Iran Ancam Serang IDF di Gaza, IRGC: Palestina, Kalian tidak Sendirian | Republika Online
Iran Ancam Serang IDF di Gaza, IRGC: Palestina, Kalian tidak Sendirian | Republika Online
IDF via Reuters Tentara Israel beroperasi di Jalur Gaza, 21 Desember 2023.
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Selasa (24/3/2026) menyatakan akan menyerang pasukan Israel di Jalur Gaza jika Israel terus melancarkan serangan ke Lebanon dan wilayah Palestina. Dalam pesannya, IRGC menegaskan umat Muslim di Palestina dan Lebanon yang dijajah oleh zionis Israel tidak akan berjuang sendirian.
“Jika kejahatan terhadap warga sipil Lebanon dan Palestina berlanjut, konsentrasi pasukan musuh di bagian utara wilayah pendudukan Palestina dan Gaza akan menjadi sasaran serangan rudal dan drone dari Iran,” demikian pernyataan IRGC yang dikutip kantor berita Fars.
Sponsored
Dalam rekaman video IRGC, Juru Bicara Khatam al-Anbiya Ebrahim Zolfghari mengatakan bahwa aksi militer Iran berkembang lebih dari sekadar mempertahankan wilayahnya atau membalas pembunuhan warga Iran akibat agresi AS-Israel, tapi Iran memandang nasib warga Palestina dan penderitaan di Gaza sebagai bagian dari sebuah perlawan bersama terhadap penindasan.
"Kami katakan kepada Anda hari ini, kami tidak hanya melawan untuk mempertahankan diri kami sendiri, tidak semata membalas darah dari para martir kami, tapi juga untuk Palestina, mereka yang tertindas dan martirnya," kata Zolfghari.
"Oh umat Muslim dan warga Palestina, janganlah berpikir kalian sendirian di medan perang ini melawan rezim zionis. Kami bersama Anda."
Ketegangan antara Israel dan Hezbollah meningkat sejak 2 Maret, ketika kelompok Lebanon itu kembali meluncurkan roket ke wilayah Israel di tengah memburuknya situasi regional. Israel kemudian membalas dengan serangan besar-besaran ke Lebanon, termasuk wilayah selatan, Lembah Beqaa, dan pinggiran Beirut.
Pada 16 Maret, militer Israel secara resmi mengumumkan operasi darat di Lebanon selatan. Namun, kesepakatan gencatan senjata yang dicapai melalui mediasi internasional pada November 2024 tidak dijalankan oleh pihak Israel. Pemerintah Lebanon berulang kali melaporkan adanya pelanggaran yang dilakukan Israel.
Pekan lalu, pemerintahan Donald Trump dilaporkan menekan Suriah untuk mengirim pasukan ke timur Lebanon guna membantu melucuti senjata Hizbullah. Namun, Damaskus seperti dilaporkan Reuters dilansir Middle East Monitor, Rabu (18/3/2026), enggan memenuhi permintaan AS, khawatir mereka terseret dalam konflik yang lebih luas dan memicu ketegangan sekterian.
Dalam laporannya, Reuters mengutip beberapa sumber yang mengungkapkan proposal AS telah disodorkan ke pemerintah Suriah sebagai bagian dari upaya melucuti Hizbullah. Diketahui, militan Hizbullah ikut membantu Iran menyerang Israel sejak 2 Maret 2026 sebagai bagian dari serangan balasan atas pembunuhan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Menurut sumber tadi, termasuk dua pejabat Suriah dan dua orang yang mengetahui diskusi terkait hal ini, ide meminta Suriah membantu melucuti Hizbullah telah muncul sejak akhir tahun lalu. AS kemudian merealisasikan ide itu dengan mengajukan proposal ke Suriah sejak perang dengan Iran pecah.
Dua pejabat Suriah mengatakan, Washington membuat permintaan itu tak lama setelah perang pecah, sementara, seorang sumber dari kalangan intelijen Barat mengatakan hal senada. Reuters mengatakan mereka telah "berbicara dengan 10 sumber untuk artikel ini - enam dari pejabat Suriah dan penasihat pemerintah, dua diplomat Barat, dan seorang pejabat Eropa dan seorang sumber intelijen dari negara Barat. Semua mengatakan pemerintah Suriah menimbang operasi lintas perbatasan namun tetap ragu."
sumber : Antara, Sputnik/RIA Novosti
Berita Terkait
Iran akan Permanenkan Penerapan Tarif Tol Selat Hormuz, Parlemen Siapkan UU
Energi - 1 jam yang lalu
Analis Militer: Iran akan Invasi UEA dan Bahrain Jika AS Lakukan Kesalahan
Internasional - 2 jam yang lalu
Proposal Gencatan Senjata AS Ditolak Mentah-Mentah oleh Iran
Internasional - 4 jam yang lalu
Viral Video Kawanan Masif Burung Gagak Beterbangan di Langit Tel Aviv, Netizen Sebut Pertanda Buruk
Internasional - 6 jam yang lalu
Krisis Energi Picu Negara Ambil Kebijakan Darurat, Bagaimana dengan Indonesia?
Bisnis - 6 jam yang lalu