0
News
    Home Featured Greenland

    Dari Es Abadi ke Pusat Konflik Global: Mengapa Greenland Diperebutkan? - inews

    3 min read

     

    Dari Es Abadi ke Pusat Konflik Global: Mengapa Greenland Diperebutkan?

    Anton Suhartono
    Greenland dulunya jauh dari hiruk-pikuk politik global, namun kini menjadi rebutan kekuatan besar dunia (Foto: AP)

    JAKARTA, iNews.id - Selama puluhan tahun, Greenland kerap dipandang sebagai wilayah es abadi yang jauh dari hiruk-pikuk politik global. Namun kini, pulau terbesar di dunia itu berubah menjadi titik panas geopolitik, diperebutkan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan China.

    Pernyataan kontroversial Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan merebut Greenland, bahkan dengan kekuatan militer, menandai babak baru perebutan pengaruh di kawasan Arktik.

    Letak Strategis di Jantung Arktik

    Greenland berada di posisi yang sangat strategis, menghubungkan Amerika Utara, Eropa, dan Kutub Utara. Secara militer, wilayah ini merupakan kunci pengawasan jalur penerbangan dan rudal lintas benua. Tak heran, Amerika Serikat telah lama memiliki Pangkalan Udara Thule di Greenland, salah satu instalasi pertahanan terpenting AS di kawasan Arktik.

    Perubahan iklim turut mengubah wajah Arktik. Mencairnya lapisan es membuka jalur pelayaran baru yang memangkas waktu tempuh perdagangan global antara Asia, Eropa, dan Amerika. Selain itu, Greenland diyakini menyimpan cadangan besar mineral langka, minyak, gas, serta sumber daya alam strategis lain yang sangat dibutuhkan untuk industri teknologi dan pertahanan.

    Kekayaan inilah yang membuat Greenland tidak lagi dipandang sebagai wilayah terpencil, melainkan sebagai aset strategis bernilai tinggi.

    Amerika, Rusia, dan China Berebut Pengaruh

    Amerika Serikat menilai penguasaan Greenland penting untuk mencegah meluasnya pengaruh Rusia dan China di Arktik. Trump bahkan secara terbuka menyatakan bahwa jika AS tidak bertindak, maka dua rival utamanya itu akan “mengambil alih” Greenland.

    Di sisi lain, Rusia terus memperkuat kehadiran militernya di wilayah Arktik, sementara China, meski bukan negara Arktik—secara agresif menanamkan investasi dan menyebut dirinya sebagai “negara dekat Arktik”.

    Persaingan ini menjadikan Greenland sebagai medan tarik-menarik kekuatan global, bukan sekadar isu regional.

    Greenland Menolak Jadi Objek Kekuasaan

    Di tengah rivalitas tersebut, para pemimpin politik Greenland dengan tegas menyatakan penolakan terhadap segala bentuk aneksasi atau pemaksaan kehendak. Lima partai politik di Greenland sepakat menyuarakan pesan keras: masa depan Greenland harus ditentukan oleh rakyatnya sendiri.

    “Kami tidak ingin menjadi warga Amerika, kami tidak ingin menjadi warga Denmark, kami ingin menjadi warga Greenland,” tegas para pemimpin politik setempat.

    Pernyataan ini juga mencerminkan kebangkitan identitas nasional Greenland, yang semakin aktif di panggung internasional dan ingin lepas dari bayang-bayang kekuatan besar.

    Ancaman terhadap Stabilitas Global

    Ancaman penggunaan kekuatan militer untuk merebut Greenland menuai kecaman luas, terutama dari negara-negara Eropa. Sejumlah pihak memperingatkan bahwa langkah semacam itu dapat memicu krisis serius dalam aliansi NATO dan merusak tatanan hukum internasional.

    Apa yang terjadi di Greenland kini bukan sekadar urusan pulau es di utara dunia, melainkan cerminan perebutan kekuasaan global di era baru, ketika sumber daya, iklim, dan geopolitik saling bertaut erat.

    Dari wilayah es abadi yang sunyi, Greenland kini berdiri di pusat pusaran konflik global. Dan dunia tengah menyaksikan, ke mana arah masa depannya akan ditentukan.

    Editor : Anton Suhartono
    Komentar
    Additional JS