Penangkapan Maduro Picu Lonjakan Inflasi, Harga Susu hingga Telur di Venezuela Naik Tajam - Tribunnews.
Penangkapan Maduro Picu Lonjakan Inflasi, Harga Susu hingga Telur di Venezuela Naik Tajam - Tribunnews.com
Ringkasan Berita:
- Penangkapan Maduro memicu gejolak ekonomi langsung, ditandai lonjakan inflasi dan kenaikan tajam harga kebutuhan pokok seperti susu bubuk hingga telur, yang memberatkan daya beli warga Venezuela.
- Aktivitas ekonomi Caracas melemah drastis akibat ketegangan keamanan pascaserangan AS, dengan banyak toko tutup, antrean panjang di pasar.
- IMF memperingatkan inflasi Venezuela berpotensi tembus 600 persen pada 2026, mencerminkan krisis berkepanjangan.
TRIBUNNEWS.COM - Perekonomian Venezuela kembali terguncang setelah Presiden Nicolás Maduro ditangkap oleh Amerika Serikat (AS) dalam operasi militer yang mengejutkan dunia.
Dampak langsung dari peristiwa tersebut mulai terasa di tingkat akar rumput, ditandai dengan lonjakan harga kebutuhan pokok dan inflasi yang disebut-sebut kembali menembus puluhan ribu persen.
Ibu Kota Caracas tampak sunyi dan mencekam pada Senin (5/1/2026), dua hari setelah serangan militer AS menghantam sejumlah instalasi strategis dan membawa Maduro ke Amerika Serikat.
Meski suasana kota diliputi ketegangan, sebagian warga tetap keluar dari rumah untuk membeli bahan makanan dan kebutuhan harian dengan harga yang jauh lebih mahal dibanding hari-hari sebelumnya.
Pemerintah Venezuela menyerukan agar aktivitas ekonomi tetap berjalan normal.
Namun, kenyataannya sejumlah toko memilih menutup usaha mereka karena khawatir akan kerusuhan dan penjarahan.
Di beberapa kawasan, rumah tangga mulai menimbun persediaan bahan pokok sebagai langkah antisipasi jika situasi keamanan semakin memburuk.

Di pasar tradisional Quinta Crespo, salah satu pusat perdagangan utama di Caracas, sejumlah kios tampak tutup.
Antrean panjang terlihat di toko-toko yang masih beroperasi, dengan pengamanan ketat dari Kepolisian Nasional Bolivarian.
Warga membeli bahan makanan tahan lama seperti tepung jagung, beras, dan makanan kalengan, mencerminkan kekhawatiran akan gangguan pasokan.
Carlos Godoy (45 tahun), warga Distrik Caricuao, mengaku terpaksa membeli kebutuhan pokok dengan harga yang melonjak tajam.
Ia menyebut harga susu bubuk mencapai 16 dolar AS atau Rp269.000 per kilogram, angka yang dinilai sangat memberatkan bagi masyarakat.
“Kami semua dalam ketegangan dan ketidakpastian. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.
Kenaikan harga juga dirasakan pada produk non-pangan. Barang-barang kebersihan dilaporkan mengalami lonjakan harga lebih tinggi dibandingkan bahan makanan.
Di pusat perbelanjaan Sambil, harga telur dilaporkan mencapai 10 dolar AS atau Rp 168.00 per karton, jauh di atas harga normal.
Kondisi ini mempertegas tekanan inflasi yang kembali menghantam ekonomi Venezuela.
Sementara itu, aktivitas ekonomi di pusat perbelanjaan besar hampir lumpuh.
Toko-toko sepi pengunjung, dan penjualan anjlok drastis karena warga memilih bertahan di rumah. Sejumlah pekerja mengaku enggan menggunakan transportasi umum dan lebih memilih taksi demi alasan keamanan.
Kekhawatiran akan pemadaman listrik dan gangguan keamanan membuat pola konsumsi warga berubah drastis.
Bukan Fenomena Baru
Adapun lonjakan harga ini bukan fenomena baru bagi Venezuela. Selama lebih dari satu dekade, negara tersebut telah bergulat dengan inflasi ekstrem, kekurangan pasokan, dan penurunan daya beli.
Para analis kerap menyebut kombinasi salah kelola ekonomi, korupsi, kejatuhan harga minyak, serta sanksi internasional sebagai penyebab utama krisis berkepanjangan.
Pada 2018, inflasi Venezuela sempat menembus 130.000 persen. Pandemi COVID-19 kemudian memperparah kondisi, menyebabkan kelangkaan pangan dan krisis layanan kesehatan.
Pemerintah Maduro sendiri tidak lagi merilis data resmi inflasi sejak pemilu presiden 2024 yang menuai kontroversi.
Namun situasi semakin tidak menentu setelah serangan militer AS pada Sabtu dini hari, yang menargetkan instalasi militer di Caracas, Aragua, Miranda, dan La Guaira.
Meski serangan berlangsung singkat, Presiden AS Donald Trump memperingatkan kemungkinan gelombang serangan lanjutan jika tuntutan Washington tidak dipenuhi.
Situasi ini yang membuat inflasi kembali melonjak tajam, ditengah pemulihan ekonomi masih jauh dari kepastian.
IMF Prediksi 600 Persen pada 2026
Menurut laporan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF), inflasi Venezuela diperkirakan akan tetap berada pada tingkat yang sangat tinggi.
Mencerminkan tekanan harga yang masih menjadi ancaman utama bagi stabilitas ekonomi negara tersebut.
IMF sendiri memperkirakan inflasi tahunan Venezuela akan meningkat tajam hingga lebih dari 600 persen pada tahun 2026 jika kondisi ekonomi dan tekanan pasar tidak membaik.
Proyeksi ini melesat tajam jika dibandingkan dengan tahun 2025 dimana inflasi hanya dibandrol sekitar 270 persen.
Namun, buntut kenaikan harga barang dan jasa secara keseluruhan di Venezuela biaya hidup masyarakat kini mulai melesat, memicu lonjakan inflasi yang tak terkendali.
Secara keseluruhan, masa depan ekonomi Venezuela tetap penuh tantangan.
Tanpa reformasi struktural mendalam, diversifikasi ekonomi, dan stabilitas politik yang berkelanjutan, tekanan inflasi besar, nilai mata uang yang terus melemah, tingginya pengangguran,serta rendahnya investasi swasta bisa terus membatasi pemulihan ekonomi negara tersebut dalam beberapa tahun mendatang.
(Tribunnews.com / Namira)