Rusia Batasi BBM Diesel, Pasokan Teluk Terganggu, PM Slovakia Sebut Uni Eropa Sinis - Republika
Persoalan energi Eropa tidak lagi sebatas kenaikan harga minyak mentah.
Rep: Erdy Nasrul

Tangkapan Layar Youtube PM Slovakia Robert Fico
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tekanan energi kembali membayangi Eropa menjelang musim dingin. Rusia masih membatasi ekspor bahan bakar diesel ke sebagian besar pasar asing, pasokan dari Timur Tengah terganggu perang, sementara fasilitas penyimpanan gas Eropa hanya terisi sekitar 69 persen, jauh di bawah rata-rata musiman lima tahun sebesar 85 persen.
Kombinasi tersebut membuat persoalan energi Eropa tidak lagi sebatas kenaikan harga minyak mentah. Diesel yang menggerakkan truk, mesin pertanian dan industri semakin mahal, sedangkan gas yang menjadi salah satu penyangga utama kebutuhan pemanasan musim dingin belum tersimpan sebanyak biasanya.
Data Gas Infrastructure Europe (GIE) yang dikutip Reuters menunjukkan fasilitas penyimpanan gas Eropa terisi sekitar 69 persen pada pertengahan September 2026, jauh di bawah rata-rata lima tahun sebesar 85 persen untuk periode yang sama. Jerman dan Belanda, yang bersama-sama memiliki sekitar 35 persen kapasitas penyimpanan gas Uni Eropa, termasuk negara yang tertinggal dalam pengisian kembali stok.
Harga energi yang tinggi menjadi salah satu penyebab perusahaan menunda pembelian gas dalam jumlah besar. Strategi tersebut sebelumnya didasarkan pada perkiraan perang Iran akan cepat berakhir dan harga energi akan kembali turun, tetapi asumsi itu semakin sulit dipertahankan.
Uni Eropa sebenarnya telah memperluas sumber pasokannya secara signifikan sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Namun, guncangan baru menunjukkan diversifikasi tidak berarti Eropa kebal terhadap gangguan apabila beberapa pusat produksi dan jalur perdagangan mengalami masalah secara bersamaan.
Rusia Batasi Ekspor Diesel
Salah satu tekanan datang dari Rusia. Moskow membatasi ekspor produk bahan bakar, termasuk diesel, untuk mempertahankan ketersediaan di pasar domestik setelah serangan Ukraina berulang kali mengganggu operasi sejumlah kilang.
Pembatasan tersebut tidak berarti seluruh bahan bakar diesel Rusia berhenti mengalir ke luar negeri. Sejumlah negara yang memiliki pengaturan khusus dengan Moskow masih memperoleh pasokan, termasuk Kazakhstan, Kirgistan, Tajikistan, dan Mongolia.
Sebelum gangguan terbaru, Rusia merupakan eksportir diesel terbesar kedua dunia setelah Amerika Serikat. Pada 2025, Rusia mengekspor lebih dari 800 ribu barel diesel per hari, setara sekitar 12 persen dari ekspor diesel global melalui jalur laut, berdasarkan data Kpler yang dikutip Reuters.
Serangan Ukraina telah memperparah persoalan tersebut. Pada September, setengah dari enam kilang penghasil diesel terbesar Rusia dilaporkan menghentikan atau memangkas produksi secara signifikan.
Rusia juga memangkas proyeksi produksi minyak 2026 menjadi level terendah dalam 17 tahun. Pemerintah Moskow menerapkan sejumlah pembatasan sementara terhadap ekspor diesel, bensin, dan bahan bakar pesawat untuk memprioritaskan kebutuhan domestik.
Dampaknya terasa di pasar global karena kapasitas penyulingan tidak mudah digantikan hanya dengan menambah produksi minyak mentah. Diesel harus diproses di kilang, sementara kapasitas pengolahan yang tersedia di negara lain juga terbatas.
Timur Tengah Terpukul Perang
Sumber tekanan kedua datang dari Timur Tengah. Kawasan tersebut sebelumnya merupakan eksportir diesel terbesar dunia dengan pengiriman sekitar 1,5 juta barel per hari pada 2025.
