Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Moscow Rudal FP-9 Spesial Ukraina Zelensky

    Rudal FP-9 Ukraina Bidik Moskow, Zelensky Perintahkan Serangan ke Kilang Minyak Rusia - Tribunnews

    8 min read

    Telegram Gubernur Oblast Moskow Andrey Vorobyov A-A+ SERANGAN DRONE UKRAINA - Dampak serangan pesawat nirawak yang dilaporkan di Oblast Moskow, Rusia, pada 11 Maret 2025. Pertahanan udara Rusia tembak jatuh 337 drone Ukraina di 10 wilayah, 91 drone ditembak jatuh di wilayah Oblast Moskow. 

    Rudal FP-9 Ukraina Bidik Moskow, Zelensky Perintahkan Serangan ke Kilang Minyak Rusia
     

    TRIBUNNEWS.COM - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengisyaratkan kalau negaranya akan meningkatkan serangan terhadap sektor energi Rusia.

    Fokus serangan, terutama kilang minyak, sebagai balasan atas serangan Moskow terhadap infrastruktur energi Ukraina.

    Dalam wawancara dengan Reuters, Zelensky mengatakan Ukraina perlu menyerang sumber pendapatan yang menopang mesin perang Rusia.

    Namun, ia menegaskan Kyiv tidak akan menjadikan warga sipil sebagai sasaran.

    Baca juga: 3 Kali dalam Sehari, Drone Rusia Serang Jembatan Pivdennyi di Kyiv: Jalur Logistik Ukraina Terganggu

    “Kita harus menanggapi dengan cara apa pun yang kita bisa terhadap serangan mereka terhadap sektor energi kita. Kita harus menanggapi sektor energi mereka. Pertama dan terutama, kilang minyak: itulah yang memberi mereka uang untuk melancarkan perang ini,” kata Zelensky.

    “Tetapi tentu saja, kita tidak akan menanggapi dengan cara yang sama seperti mereka, terhadap target sipil apa pun,” lanjutnya.

    Pernyataan tersebut menandai semakin terbukanya strategi Kyiv untuk menekan perekonomian Rusia melalui fasilitas energi yang dianggap berperan dalam membiayai perang.

    Zelensky Klaim Rusia Siapkan Serangan Lebih Luas

    Zelensky juga mengklaim Ukraina memperoleh dokumen intelijen yang menurutnya menunjukkan adanya kebijakan baru Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memperluas serangan terhadap target sipil menjelang musim dingin.

    Menurut Zelensky, dokumen tersebut mengizinkan serangan terhadap berbagai infrastruktur, termasuk fasilitas logistik, jalan raya, sekolah, dan rumah sakit.

    “Kami telah melihat dokumen-dokumen tersebut dan kami tahu bahwa dokumen-dokumen itu mengizinkan mereka untuk menyerang infrastruktur… logistik… jalan raya, sekolah, dan rumah sakit, untuk menekan orang-orang agar meninggalkan ibu kota dan kota-kota lain,” ujarnya.

    “Itulah tujuan dari operasi tersebut,” katanya.

    Zelensky menilai perubahan taktik tersebut berkaitan dengan kondisi militer Rusia di medan perang. Ia menyebut Putin ingin menunjukkan kekuatan ketika pasukan Rusia kehilangan wilayah di sejumlah sektor penting dan menghadapi korban yang semakin besar.

    Klaim mengenai dokumen intelijen tersebut merupakan pernyataan dari pihak Ukraina dan tidak disertai rincian dokumen dalam laporan Reuters tersebut.

    Ukraina Klaim Rebut 140 Kilometer Persegi

    Di tengah eskalasi serangan udara, Zelensky juga mengklaim operasi balasan Ukraina yang diberi kode “Vivaldi” telah membantu pasukannya merebut kembali kendali atas sekitar 140 kilometer persegi wilayah di Donbas, Ukraina timur.

    Donbas menjadi salah satu wilayah utama yang diperebutkan dalam perang Rusia-Ukraina. Kyiv menilai penguasaan penuh kawasan tersebut menjadi salah satu tuntutan utama Moskow sebelum kesepakatan damai dapat dicapai.

