Aliansi Keamanan Amerika dan Thailand Dikabarkan Retak, Bangkok Pilih Merapat ke China? - Tribunnews
Aliansi Keamanan Amerika dan Thailand Dikabarkan Retak, Bangkok Pilih Merapat ke China? - Tribunnews.com
Kondisi ini membuat aliansi AS-Thailand dianggap hanya sebagai "macan kertas" yang berdampak besar pada strategi pertahanan Paman Sam di kawasan Asia Tenggara.
Pengaruh AS di Asia Tenggara Merosot Tajam
Emma Chanlett-Avery, Direktur Urusan Politik-Keamanan di Asia Society Policy Institute, Washington, mengungkapkan kekhawatirannya kepada Military Times.
Menurutnya, kedekatan Thailand dengan Negeri Tirai Bambu mempercepat hilangnya pengaruh strategis AS di Asia Tenggara.
"Meskipun Thailand adalah sekutu resmi AS, pusat gravitasi Bangkok sudah lama condong ke arah Beijing (RRT)," ujarnya.
Digerus pengaruh China
Berdasarkan data terbaru dari Lowy Institute, China kini menjadi mitra yang paling berpengaruh di Asia Tenggara, mengalahkan Amerika Serikat.
China menjadi mitra utama bagi banyak negara besar seperti Indonesia, Malaysia, dan Vietnam. Sementara itu, Amerika Serikat hanya unggul di dua negara saja, yaitu Filipina dan Singapura.
Namun, meskipun China sangat kuat, mereka tidak benar-benar menguasai kawasan ini sepenuhnya.
"Hal ini dikarenakan negara-negara di Asia Tenggara ternyata jauh lebih kompak dan saling bergantung satu sama lain dibandingkan dengan negara luar. Hubungan antar tetangga di kawasan ini masih menjadi kekuatan utama yang menjaga keseimbangan," demikian menurut data tersebut.
Di sisi lain, posisi Amerika Serikat sebagai mitra kedua paling berpengaruh diprediksi akan terus menurun.
Kebijakan pemerintah Amerika yang baru, seperti kenaikan pajak barang impor, pemotongan bantuan luar negeri, dan aturan visa pelajar yang ketat, dianggap akan menjauhkan negara-negara Asia Tenggara dari pengaruh Paman Sam.
Dulu Mesra dengan AS, Sekarang Berpaling ke Beijing
Kembali ke Thailand. Sejarah mencatat, Thailand (dulu Siam) adalah negara Asia pertama yang menandatangani perjanjian persahabatan dengan AS pada tahun 1833.
Thailand bahkan menjadi pangkalan utama operasi AS selama Perang Vietnam.
Namun, peta kekuatan berubah drastis setelah kudeta militer di Thailand tahun 2014.
Saat Washington menarik diri sebagai bentuk protes terhadap penggulingan pemerintah demokratis, Beijing justru datang membawa tawaran menggiurkan.
Misalnya saja, di tahun 2019, Angkatan Darat Thailand telah menerima 10 tank tempur Norinco VT-4 baru dari China - batch terakhir dari pesanan yang diperkirakan sekitar 50 unit.
Komandan di Pusat Kavaleri Angkatan Darat Kerajaan Thailand ketika itu mengumumkan kepada pers kepuasannya terhadap VT-4, menyebutnya sebagai tank canggih kelas dunia dengan informatisasi, kemampuan manuver, dan daya tembak yang sangat baik.
Pada saat itu, Kepala Angkatan Darat Thailand, Jenderal Chalermchai Sitthisart, mengungkapkan bahwa China dan Thailand akan bersama-sama membangun pusat perbaikan dan pemeliharaan untuk VT-4 guna melayani platform tersebut.
Fakta-fakta Kedekatan Thailand-China:
- Belanja Senjata: Menurut Lowy Institute, China menjual senjata senilai hampir 400 juta dolar AS ke Thailand (2016-2022), dua kali lipat dari nilai penjualan AS.
- Alutsista: Thailand membeli rudal darat-ke-udara, radar, tank, hingga kapal selam pertama dari China.
- Latihan Militer: Meski AS masih memegang kendali latihan yang lebih canggih, China mulai mengejar ketertinggalan dalam intensitas latihan militer bersama Thailand.
Ancaman 'Putus Hubungan' dan Nasib Pangkalan Udara U-Tapao
Zach Cooper, pakar dari American Enterprise Institute, memperingatkan adanya risiko "decoupling" atau pemutusan hubungan strategis.
Jika ini terjadi, AS terancam kehilangan akses ke pangkalan udara penting seperti U-Tapao.
Padahal, pangkalan ini sangat krusial bagi logistik militer global AS karena lokasinya yang strategis di utara Asia Tenggara.
"AS tidak punya banyak lokasi operasi di kawasan ini. Tanpa U-Tapao, mengelola kehadiran militer global akan sangat menantang," kata Cooper.
Tak hanya itu, Thailand diprediksi bakal ogah memberikan izin bagi AS untuk menempatkan rudal guna membendung ancaman dari China maupun Korea Utara.
AS Tolak Jual Jet Tempur F-35 ke Thailand
Salah satu bukti keretakan hubungan ini adalah gagalnya upaya Thailand membeli jet tempur canggih F-35 dari Lockheed Martin pada 2023.
AS menolak permintaan tersebut dengan alasan yang diduga kuat berkaitan dengan kedekatan Thailand dengan China. Washington merasa "ngeri" jika teknologi militer sensitif mereka bocor ke tangan intelijen Beijing.
Paman Sam Mulai 'Pilih Kasih'?
Di sisi lain, AS sendiri terlihat mulai mengalihkan fokus dari daratan Asia Tenggara.
Kebijakan "Pivot to Asia" yang dulu digadang-gadang kini lebih fokus ke arah Timur, tepatnya ke "rantai pulau pertama" yang meliputi Jepang, Taiwan, hingga Filipina.
AS kini lebih getol membangun aliansi kecil seperti AUKUS atau kerja sama trilateral dengan Australia, India, dan Jepang, yang sayangnya banyak meninggalkan negara-negara Asia Tenggara.
"Hasil yang tidak menguntungkan dari dinamika ini adalah pengaruh AS anjlok, tidak hanya di Thailand, tapi juga di Asia Tenggara secara lebih luas," pungkas Chanlett-Avery.