Perang Iran kemudian mengubah peta pasokan. Serangan terhadap fasilitas energi, berkurangnya akses terhadap bahan baku dan terganggunya jalur pelayaran membuat ekspor diesel Timur Tengah turun lebih dari 50 persen antara Maret dan Agustus.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling sensitif. Jalur tersebut sebelumnya dilewati sekitar seperlima konsumsi minyak global, sehingga setiap penurunan lalu lintas kapal mempunyai konsekuensi langsung terhadap arus energi internasional.
Sebagian aliran minyak memang mulai pulih melalui jalur alternatif dan mekanisme pengiriman baru. Namun, memulihkan kapasitas penyulingan yang rusak akibat perang jauh lebih sulit daripada sekadar memindahkan rute kapal.
Reuters mencatat gabungan ekspor diesel Rusia dan negara-negara Teluk telah turun sekitar dua pertiga dibandingkan tingkat 2025. Kekurangan sebesar itu sulit ditutup sepenuhnya oleh produsen lain dalam waktu singkat.
China telah meningkatkan ekspor produk olahan. Ekspor diesel China pada Agustus mencapai 1,33 juta ton, meningkat 42,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menjadi angka tertinggi sejak Maret 2024.
Namun, tambahan dari China belum sepenuhnya menghapus defisit global. Pasar masih menghadapi persediaan rendah dan kemampuan kilang yang terbatas untuk meningkatkan produksi dengan cepat.
Diesel Cetak Rekor
Tekanan pasokan segera tercermin pada harga. Kontrak berjangka diesel Eropa pada pertengahan September menyentuh rekor sekitar 210 dolar AS per barel, sementara harga diesel ritel AS untuk pertama kalinya menembus enam dolar AS per galon.
Diesel memiliki pengaruh ekonomi yang lebih luas dibandingkan sekadar harga bahan bakar kendaraan pribadi. Bahan bakar tersebut digunakan oleh pertanian, manufaktur, alat berat, angkutan barang dan sebagian kegiatan pelayaran.
Kenaikan harga diesel karena itu dapat masuk ke harga makanan dan barang lain melalui kenaikan ongkos produksi serta distribusi. Efek tersebut dapat bertahan lebih lama apabila pasokan kilang tetap terbatas.
Reuters melaporkan kekurangan diesel global berpotensi berlanjut hingga 2027. Persediaan telah turun ke tingkat historis rendah di sejumlah pasar, sementara perang Iran dan Ukraina terus mengganggu dua kawasan pemasok utama.
Kondisi tersebut semakin menyulitkan Eropa karena benua itu juga memasuki musim dingin dengan persediaan gas yang lebih rendah daripada biasanya.
Halaman 2 / 5
Fico Desak KTT Darurat
Tekanan energi kini mulai berubah menjadi tekanan politik di dalam Uni Eropa. Perdana Menteri Slovakia Robert Fico pada Selasa (22/9/2026) menyerukan pertemuan darurat para pemimpin UE untuk secara khusus membahas lonjakan harga bahan bakar.
Fico menilai Brussels belum memberikan respons yang sebanding dengan besarnya tekanan yang sedang dihadapi rumah tangga dan pemerintah negara anggota. Ia mengatakan negara-negara UE dibiarkan “berada di bawah belas kasihan dampak mengerikan krisis minyak”.
“Jika negara-negara anggota harus menutup mahalnya harga bahan bakar dengan mengorbankan pensiun atau layanan kesehatan, itu bukan sekadar bukti ketidakmampuan Uni Eropa, tetapi juga bentuk sinisme,” kata Fico sebagaimana diberitakan Reuters.
Menurut Fico, pemerintah nasional akhirnya harus mengeluarkan anggaran besar untuk menahan harga bahan bakar. Kondisi tersebut, katanya, berpotensi membuat belanja energi bersaing langsung dengan kebutuhan sosial lainnya.
Fico secara khusus mempersoalkan kemungkinan pemerintah harus menanggung harga energi tinggi dengan “mengorbankan pensiun atau layanan kesehatan”. Ia menggambarkan kondisi tersebut sebagai bukti kegagalan UE memberi respons yang cukup cepat terhadap tekanan biaya hidup.