    Klaim mengenai keberhasilan operasi tersebut menjadi bagian dari narasi Kyiv bahwa tekanan terhadap Rusia di medan perang masih berlangsung.

    Trump Pernah Minta Ukraina Tahan Serangan ke Fasilitas Minyak

    Pernyataan Zelensky muncul ketika pemerintahan Presiden AS Donald Trump berupaya menghidupkan kembali perundingan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama sekitar empat tahun.

    Bulan lalu, Trump meminta Ukraina menahan diri dari serangan terhadap fasilitas minyak Rusia. Trump sebelumnya menyatakan serangan semacam itu dapat mendorong kenaikan harga solar di pasar global.

    Namun, Zelensky mengatakan dirinya belum melihat tanda bahwa Putin benar-benar ingin kembali ke meja perundingan atau membahas gencatan senjata terkait serangan terhadap infrastruktur energi.

    Pekan lalu, Kyiv kembali menghadapi serangan drone dan rudal Rusia yang menargetkan fasilitas energi dan komunikasi, selain infrastruktur jalan serta kereta api.

    Rusia juga dilaporkan untuk pertama kalinya menyerang jembatan-jembatan di atas Sungai Dnieper yang menghubungkan bagian timur dan barat Kyiv.

    Zelensky mengatakan Ukraina akan merespons perubahan taktik Rusia, tetapi menegaskan bahwa Kyiv tidak akan meniru pola serangan terhadap infrastruktur sipil yang ia tuduhkan dilakukan Moskow.

    Rudal FP-9 Disebut Bisa Menjangkau Moskow

    Selain memperluas serangan terhadap fasilitas energi Rusia, Zelensky juga mengungkap ambisi Ukraina mengembangkan rudal balistik dengan jangkauan yang lebih jauh.

    Beberapa hari sebelumnya, Ukraina mengumumkan penggunaan tempur pertama rudal balistik buatan dalam negeri yang disebut FP-7, dengan jangkauan sekitar 250 kilometer.

    Zelensky mengatakan dirinya telah menghubungi Firepoint, produsen rudal tersebut, dan meminta perusahaan itu mempercepat pengembangan varian berikutnya, FP-9.

    Menurut perusahaan, FP-9 dirancang memiliki jangkauan yang mampu mencapai Moskow. Klaim mengenai kemampuan tersebut berasal dari produsen dan belum menjadi verifikasi independen dalam laporan tersebut.

    “Saya memberi tahu mereka: Di mana rudal FP-9 saya? Kita membutuhkan rudal FP-9. Dan saya yakin itu akan siap pada musim gugur ini,” kata Zelensky sambil tersenyum.

    Pengembangan rudal jarak lebih jauh dapat memberikan Ukraina kemampuan tambahan untuk menyerang sasaran yang lebih jauh di dalam wilayah Rusia.

    Namun, langkah tersebut juga berpotensi meningkatkan risiko eskalasi perang.

    Kyiv Hadapi Kekurangan Anggaran Rp438 Triliun

    Di tengah kebutuhan persenjataan yang terus meningkat, Ukraina juga masih menghadapi persoalan pendanaan.

    Zelensky mengatakan setelah melakukan pembicaraan dengan pejabat Eropa di Brussels pada pekan sebelumnya, Ukraina memperoleh pendanaan untuk melanjutkan pemesanan drone yang dibutuhkan hingga awal 2027.

    Para pejabat Ukraina bersama mitra Eropa juga sedang menyusun skema untuk menutup kekurangan anggaran pertahanan Kyiv yang disebut mencapai US$27 miliar, atau sekitar Rp438,8 triliun dengan asumsi kurs Rp16.250 per dolar AS.

    Kebutuhan pendanaan tersebut menunjukkan bahwa perang Rusia-Ukraina tidak hanya memasuki fase persaingan di medan tempur, tetapi juga semakin bergantung pada kemampuan masing-masing pihak mempertahankan kapasitas produksi senjata, energi, dan pembiayaan perang.

    Bagi Kyiv, kilang minyak Rusia kini dipandang sebagai salah satu titik tekan ekonomi, sementara pengembangan rudal jarak jauh membuka opsi baru untuk menyerang sasaran yang sebelumnya berada di luar jangkauan persenjataan Ukraina.

    Komentar
    Additional JS