China Murka, Kecam Aksi AS Sita Kapal Minyak Venezuela: Langgar Hukum Internasional - Tribunnews
China Murka, Kecam Aksi AS Sita Kapal Minyak Venezuela: Langgar Hukum Internasional - Tribunnews.com
Ringkasan Berita:
- China mengecam keras penyitaan kapal tanker minyak Venezuela oleh AS, menyebutnya sebagai sanksi sepihak tanpa mandat PBB yang melanggar hukum internasional.
- Beijing menilai langkah AS menciptakan preseden berbahaya dan bentuk intimidasi unilateral, karena penyitaan dilakukan di perairan internasional dengan dalih penegakan sanksi domestik Amerika Serikat.
- China khawatir kesepakatan energi AS–Venezuela berpotensi mengalihkan pasokan minyak ke AS, mengganggu kepentingan energi China.
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah China mengecam tindakan Amerika Serikat yang menyita kapal tanker minyak berbendera Rusia di Samudra Atlantik Utara, Kamis (8/1/2026)
Menyebut langkah tersebut sebagai “sanksi sepihak” dan pelanggaran hukum internasional.
Pernyataan keras ini dilontarkan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers di Kota Beijing.
Dalam keterangan resminya, Mao Ning menyatakan bahwa China mengecam tindakan AS yang menyita kapal di laut lepas.
Adapun operasi penyitaan dilakukan oleh pasukan AS pada hari Rabu (7/1/2026) terhadap sebuah kapal tanker minyak yang kini dikenal sebagai Marinera (sebelumnya M/V Bella 1) di Samudra Atlantik Utara.
Pemerintah AS menyatakan bahwa kapal tersebut disita karena dugaan melanggar sanksi minyak yang diberlakukan terhadap Venezuela.
Keputusan itu diumumkan oleh Komando Selatan militer AS, yang menyebut operasi dilakukan berdasarkan surat perintah pengadilan federal AS setelah kapal tersebut dilacak oleh Penjaga Pantai AS.

“Blokade terhadap minyak Venezuela yang dikenai sanksi tetap diberlakukan sepenuhnya di mana pun di dunia,” kata pejabat AS yang terlibat dalam operasi tersebut, sebagimana dikutip dari Anadolu.
Namun, menurut Mao, tindakan tersebut melanggar hukum laut internasional dan kedaulatan negara lain, serta menciptakan preseden berbahaya untuk penegakan hukum di perairan internasional.
Lantaran tindakan AS dilakukan tanpa mandat dari Dewan Keamanan PBB dan tanpa dasar hukum internasional yang kuat, sehingga disebut sebagai tindakan “unilateral bullying” atau intimidasi sepihak
China: Kesepakatan Energi AS–Venezuela Ancam Pasokan Minyak ke Asia
Selain mengecam aksi penyitaan minyak AS, pemerintah China turut melayangkan kritik tajam kepada Amerika Serikat atas isu yang berkembang.
China menyebut bahwa Trump ingin mengarahkan ekspor puluhan juta barel minyak Venezuela dengan nilai 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp33,5 triliun ke Amerika Serikat.
Namun, langkah itu dipandang China sebagai tekanan unilateral terhadap Venezuela dan berpotensi berdampak pada kepentingan energi Beijing di tengah ketergantungan historis China pada pasokan minyak Venezuela.
Sudah lama Venezuela menjadi salah satu mitra energi strategis Asia, dengan sebagian besar ekspor minyak negara itu dialihkan ke kilang-kilang di China.
Hubungan perdagangan kedua negara mencerminkan kerja sama yang melampaui sekadar transaksi komersial biasa.
Data menunjukkan bahwa sebelum blokade dan ketegangan terbaru, sekitar 778.000 barel per hari dari total ekspor minyak Venezuela dikirim ke China.
Jumlah itu menjadikan Beijing sebagai tujuan utama minyak mentah Caracas meskipun totalnya hanya sekitar 4 persen dari seluruh impor minyak mentah China.
China juga telah menanamkan investasi besar di industri minyak Venezuela melalui perusahaan-perusahaan seperti CNPC dan Sinopec, yang memiliki konsesi signifikan dalam cadangan minyak Venezuela.
Akan tetapi, munculnya rencana AS untuk memperoleh puluhan juta barel minyak dari Venezuela senilai 2 miliar dolar dan menjualnya ke kilang-kilang AS dipandang Beijing sebagai potensi pengalihan aliran pasokan minyak yang sebelumnya mengalir ke China, meskipun secara proporsi terhadap total pasokan energi nasional China tidak besar.
Beijing melihat langkah AS bukan sekadar persaingan pasar energi, tetapi juga sebagai bagian dari upaya geopolitik yang dapat menyeret mitra dagang China dalam konflik global yang lebih luas.
Oleh karena itu, kritik China terhadap penyitaan kapal dan upaya AS mengendalikan aliran minyak Venezuela tidak hanya bersandar pada aspek hukum internasional, tetapi juga pada kekhawatiran strategis atas ketahanan energi nasional dan hubungan ekonomi bilateral dengan Caracas.
(Tribunnews.com / Namira)