0
News
    Home Amerika Serikat Berita Donald Trump Dunia Internasional Featured Israel Spesial Venezuela Zionis

    Venezuela Sebut Serangan AS 'Bernuansa Zionis', Israel Terlibat? - Viva

    4 min read

     

    Venezuela Sebut Serangan AS 'Bernuansa Zionis', Israel Terlibat?

    Senin, 5 Januari 2026 - 18:50 WIB
    Oleh :
    :
    • Ist
    Photo Mini 1Photo Mini 2
    Share :

    Caracas, VIVA – Pelaksana tugas Presiden Venezuela Delcy Rodríguez, yang ditunjuk Mahkamah Agung untuk memimpin negara sementara waktu, mengecam keras tindakan Amerika Serikat.  Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Sabtu, Rodríguez menyebut penangkapan Maduro dan serangan militer AS memiliki "nuansa Zionis".

    Baca Juga :

    "Pemerintah di seluruh dunia terkejut bahwa Republik Bolivarian Venezuela telah menjadi korban dan target serangan seperti ini, yang tidak diragukan lagi memiliki nuansa Zionis," kata Rodríguez dilansir Middle East Eye, Senin, 5 Januari 2026.

    Ia menambahkan bahwa pihak-pihak yang mendorong agresi bersenjata terhadap Venezuela akan dimintai pertanggungjawaban. "Para ekstremis yang telah mempromosikan agresi bersenjata terhadap negara kami—sejarah dan keadilan akan membuat mereka membayar," ujarnya.

    Baca Juga :

    Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap

    Photo :
    • Ist

    Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan Rodríguez agar bekerja sama dengan Washington. Ia mengancam Rodríguez dapat "membayar harga yang sangat mahal, mungkin lebih mahal daripada Maduro," jika menolak bekerja sama.

    Baca Juga :

    Sebelumnya, Trump mengatakan Rodríguez akan menjadi mitra Amerika Serikat dalam memungkinkan Washington untuk "mengelola" Venezuela pasca penangkapan Maduro.

    Demonstrasi dan Reaksi Kawasan

    Sehari setelah serangan, ribuan pendukung pemerintah Venezuela turun ke jalan-jalan Caracas. Para demonstran mengibarkan bendera nasional dan menyerukan persatuan nasional untuk menghadapi apa yang mereka sebut sebagai agresi asing.

    Di tingkat regional, serangan AS dikutuk oleh sebagian besar negara Amerika Selatan, termasuk Brasil, Kolombia, dan Chili. Sejumlah negara Eropa menyambut baik jatuhnya Maduro, namun tetap mempertanyakan legalitas operasi militer tersebut.

    Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez mengatakan Madrid tidak mengakui pemerintahan Maduro, namun juga menolak intervensi yang melanggar hukum internasional. "Spanyol tidak akan mengakui intervensi yang melanggar hukum internasional dan mendorong kawasan menuju ketidakpastian dan permusuhan," ujarnya.

    Di Amerika Serikat sendiri, sejumlah anggota parlemen Demokrat mengecam operasi tersebut sebagai tindakan ilegal.

    Setelah penangkapan Maduro, Trump secara terbuka menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika akan memperoleh akses lebih luas terhadap cadangan minyak Venezuela. "Kita akan mengambil kekayaan yang sangat besar dari dalam tanah," kata Trump kepada wartawan.

    Trump juga pernah menyampaikan pernyataan serupa pada 2023, dengan mengatakan Amerika Serikat akan "mendapatkan semua minyak itu".

    Menurut Administrasi Informasi Energi AS, Venezuela memiliki cadangan minyak mentah sekitar 303 miliar barel, atau sekitar 17 persen dari cadangan global, menjadikannya salah satu negara dengan cadangan terbesar di dunia—melampaui Arab Saudi, Iran, Irak, dan lebih dari tiga kali lipat cadangan Amerika Serikat.

    Kuasai Minyak

    Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Washington akan meningkatkan tekanan terhadap industri minyak Venezuela untuk memaksa para pemimpin negara itu memenuhi tuntutan Amerika.

    Dalam wawancara dengan NBC, Rubio menyebut Venezuela telah menjadi "pusat operasi bagi Iran, Rusia, Hizbullah, dan Tiongkok", sebuah kondisi yang menurutnya tidak akan ditoleransi AS di belahan bumi barat.

    Rubio mengatakan AS akan memberlakukan "karantina" minyak melalui pengerahan aset angkatan laut dan Penjaga Pantai AS, serta mencegah negara-negara yang dianggap musuh menguasai industri minyak Venezuela.

    "Kami pergi ke pengadilan, mendapatkan surat perintah, dan menyita kapal-kapal itu," kata Rubio. "Itu adalah pengaruh yang luar biasa dan melumpuhkan, dan akan terus kami gunakan sampai kami melihat perubahan yang diperlukan,"

    Tiongkok, pelanggan utama minyak Venezuela, menerima hampir 80 persen ekspor minyak Venezuela pada 2025. Maduro diketahui bertemu dengan delegasi khusus Presiden Tiongkok Xi Jinping di Istana Miraflores beberapa jam sebelum serangan udara terjadi.

    Rusia juga telah memberikan pinjaman dan dukungan teknis bernilai miliaran dolar untuk menopang infrastruktur minyak Venezuela sebagai imbalan atas pijakan strategis di kawasan tersebut.

    Baik Rusia maupun Tiongkok secara terbuka mengutuk serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela.

    Komentar
    Additional JS