Trump Dilaporkan Dukung Israel Serang Program Rudal Iran Jika Perundingan Gagal - SindoNews
Trump Dilaporkan Dukung Israel Serang Program Rudal Iran Jika Perundingan Gagal
Makin mudah baca berita nasional dan internasional.
Senin, 16 Februari 2026 - 14:25 WIB
Presiden AS Donald Trump disebut akan dukung Israel serang program rudal balistik Iran jika perundingan Washington dan Teheran gagal. Foto/gov.il
WASHINGTON - Sebuah laporan media Amerika Serikat (AS), CBS News, menyebutkan bahwa Presiden Donald Trump akan mendukung serangan Israel terhadap program rudal balistik Iran jika negosiasi antara Washington dan Teheran gagal.
Menurut laporan yang diterbitkan hari Minggu tersebut, Trump menyampaikan hal itu ketika bertemu dengan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu di Mar-a-Lago, Florida, pada Desember lalu. Laporan itu mengutip dua sumber AS yang mengetahui masalah terkait.
Baca Juga: Jenderal Top Iran: Perang Baru Akan Jadi Pelajaran Keras bagi Trump!
Laporan serupa juga diterbitkan Reuters, BBC, dan media Barat lainnya, namun tanpa konfirmasi resmi dari Gedung Putih maupun pemerintah Zonis Israel.
Para pejabat militer dan intelijen AS, menurut CBS News, telah membahas bagaimana Washington dapat membantu Israel dalam potensi operasi melawan infrastruktur rudal Iran, termasuk menyediakan pengisian bahan bakar udara untuk pesawat Israel dan membantu mengamankan izin penerbangan dari negara-negara regional terkait.
Namun, Yordania, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab telah secara terbuka menyatakan bahwa mereka tidak akan mengizinkan wilayah udara mereka digunakan untuk serangan apa pun terhadap Iran, atau pun bagi Iran untuk melancarkan serangan terhadap negara lain.
Juga pada hari Minggu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan selama kunjungan ke Slovakia bahwa dia lebih memilih menyelesaikan ketegangan dengan Iran melalui cara diplomatik.
Putaran kedua pembicaraan nuklir AS-Iran diperkirakan akan diadakan di Jenewa pada hari Selasa (17/2/2026). Rubio mengonfirmasi bahwa utusan AS Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner, akan mewakili Washington dalam negosiasi tersebut.
Pertemuan ini menyusul putaran pertama di Muscat, Oman, pada 6 Februari yang digambarkan kedua pihak sebagai "awal yang baik" tetapi tidak menghasilkan terobosan yang terlihat.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menuju Jenewa pada hari Minggu untuk putaran kedua pembicaraan tidak langsung Teheran-Washington, meskipun pihak-pihak terkait menyampaikan visi yang sangat berbeda tentang apa yang seharusnya terkandung dalam kesepakatan, yang menunjukkan fondasi rapuh dari dorongan diplomatik yang diperbarui.
Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan Araghchi memimpin delegasi diplomatik dan khusus untuk perundingan pada hari Selasa.
Dia diperkirakan akan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Swiss Ignazio Cassis, Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr bin Hamad Al Busaidi, dan Rafael Grossi, direktur jenderal Badan Energi Atom Internasional, di antara pejabat lainnya, menurut kementerian tersebut.
Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi memperingatkan bahwa perang baru dengan Washington akan menjadi pelajaran keras bagi Presiden AS Donald Trump.
“Trump harus tahu bahwa dia akan memasuki konfrontasi yang memberikan pelajaran keras, yang hasilnya akan memastikan bahwa dia tidak lagi meneriakkan ancaman di seluruh dunia,” kata Mousavi pada hari Minggu.
Dia menambahkan bahwa pernyataan presiden Amerika Serikat, yang mengeklaim sebagai negara adidaya, adalah "ceroboh" dan "tidak pantas untuk seorang presiden".
Jenderal top Iran itu juga meragukan retorika perang Trump, dengan bertanya: "Jika Trump benar-benar berniat untuk berperang, mengapa dia berbicara tentang negosiasi?"
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Infografis

6 Fakta Buster GBU-57, Bom Bunker AS yang Serang Iran