnya, dua pejabat dari Pakistan, yang menyampaikan rencana AS ke Iran, menjelaskan proposal 15 poin tersebut secara umum, dengan mengatakan bahwa proposal itu membahas pencabutan sanksi, pengurangan program nuklir Iran, pembatasan rudal, dan pembukaan kembali Selat Hormuz, tempat seperlima minyak dunia dikirimkan.

    Seorang pejabat Mesir yang terlibat dalam upaya mediasi mengatakan bahwa proposal tersebut juga mencakup pembatasan dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok bersenjata.

    Para pejabat tersebut berbicara dengan syarat anonim untuk membahas detail yang belum dirilis.

    Dikutip dari AP NewsIran sejak lama bersikeras tidak akan membahas program rudal balistiknya atau dukungannya terhadap milisi regional, yang dianggapnya sebagai kunci keamanan.

    Lalu, kemampuan Iran untuk mengendalikan jalur melalui Selat Hormuz merupakan salah satu keunggulan strategis terbesarnya.

    Serangan Iran terhadap infrastruktur energi regional, bersama dengan pembatasannya di selat tersebut, telah menyebabkan harga minyak meroket, sehingga menekan AS untuk menemukan cara mengakhiri cengkeraman tersebut dan menenangkan pasar.

    Baca juga: Jenis Rudal Iran yang Diduga Digunakan untuk Menargetkan Diego Garcia, Kemungkinan Khorramshahr-4

    Pada Selasa (24/3/2026), Trump mengatakan AS sedang bernegosiasi dengan Iran untuk mengakhiri perang, seiring dengan meningkatnya upaya diplomatik pada Selasa.

    Di sisi lain, Iran mengeluarkan pernyataan yang kembali menantang klaim Trump.

    Iran membantah bahwa negosiasi sedang berlangsung, dan Trump menunda tenggat waktu yang ia tetapkan sendiri bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

    Cengkeraman Teheran atas jalur air penting itu telah menghambat pelayaran internasional, menyebabkan harga bahan bakar meroket, dan mengancam perekonomian dunia.

    Diberitakan AP News, setiap pembicaraan antara AS dan Iran akan menghadapi tantangan yang sangat besar.

    Banyak tujuan Washington yang terus berubah, khususnya terkait program rudal balistik dan nuklir Iran, tetap sulit dicapai.

    Tidak jelas siapa di pemerintahan Iran yang memiliki wewenang untuk bernegosiasi — atau bersedia melakukannya, karena Israel telah bersumpah untuk terus melenyapkan para pemimpin setelah membunuh beberapa di antaranya.

    Iran tetap sangat curiga terhadap Amerika Serikat, yang dua kali di bawah pemerintahan Trump telah menyerang selama pembicaraan diplomatik tingkat tinggi, termasuk dengan serangan 28 Februari 2026 yang memulai perang saat ini.

    (Tribunnews.com/Nuryanti)

    Berita lain terkait Iran Vs Amerika Memanas

    Komentar
    Additional JS