0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Pakistan Selat Hormuz Spesial

    Iran Restui 20 Kapal Pakistan Lewat Selat Hormuz, Sinyal Damai atau Strategi Perang? - Tribunnews

    10 min read

     

    Iran Restui 20 Kapal Pakistan Lewat Selat Hormuz, Sinyal Damai atau Strategi Perang?

    Iran izinkan 20 kapal Pakistan melintas Hormuz saat perang memanas, jadi harapan baru meredakan krisis energi global

    Ringkasan Berita:
    • Iran izinkan 20 kapal berbendera Pakistan melintasi Selat Hormuz di tengah konflik regional yang mengganggu jalur energi global.
    • Kesepakatan ini dicapai setelah diplomasi intensif Islamabad dan dinilai sebagai langkah penting untuk meredakan krisis energi, meski ketegangan perang masih berlangsung.
    • Penutupan jalur strategis tersebut sebelumnya membuat lalu lintas kapal anjlok hingga 90 persen dan mendorong lonjakan harga minyak dunia di atas 100 dolar AS per barel.

     

    TRIBUNNEWS.COM - Pakistan mencapai kesepakatan dengan Iran untuk mengamankan jalur pelayaran bagi kapal berbenderanya melintasi Selat Hormuz di tengah konflik kawasan.

    Kesepakatan ini mencakup izin bagi sekitar 20 kapal, sebagai upaya meredam gangguan distribusi energi global.

    Al Jazeera melaporkan, kesepakatan tersebut diumumkan pada Sabtu (28/3/2026) oleh Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar.

    Ia menyebut dua kapal akan melintas setiap hari berdasarkan pengaturan yang telah disepakati dengan Teheran.

    Dar menggambarkan langkah Iran sebagai “pertanda perdamaian” dan “isyarat konstruktif” yang dapat membantu meredakan salah satu krisis energi terburuk dalam sejarah modern.

    lihat fotoJALUR PENGIRIMAN MINYAK - Tangkap layar Google Maps menampilkan Selat Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz. Keduanya merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak dunia.
    JALUR PENGIRIMAN MINYAK - Tangkap layar Google Maps menampilkan Selat Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz. Keduanya merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak dunia.

    Jalur Vital Dunia yang Nyaris Lumpuh

    Kesepakatan ini muncul di tengah kondisi Selat Hormuz yang nyaris lumpuh akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

    Sejak serangan udara terkoordinasi pada 28 Februari yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, jalur air strategis ini praktis tertutup.

    Akibatnya, sekitar 2.000 kapal sempat terdampar di kedua sisi selat.

    Lalu lintas maritim dilaporkan turun hingga 90 persen, sementara harga minyak melonjak lebih dari 40 persen hingga menembus 100 dolar AS per barel.

    Baca juga: Hormuz Terkunci! Manuver Prabowo ke Jepang-Korsel Pasca-Perang Iran Terungkap: Misi Darurat Energi!

    Mantan menteri Qatar, Mohammed Al-Hashemi, menggambarkan situasi ini sebagai ancaman serius bagi ekonomi global.

    “Selat Hormuz adalah katup aorta produksi global. Jika gagal, seluruh sistem akan runtuh,” tulisnya dalam kolom di Al Jazeera.

    Iran Perketat Kontrol, Terapkan Sistem Izin

    Di tengah konflik, Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperketat pengawasan di Selat Hormuz.

    Setiap kapal yang ingin melintas kini diwajibkan menyerahkan rincian kargo, awak, serta tujuan perjalanan.

    Setelah itu, kapal harus mendapatkan kode izin dan dikawal melalui perairan Iran.

    Sejumlah laporan menyebut setidaknya dua kapal telah membayar hingga 2 juta dolar AS untuk bisa melintas, dengan pembayaran dilakukan dalam yuan China.

    Parlemen Iran juga tengah menyusun regulasi untuk melegalkan sistem pungutan tersebut sebagai sumber pendapatan negara.

    Dampak Global: Perdagangan Terburuk dalam 80 Tahun

    Gangguan di Selat Hormuz berdampak luas terhadap ekonomi global.

    Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia, Ngozi Okonjo-Iweala, menyebut kondisi saat ini sebagai “gangguan perdagangan terburuk dalam 80 tahun terakhir”.

    Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi distribusi energi dunia, sehingga setiap gangguan langsung memengaruhi harga minyak, logistik global, hingga inflasi di berbagai negara.

    Seorang pejabat Uni Emirat Arab, Sultan Al Jaber, bahkan menyebut situasi ini sebagai “terorisme ekonomi” karena dampaknya dirasakan oleh masyarakat global, mulai dari harga bahan bakar hingga kebutuhan sehari-hari.

    Diplomasi Intensif di Balik Kesepakatan

    Kesepakatan Pakistan-Iran ini merupakan hasil dari upaya diplomatik intensif Islamabad dalam beberapa pekan terakhir.

    Kepala Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, dilaporkan melakukan komunikasi dengan Presiden AS Donald Trump, sementara Ishaq Dar juga berkoordinasi dengan Iran dan Turki.

    Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, sebelumnya menyatakan bahwa Islamabad siap menjadi tuan rumah pembicaraan damai jika diperlukan.

    Baca juga: Pelibatan Negara Lain Perburuk Konflik Iran-AS dalam Perebutan Kontrol Atas Selat Hormuz

    Kesepakatan ini juga dianggap sebagai sinyal bahwa Pakistan ingin memainkan peran lebih besar dalam meredakan konflik regional.

    Negara Lain Mulai Ikut Negosiasi

    Selain Pakistan, negara lain juga mulai menjalin kesepakatan serupa dengan Iran.

    Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan bahwa kapal-kapal Malaysia juga telah diizinkan melintas setelah komunikasi dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

    Hal ini menunjukkan adanya celah diplomatik di tengah konflik yang masih berlangsung.

    Ketegangan Masih Tinggi

    Meski ada tanda-tanda pelonggaran, situasi di kawasan tetap tegang. Iran menegaskan akan tetap menutup Selat Hormuz bagi pihak yang dianggap musuh, sambil menuntut pengakuan internasional atas otoritasnya di jalur tersebut.

    Sementara itu, Presiden Donald Trump sempat menjadi sorotan setelah secara tidak sengaja menyebut Selat Hormuz sebagai “Selat Trump” dalam sebuah forum, sebelum segera mengoreksi ucapannya.

    Di sisi lain, Israel menegaskan akan melanjutkan operasi militernya, meskipun Amerika Serikat disebut sempat melonggarkan serangan terhadap infrastruktur Iran selama lima hari.

    Baca juga: Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, Pengamat: Harga Minyak Akan Melambung dan Menekan APBN

    Kesepakatan antara Pakistan dan Iran dinilai sebagai langkah kecil namun signifikan dalam meredakan tekanan global, khususnya di sektor energi.

    Dengan dibukanya kembali jalur terbatas di Selat Hormuz, diharapkan distribusi minyak dan barang dapat mulai pulih, meskipun belum sepenuhnya normal.

    Di tengah konflik yang masih berlangsung, diplomasi seperti ini menjadi satu-satunya harapan untuk mencegah krisis yang lebih luas di tingkat global.

    (Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)


    Komentar
    Additional JS