Trump Umumkan Pasukan AS Tinggalkan Irak, Klaim Menang Telak Atas ISIS - detik
Jakarta -
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pasukan militer AS resmi meninggalkan Irak. Dia menyebut hal ini sebagai kemenangan bagi AS dan Irak atas ISIS.
"Hari ini, dengan bangga saya umumkan bahwa pasukan Amerika terakhir sedang meninggalkan Irak!" kata Trump melalui akun X resmi Gedung Putih @WhiteHouse, Kamis (1/10/2026).
Menurut Trump, AS sudah lama terjebak dalam situasi pelik akibat pengambilan keputusan yang buruk di masa lalu. Dia mengatakan tak lama lagi, keputusan tersebut hanya akan menjadi bagian dari sejarah.
Trump menyebut hal ini merupakan hal yang luar biasa bagi AS. Ia lalu mengapresiasi sosok pemimpin Irak yang baru, yang sudah didukungnya sejak awal.
"Ini adalah hari yang luar biasa bagi Amerika dan, yang terpenting, kita meninggalkan Irak dengan Perdana Menteri baru yang hebat, Ali al-Zaidi-sosok yang saya dukung sejak awal dan saya restui sepenuhnya. Ia memenangkan pemilihan umum yang awalnya tidak diprediksi akan dimenangkannya, dan ia menang dengan keunggulan mutlak!" kata Trump.
Diketahui pengerahan tentara AS ke Irak diluncurkan pada tahun 2003 di bawah kepemimpinan Presiden George W. Bush, serta dilanjutkan di bawah Pemerintahan Barack Hussein Obama pada tahun 2014 dan "Sleepy Joe" Biden. Operasi Inherent Resolve kini berakhir pada tahun 2026 di bawah kepemimpinan Presiden Donald J. Trump.
"Hari ini adalah kemenangan bagi Amerika Serikat, kemenangan bagi Irak, dan kemenangan telak atas ISIS-yang telah dihancurkan sepenuhnya oleh Pemerintahan Trump pada masa jabatan pertamanya-bersama dengan pihak-pihak berbahaya dan buruk lainnya," tuturnya.
Berbeda dengan situasi di Afghanistan, di mana banyak peralatan militer dan aset lainnya tertinggal, serta 13 prajurit gugur dan banyak lainnya terluka parah, penarikan pasukan dan peralatan Koalisi yang tertib dari Pangkalan Udara Erbil ini menandai berakhirnya operasi yang sangat mahal dan bagaikan "neraka".
"Saya menetapkan misi yang jelas, memberikan sarana kepada para komandan untuk menyelesaikannya, dan menolak membiarkan kehadiran sementara berubah menjadi kehadiran permanen," ungkapnya.
"Saya dihadapkan pada pilihan untuk tetap tinggal atau pergi, dan saya merasa yakin sepenuhnya bahwa sudah saatnya Amerika pulang! Perdana Menteri al-Zaidi adalah sosok yang luar biasa, dan diharapkan ia mampu menangani berbagai hal dengan sangat baik. Kita datang untuk memerangi kekhalifahan. Tidak ada lagi kekhalifahan. Kita akan pulang!" sambungnya.
Saksikan Live DetikPagi:
Tonton juga video "Trump soal Insiden FlyDubai: Kopilotnya Mungkin Seorang Teroris"
(yld/ygs)