Senator AS Bernie Sanders Tolak Dana Rp 3.100 Triliun untuk Perang Iran - Republika
Senator AS Bernie Sanders Tolak Dana Rp 3.100 Triliun untuk Perang Iran
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Senator Amerika Serikat Bernie Sanders menyatakan penolakannya terhadap usulan permintaan dana sebesar 200 miliar dolar AS (sekitar Rp 3.100 triliun) untuk perang melawan Iran.
Dalam pernyataannya pada Selasa (24/3/2026), Sanders juga berjanji akan mengajukan langkah untuk memblokir transfer senjata ke Israel.
“Sama sekali tidak. Kami akan mengajukan resolusi bersama dalam beberapa minggu ke depan untuk menghentikan pengiriman 20.000 bom ke Israel, termasuk buldoser,” kata Sanders, dikutip dari Anadolu Agency, Rabu (25/3/2026).
Ia menilai Amerika Serikat bersama Israel telah memulai konflik dengan Iran. Sanders juga mengkritik pemerintahan Presiden Donald Trump terkait kenaikan harga bahan bakar dan meningkatnya tekanan ekonomi terhadap warga.
“Harga bensin naik dan masyarakat sangat khawatir,” katanya dalam wawancara dengan CNN.
Sanders menuduh pemerintahan Trump gagal memprioritaskan keterjangkauan harga bagi masyarakat.
“Amerika Serikat memulai perang ini. Serangan sepihak bersama Israel telah menyebabkan penderitaan besar di Timur Tengah,” ujarnya.
Halaman 2 / 2
Senator dari Vermont itu juga mempertanyakan hubungan AS dengan Israel, termasuk terkait konflik di Gaza, serta memperingatkan bahwa perang melawan Iran akan menelan biaya sangat besar.
Ia menambahkan banyak warga Amerika masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, seperti perumahan, layanan kesehatan, dan pangan.
“Baik Republik maupun Demokrat, ini bukan perang yang diinginkan rakyat Amerika,” katanya.
Sanders juga mempertanyakan kelanjutan kerja sama dengan Israel di tengah situasi tersebut.
Sementara itu, sejak 28 Februari 2026, AS dan Israel dilaporkan telah melancarkan serangan udara terhadap Iran yang menewaskan lebih dari 1.300 orang.
Iran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta beberapa negara di kawasan, termasuk Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta mengganggu pasar global dan penerbangan.
Sedikitnya 13 personel militer AS dilaporkan tewas sejak konflik dimulai. Situasi ini juga mendorong kenaikan harga energi dan memengaruhi jalur pelayaran di Selat Hormuz.