0
News
    Home Amerika Serikat Dunia Internasional Featured ISIS Spesial

    Kerahkan 20 Jet Tempur, AS Bombardir ISIS di Suriah - Kompas

    3 min read

      

    Kerahkan 20 Jet Tempur, AS Bombardir ISIS di Suriah

    Kompas.com, 11 Januari 2026, 06:30 WIB


    DAMASKUS, KOMPAS.com - Pasukan AS dan sekutunya mengumumkan serangan berskala besar terhadap kelompok ISIS di Suriah pada Sabtu (10/1/2026).

    Ini merupakan tanggapan terbaru terhadap serangan bulan lalu yang menewaskan tiga warga AS.

    Washington mengatakan, seorang pria bersenjata tunggal dari kelompok militan tersebut melakukan serangan pada 13 Desember di Palmyra yang menewaskan dua tentara AS dan seorang penerjemah sipil.

    "Serangan hari ini menargetkan ISIS di seluruh Suriah dan merupakan bagian dari Operasi Hawkeye Strike, yang diluncurkan sebagai tanggapan langsung terhadap serangan mematikan ISIS terhadap pasukan AS dan Suriah di Palmyra," kata Komando Pusat AS (Centcom) dalam sebuah pernyataan di X, dikutip dari AFP, Minggu (11/1/2026).

    Gencatan Senjata "Semu", Warga Aleppo Panik Suriah-Kurdi Baku Tembak Lagi

    Menurut Centcom, serangan tersebut dilakukan untuk memerangi terorisme, serta melindungi pasukan AS dan sekutu di wilayah tersebut.

    "Pesan kami tetap tegas, jika Anda melukai prajurit kami, kami akan menemukan Anda dan membunuh Anda di mana pun di dunia, sekeras apa pun Anda mencoba menghindari keadilan," tegasnya.

    Pasukan AS dan sekutunya menembakkan lebih dari 90 amunisi presisi ke lebih dari 35 target.

    Operasi itu melibatkan lebih dari 20 pesawat, termasuk F-15E, A-10, AC-130J, MQ-9, dan F-16 Yordania.

    Namun, lokasi serangan dan jumlah korban jiwa masih belum jelas.

    AS dan Yordania telah melakukan serangkaian serangan sebelumnya sebagai bagian dari operasi yang sama bulan lalu.

    Serangan di Palmyra adalah insiden pertama sejak penggulingan penguasa Bashar al-Assad pada Desember 2024.

    Personel AS yang menjadi sasaran tersebut mendukung Operasi Inherent Resolve, upaya internasional untuk memerangi ISIS, yang merebut sebagian besar wilayah Suriah dan Irak pada tahun 2014.

    ISIS akhirnya dikalahkan oleh pasukan darat lokal yang didukung oleh serangan udara internasional.

    Namun, kelompok itu masih memiliki kehadiran di Suriah, terutama di gurun luas negara itu.

    Presiden AS Donald Trump telah lama skeptis terhadap kehadiran Washington di Suriah.

    Ia bahkan memerintahkan penarikan pasukan selama masa jabatan pertamanya, tetapi akhirnya membiarkan pasukan AS tetap berada di negara tersebut.

    Pada April 2025, Pentagon mengumumkan bahwa AS akan mengurangi separuh jumlah pasukannya di Suriah dalam beberapa bulan mendatang.

    Sementara itu, utusan AS untuk Suriah, Tom Barrack pada Juni 2025 mengatakan, Washington nantinya akan mengurangi pangkalan militernya di negara itu menjadi satu.

    Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang
    Komentar
    Additional JS