0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Rusia Spesial

    AS Longgarkan Sanksi Minyak, Yakin Rusia Tak Untung Besar - Tribunnews

    8 min read

    AS Longgarkan Sanksi Minyak, Yakin Rusia Tak Untung Besar

    AS melonggarkan sanksi minyak terhadap Rusia untuk meringankan krisis energi. Menteri Keuangan AS yakin hal itu tidak akan membuat Rusia untung besar.



    Ringkasan Berita:
    • AS melonggarkan sanksi minyak Rusia untuk menstabilkan harga global yang melonjak akibat perang AS-Israel dengan Iran.
    • Menkeu AS Scott Bessent menilai tambahan pendapatan Rusia hanya sekitar 2 miliar USD dan tidak signifikan. 
    • Kebijakan ini hanya mengizinkan penjualan minyak yang sudah berada di laut dengan izin sementara sekitar 30 hari.
    • Langkah ini dikritik Eropa dan Presiden Ukraina Zelenskyy karena dinilai dapat membantu Rusia.

    TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Amerika Serikat (AS) menilai pelonggaran sanksi terhadap minyak Rusia tidak akan memberikan keuntungan besar bagi Moskow. 

    Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyebut potensi tambahan pendapatan Rusia hanya sekitar 2 miliar USD, yang menurutnya relatif kecil.

    Dalam wawancara dengan NBC News, Bessent menjelaskan bahwa stabilitas harga minyak global justru menjadi faktor penting dalam membatasi pendapatan Rusia.

    “Mana yang lebih baik? Apakah Rusia mendapatkan lebih banyak uang jika harga minyak mencapai 150 USD dan mereka mendapatkan 70 persen dari itu, yaitu 105 USD, atau jika harga minyak tetap di bawah 100 USD, sehingga mereka mendapatkan lebih sedikit uang?" kata Scott Bessent, Senin (23/3/2026).

    "Analisis kami menunjukkan bahwa jumlah tambahan maksimum yang dapat diperoleh Rusia adalah 2 miliar USD, yang setara dengan anggaran satu hari Federasi Rusia," lanjutnya.

    Ia menilai, dengan menjaga harga minyak tetap stabil, potensi keuntungan Rusia bisa ditekan. 

    Selain itu, Bessent juga menyebut China sebagai pembeli utama minyak Rusia, yang menyerap lebih dari 90 persen ekspor.

    Sebelumnya, pada 13 Maret, Amerika Serikat mencabut sebagian sanksi terhadap minyak Rusia yang diangkut kapal tanker di laut. 

    Kebijakan ini diambil untuk menstabilkan pasar energi global setelah harga minyak melonjak akibat konflik di Timur Tengah, termasuk ketegangan antara AS, Israel, dan Iran yang mengganggu pasokan minyak dari kawasan Teluk.

    Namun, langkah tersebut menuai kritik dari sejumlah pihak di Eropa dan Ukraina.

    Baca juga: Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1.489, Zelenskyy: Dunia Tak Bisa Stabil Tanpa Ukraina

    Presiden Dewan Eropa, António Costa, menyampaikan kekhawatiran bahwa pelonggaran sanksi dapat menambah sumber daya Rusia dalam melanjutkan perang di Ukraina.

    Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa sanksi terhadap minyak Rusia akan kembali diberlakukan setelah situasi di Timur Tengah mereda.

    Di sisi lain, pada 21 Maret, Departemen Keuangan AS juga melonggarkan sanksi terhadap minyak Iran yang telah berada di laut sejak 20 Maret.

    Kebijakan ini menunjukkan upaya AS menyeimbangkan antara tekanan terhadap Rusia dan kebutuhan menjaga stabilitas pasar energi global di tengah ketegangan geopolitik yang terus berkembang.

    Perang AS-Israel Vs Iran dan Dampaknya Terhadap Harga Minyak

    AS dan Israel meluncurkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, menghantam berbagai wilayah termasuk Teheran.

    Setidaknya lebih dari 1.500 orang meninggal dalam serangan AS dan Israel di Iran.

    Iran merespons dengan meluncurkan serangan ke pangkalan militer AS dan Israel di kawasan Teluk.

    Selain itu, Iran memblokade Selat Hormuz, salah satu jalur pengiriman energi global, mengakibatkan melonjaknya harga minyak.

    Lonjakan harga minyak yang menembus angka di atas 100 USD per barel mendorong Washington mengambil langkah cepat, lapor The Guardian.

    Salah satunya adalah dengan memberikan izin terbatas untuk penjualan minyak Rusia yang sudah berada di laut (stranded oil), guna menambah pasokan global dan menekan harga.

    Presiden AS, Donald Trump, menilai kebijakan ini sebagai langkah sementara untuk menjaga stabilitas pasar energi.

    Ia juga menegaskan bahwa sanksi akan kembali diterapkan setelah situasi global membaik.

    Baca juga: Iran Kantongi 2 Juta Dolar dari Bea Kapal yang Melintas Selat Hormuz

    Pemerintah AS hanya mengizinkan penjualan minyak Rusia yang sudah berada di kapal tanker di laut (bukan produksi baru), lapor Business Insider.

    Kebijakan ini bersifat sementara dengan lisensi terbatas sekitar 30 hari dan bertujuan menambah pasokan global, bukan memperluas ekspor Rusia.

    AS melonggarkan sanksi penjualan minyak Rusia hingga sekitar pertengahan April 2026.

    Di sisi lain, kebijakan ini mendapat kritik dari Ukraina dan sejumlah negara Eropa.

    Mereka menilai pelonggaran sanksi berpotensi membantu Rusia dalam membiayai perang.

    Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, sebelumnya menegaskan pentingnya tekanan ekonomi terhadap Rusia tetap dipertahankan, bukan malah memberikan kelonggaran.

    (Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)


    Komentar
    Additional JS