Fico juga membandingkan respons UE terhadap krisis energi dengan kecepatan blok tersebut ketika menggelar pertemuan darurat dan mengalokasikan dukungan besar bagi Ukraina. Menurut dia, kegelisahan warga Eropa akibat biaya hidup juga membutuhkan tingkat urgensi politik yang serupa.
Pemerintah Slovakia mengatakan akan menyiapkan langkah-langkah untuk menjaga harga tetap terkendali. Reuters melaporkan kabinet Fico dijadwalkan membahas langkah tersebut sehari setelah pernyataannya.
Posisi Fico perlu dilihat dalam konteks politik yang lebih luas. Pemimpin Slovakia itu selama ini merupakan salah satu pengkritik paling keras kebijakan energi UE dan beberapa kali mempertanyakan dampak sanksi terhadap Rusia bagi perekonomian negara-negara Eropa.
Slovakia juga masih mengimpor energi Rusia. Fico mempertahankan hubungan dengan Moskow dan beberapa kali bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin sejak invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada 2022.
Karena itu, pernyataannya tidak mewakili seluruh anggota Uni Eropa. Namun, seruan menggelar KTT darurat memperlihatkan bahwa harga energi kini semakin masuk ke arena politik domestik negara-negara anggota.
Tekanan serupa terlihat di Jerman. Harga energi yang tinggi turut menjadi bagian dari perdebatan politik setelah tingkat penyimpanan gas negara tersebut tertinggal dan biaya bahan bakar meningkat.
Secara keseluruhan di Uni Eropa, harga bensin disebut sekitar 24 persen lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Diesel naik sekitar 38 persen, sedangkan harga gas mencapai sekitar 81 euro per megawatt jam atau sekitar 150 persen lebih tinggi dibandingkan setahun sebelumnya.
Halaman 3 / 5
Stok Gas Jadi Ujian Berikutnya
Persoalan menjadi lebih sensitif karena musim dingin semakin dekat. Fasilitas penyimpanan gas merupakan bantalan yang digunakan Eropa ketika konsumsi meningkat tajam akibat kebutuhan pemanasan.
Dengan tingkat keterisian sekitar 69 persen, Eropa memasuki musim permintaan tinggi dari posisi yang lebih lemah daripada rata-rata beberapa tahun terakhir. Namun, angka itu tidak berarti Eropa telah kekurangan gas secara fisik saat ini.
Pasokan LNG masih terus masuk, terutama dari Amerika Serikat. Eropa juga telah membangun terminal baru dan mengurangi konsumsi dibandingkan sebelum krisis energi 2022.
Risikonya muncul apabila musim dingin berlangsung lebih dingin dan pasokan global kembali terganggu. Dalam situasi tersebut, stok dapat terkuras lebih cepat sementara Eropa harus bersaing dengan pembeli Asia untuk memperoleh kargo LNG tambahan.
Strategis UniCredit Jonathan Schroer menilai setiap bulan keterlambatan mengisi penyimpanan akan menambah tekanan terhadap harga ketika penggunaan musim dingin mencapai puncaknya. Morgan Stanley juga memperingatkan bahwa bergantung pada cuaca sebagai jaminan keamanan pasokan merupakan pilihan yang berisiko.
Jack Sharples dari Oxford Institute for Energy Studies mengatakan bahkan musim dingin yang normal, bukan ekstrem, dapat menyebabkan fasilitas penyimpanan terkuras cukup dalam. Risiko itu menjadi lebih besar jika pasokan LNG global kembali mengalami gangguan.
Halaman 4 / 5
Macron Minta Fleksibilitas
Prancis memilih respons yang berbeda dengan Slovakia. Presiden Emmanuel Macron meminta Komisi Eropa memberikan fleksibilitas sementara terhadap sejumlah regulasi agar kilang bisa meningkatkan produksi diesel dan kerosin.
Macron juga meminta penundaan selama satu tahun terhadap sejumlah kewajiban pelaporan emisi metana bagi importir minyak dan gas. Prancis memperkirakan pelonggaran aturan produksi tertentu dapat meningkatkan keluaran diesel dan kerosin sekitar 5 persen hingga 20 persen.
Paris tidak mengusulkan pencabutan sanksi terhadap Rusia sebagai solusi. Pendekatannya lebih diarahkan pada peningkatan produksi, pencarian sumber pasokan alternatif, dan perlindungan konsumen yang terdampak harga tinggi.
