Drone Kamikaze Iran Jadi Momok Menakutkan bagi Kapal Induk AS, Ini 5 Alasannya - SindoNews
Drone Kamikaze Iran Jadi Momok Menakutkan bagi Kapal Induk AS, Ini 5 Alasannya
Makin mudah baca berita nasional dan internasional.
Sabtu, 14 Februari 2026 - 17:03 WIB
Drone kamikaze Iran jadi momok menakutkan bagi kapal induk AS. Foto/X/@Irves_Watch
TEHERAN - Perang modern berkembang pesat — terutama, dan berpotensi, di Teluk dan Selat Hormuz. Drone kini menjadi bagian sentral dari apa yang disebut "perang asimetris".
Ketika kedua pihak memiliki kekuatan militer yang tidak setara, alih-alih menandingi kapal dengan kapal, atau rudal dengan rudal, pihak yang lebih lemah menggunakan taktik yang tidak konvensional, berbiaya rendah, dan berdampak tinggi untuk mengimbangi keunggulan pihak yang lebih kuat.
Drone, yang umumnya dikenal sebagai sistem udara tak berawak (UAS), sangat sesuai dengan model tersebut.
Jenis drone yang digunakan dalam peperangan semakin meningkat. Militer AS mengklasifikasikan UAS menjadi lima kelompok; NATO mengklasifikasikan mereka menjadi tiga kelas.
Drone dapat mengganggu jalur pelayaran, menutup bandara, membakar fasilitas minyak, dan merusak infrastruktur penting. Mereka dapat memaksa kapal militer untuk mengambil posisi bertahan.
Drone Kamikaze Iran Jadi Momok Menakutkan bagi Kapal Induk AS, Ini 5 Alasannya
1. Murah dan Presisi
Melansir Gulf News, nilai utama drone: biaya rendah vs. target bernilai tinggi. Misalnya, drone seharga USD1.000–USD20.000 dapat mengancam:
Kapal angkatan laut seperti USS Abraham Lincoln senilai USD15 miliar (termasuk sayap udara)
Ketidakseimbangan biaya tersebut merupakan strategi asimetris klasik.
Di Selat Hormus, kapal induk drone Iran seperti Shahid Bagheri dapat melepaskan gelombang "amunisi jelajah" Shahed-136 bersamaan dengan rudal balistik anti-kapal (ASBM) Khalij Fars dan kawanan kapal serang cepat Peykaap.
2. Iran Memiliki Kapal Induk Drone
Ya, memang. Strategi Iran menempatkan drone Shahed yang murah — yang dibawa hingga 60 unit per "kapal induk" — dalam kawanan besar melawan kelompok serang kapal induk AS seperti USS Abraham Lincoln.
Kapal induk tersebut baru-baru ini menjadi sasaran Shahed-139. Sebuah jet tempur F-35 AS menembak jatuh drone tersebut sebelum mendekat secara berbahaya.
Pertahanan tradisional AS seperti Sistem Tempur Aegis dengan pencegat SM-2, senjata CIWS Phalanx, dan Rudal Rolling Airframe (RAM) dapat menangani jumlah yang kecil.
3. 1.000 Drone Bisa Menyerang Sekaligus
Ini merupakan tantangan serius. Di Laut Merah dan Samudra Hindia, misalnya, pasukan Houthi telah meluncurkan ratusan drone dan rudal jelajah anti-kapal yang menargetkan kapal komersial dan militer.
Menangani setiap drone tersebut dengan tingkat akurasi 100% menggunakan senjata konvensional akan sangat sulit: karena amunisi senjata konvensional terbatas dan biaya per tembakan tinggi — SM-2 berharga jutaan dolar per unit dibandingkan dengan drone Iran yang berharga USD1.000-USD20.000.
Dalam perang asimetris, senjata elektronik semakin relevan. Senjata elektronik menawarkan potensi untuk menetralisir kawanan drone tanpa menghabiskan rudal pencegat yang mahal.
Sebuah "kawanan" drone yang terdiri dari 1.000 drone, atau bahkan lebih, merupakan ancaman utama bagi aset bernilai tinggi yang dilindungi oleh senjata berbasis proyektil.
Namun, senjata baru telah dikembangkan untuk mengatasi ancaman tersebut, yang menandakan pergeseran "diam-diam" menuju peperangan elektromagnetik.
Baca Juga: 7 Negara yang Mengoperasikan Kapal Induk, Indonesia Segera Masuk Daftar
4. Mampu Menimbulkan Ledakan Besar
Itu tergantung pada siapa yang menguasai langit, atau spektrum yang tak terlihat. Perlombaan senjata saat ini bukan lagi hanya tentang siapa yang memiliki ledakan terbesar.
Ini akan tentang siapa yang memiliki energi paling besar, penargetan AI paling cerdas, dan tumpukan elektronik paling canggih yang beroperasi dalam skala besar. Ini melampaui pertempuran konvensional — ini adalah peperangan elektronik.
Palu elektromagnetik dapat menjatuhkan drone-drone ini. Dengan amunisi tak terbatas dan akurasi tinggi, jumlahnya tidak menjadi masalah.
5. Jadi Penguasa Langit
Sekarang menjadi tak terbayangkan bagaimana umat manusia dapat menghentikan jin apokaliptik ini.
Drone mengaburkan batas antara perang konvensional dan konflik proksi.
Di balik bayang-bayang medan perang modern, bahkan serangan drone yang terbatas pun dapat melepaskan efek riak yang dahsyat. Mereka dapat mencekik rantai pasokan, dan memicu badai api yang jauh lebih besar daripada daya tembak konvensional.
Jadi mimpi buruk drone tidak memudar — ia berevolusi menjadi zaman paling mematikan bagi umat manusia.
Ternyata perang tidak menjadi lebih keras, tetapi menjadi lebih kutu buku. Medan perang meninggalkan peluru dan bom demi bandwidth dan sirkuit.
Siapa pun yang memiliki spektrum, dialah yang menguasai langit.
Selamat datang di era di mana perang dimenangkan dengan watt, kode, dan kendali atas hal-hal yang tak terlihat.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Infografis

5 Kapal Selam Serang Terbaik, AS dan Rusia Mendominasi