Perbedaan pendekatan antara Paris dan Bratislava menunjukkan tekanan energi menghasilkan respons politik yang tidak selalu sama. Macron lebih banyak mendorong fleksibilitas regulasi, sedangkan Fico secara terbuka mempertanyakan prioritas kebijakan Uni Eropa dan mendesak pertemuan darurat.
Halaman 5 / 5
Tiga Tekanan Bersamaan
Eropa sebenarnya berada dalam posisi yang lebih terdiversifikasi dibandingkan ketika krisis energi pertama kali meledak setelah invasi Rusia ke Ukraina. Ketergantungan terhadap gas Rusia telah dikurangi drastis dan infrastruktur LNG diperluas.
Namun, krisis 2026 memiliki karakter berbeda. Gangguan terjadi hampir bersamaan pada kilang Rusia, fasilitas energi Timur Tengah, jalur pelayaran strategis dan pasar LNG.
Itulah sebabnya persoalan tidak dapat disederhanakan menjadi kesimpulan bahwa Eropa semata-mata kekurangan energi karena menjauh dari Rusia. Serangan terhadap fasilitas produksi dan gangguan perang di beberapa kawasan telah mempersempit pasar global secara keseluruhan.
Pada saat yang sama, ketergantungan yang lebih kecil terhadap Rusia membuat Eropa semakin membutuhkan pasar internasional yang terbuka dan pasokan alternatif yang stabil. Ketika Timur Tengah ikut terganggu, keunggulan diversifikasi tersebut menghadapi ujian.
Pemerintah negara-negara Eropa kini harus menyeimbangkan beberapa kepentingan sekaligus. Mereka ingin mempertahankan tekanan terhadap Rusia, menjaga transisi energi, melindungi anggaran negara, sekaligus memastikan rumah tangga dan industri memperoleh bahan bakar dengan harga yang dapat ditanggung.
Seruan Fico memperlihatkan bagaimana keseimbangan itu mulai dipersoalkan secara terbuka. Ketika biaya energi mulai dikaitkan dengan pensiun, layanan kesehatan, inflasi dan daya beli, krisis pasokan tidak lagi menjadi urusan pedagang minyak dan gas semata.
Beberapa bulan ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan perang di Iran dan Ukraina, kemampuan kilang global meningkatkan produksi, aliran LNG, serta suhu musim dingin.
Eropa masih memiliki lebih banyak pilihan sumber energi dibandingkan beberapa tahun lalu. Tetapi ketika diesel Rusia tertahan, pasokan Timur Tengah terganggu dan penyimpanan gas berada jauh di bawah tingkat normal musiman, setiap pilihan menjadi lebih mahal dan ruang untuk melakukan kesalahan semakin sempit.
- rusia
- diesel rusia
- ekspor diesel rusia
- bbm diesel
- krisis minyak
- eropa
- uni eropa
- pasokan energi eropa
- pasokan teluk
- kawasan teluk
- selat hormuz
- perang iran
- timur tengah
- harga diesel
- harga minyak
- krisis energi eropa
- cadangan gas eropa
- penyimpanan gas eropa
- gas eropa
- musim dingin eropa
- slovakia
- robert fico
- pm slovakia
- sanksi rusia
- perang ukraina
- kilang minyak rusia
- ekspor energi
- pasokan global
- harga energi
- ketahanan energi eropa
Berita Terkait
Dekat Iran, Bahrain Gabung dengan Satgas Drone Serang Di Bawah Komando AS
Internasional - 5 jam yang lalu
Rusia Siap Kerahkan Seluruh Persenjataan Jika NATO Nekat Isolasi Kaliningrad
Internasional - 30 September 2026, 14:08
Upaya Diplomasi tak Langsung Iran-AS di New York Kian Terpuruk, Ini yang Terjadi di Belakang Layar
Dunia - 30 September 2026, 09:14
Peringatan Keras Ghalibaf: Tak Ada Negara Timteng yang Bisa Jual Minyak Jika Iran Diblokade
Internasional - 30 September 2026, 07:52
Garda Revolusi Sampaikan Pesan kepada Rakyat AS, Ancam Gunakan Senjata Baru
Dunia - 29 September 2026, 22:50