Trump Desak Ukraina Punya Presiden Baru, Zelensky Disalahkan atas Perang dengan Rusia - Tribunnews
Ringkasan Berita:
- Donald Trump menyarankan Ukraina memiliki presiden baru yang bersedia mencapai kesepakatan damai dengan Rusia.
- Pernyataan itu muncul di tengah perselisihan terkait kesepakatan pasokan solar Rusia dan perbedaan pandangan mengenai upaya mengakhiri perang.
- Zelensky mengkritik pelonggaran sanksi terhadap Rusia setelah serangan di Zaporizhzhia menewaskan sedikitnya 20 orang, menurut pejabat Ukraina.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mendesak Ukraina mencari presiden baru yang bersedia menyepakati perdamaian dengan Rusia.
Desakan itu muncul di tengah perseteruannya dengan Kyiv terkait kesepakatan pasokan solar dari Rusia, yang semakin memperuncing ketegangan antara Washington dan pemerintah Presiden Volodymyr Zelensky.
Trump menilai Zelensky telah berulang kali melewatkan kesempatan untuk mengakhiri perang yang berlangsung sejak invasi skala penuh Rusia pada 2022.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump di Gedung Putih pada Sabtu (10/10/2026).
Dikutip dari Al Jazeera, Trump menuding Zelensky tidak berbuat cukup untuk mengakhiri perang.
Ia juga menyalahkan serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia atas masalah pasokan diesel yang berdampak pada pasar energi.
"Saya sarankan mereka mencari pemimpin baru yang bisa membuat kesepakatan," kata Trump.
Ia mengklaim Zelensky sebenarnya memiliki banyak kesempatan untuk mencapai kesepakatan dengan Moskow, tetapi tidak pernah memanfaatkannya.
Trump juga menyinggung kerugian teritorial dan besarnya jumlah korban akibat perang sebagai alasan Ukraina perlu memiliki pemimpin baru.
"Perang itu seharusnya tidak pernah dimulai. Dan saya pikir sudah saatnya Ukraina mendapatkan presiden baru," ujarnya.
Baca juga: Rudal FP-9 Ukraina Bidik Moskow, Zelensky Perintahkan Serangan ke Kilang Minyak Rusia
Trump bahkan mengatakan perang Rusia-Ukraina tidak akan terjadi jika dirinya menjadi presiden AS pada 2022.
"Perang itu dimulai karena ketidakmampuan," katanya.
Pernyataan tersebut langsung mendapat tanggapan dari pemerintah Ukraina.
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andriy Sybiga membela Zelensky dan menegaskan bahwa rakyat Ukraina berhak menentukan pemimpin mereka sendiri.
"Dia mendapat dukungan dari rakyat Ukraina, dan mereka berhak untuk memutuskan," tulis Sybiga dalam unggahan di X.
Ia menilai pernyataan dari luar negeri justru menegaskan bahwa Zelensky menjalankan tugasnya dengan baik dan pantas mendapat dukungan.
Trump Sepakati Pasokan Solar dari Rusia
Perseteruan Trump dan Zelensky kembali memanas setelah Washington menyepakati pasokan solar dari Rusia.
Pada Jumat (9/10/2026), Trump mengumumkan kesepakatan dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin untuk mendatangkan solar guna membantu mengatasi tingginya harga bahan bakar.
Menurut laporan Al Jazeera, Trump mengatakan Rusia akan segera memasok lebih dari 300.000 ton solar.
Pengiriman berikutnya mencakup tambahan 500.000 ton pada November, disusul satu juta ton dan tiga juta ton dalam periode selanjutnya.
Kesepakatan tersebut menjadi perubahan mencolok di tengah tekanan Washington terhadap Moskow selama bertahun-tahun akibat perang di Ukraina.
Bulan sebelumnya, Trump menandatangani undang-undang sanksi terhadap Rusia yang bertujuan menekan pendapatan minyak dan gas Moskow untuk membiayai perang.
Keputusan terbaru terkait pasokan solar itu pun memicu kemarahan Kyiv.
Zelensky menilai pelonggaran tekanan ekonomi terhadap Rusia justru memberi Moskow tambahan dana untuk melanjutkan perang.
Setelah serangan Rusia di wilayah Zaporizhzhia pada Sabtu, Zelensky mengaitkan serangan tersebut dengan keputusan Washington melonggarkan pembatasan ekspor diesel Rusia.
"Hari ini, Rusia menyampaikan rasa terima kasihnya atas pencabutan sanksi ekspor diesel dengan menjatuhkan lima bom luncur di gedung-gedung perumahan di Zaporizhzhia," tulis Zelensky di X.
Ia memperingatkan bahwa setiap tambahan satu miliar dolar AS dari ekspor dapat digunakan Rusia untuk membiayai komponen persenjataan, meningkatkan produksi drone dan rudal, serta merekrut tentara bayaran.
Baca juga: Separuh F-16 Ukraina Tak Siap Tempur, Zelensky Minta Perawatan Dipindah dari Eropa ke Negaranya
Menurut Zelensky, Moskow baru akan bersedia menghentikan perang ketika kemampuannya untuk melanjutkan pertempuran semakin berkurang.
Pemerintah Ukraina kini mengoordinasikan langkah-langkah untuk melawan tambahan pendapatan yang berpotensi diperoleh Rusia dari kesepakatan tersebut.
Zelensky juga telah berbicara dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron mengenai penguatan pertahanan udara Ukraina. Ia memperingatkan risiko serangan rudal lebih lanjut dalam beberapa hari mendatang.
Selain itu, Zelensky membahas perkembangan tersebut dengan Presiden Finlandia Alexander Stubb.
Ukraina dijadwalkan menerima amunisi untuk pesawat tempur F-16 yang digunakan mencegat drone Shahed dalam beberapa hari mendatang.
Serangan Rusia Tewaskan Sedikitnya 20 Orang
Desakan Trump agar Ukraina mengganti presidennya muncul beberapa jam setelah serangan Rusia menewaskan sedikitnya 20 orang di wilayah Zaporizhzhia, menurut pejabat Ukraina.
Rusia dan Ukraina masih terlibat dalam perang udara jarak jauh, sementara pertempuran darat sebagian besar masih buntu di garis depan.
Ukraina juga menghadapi peningkatan bombardir Rusia yang dilaporkan menewaskan sedikitnya 60 orang selama empat hari terakhir.
Di tengah situasi tersebut, Trump terus mendesak Kyiv menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia.
Ia menilai serangan terhadap kilang minyak memperburuk masalah pasokan bahan bakar dan menimbulkan dampak bagi pasar energi dunia.
"Kami sudah bilang Anda bisa melakukan apa saja pada Rusia. Jangan serang kilang minyaknya, karena itu masalah dunia yang ditimbulkannya," kata Trump, dikutip dari Viory.
Sebaliknya, Zelensky menilai tambahan pendapatan bagi Rusia justru akan memperkuat kemampuan Moskow untuk melanjutkan perang.
Perselisihan ini juga berlangsung menjelang pemilihan paruh waktu AS pada November 2026, ketika kenaikan harga bahan bakar menjadi persoalan politik bagi pemerintahan Trump.
Sementara itu, upaya diplomatik untuk mengakhiri perang masih berlangsung.
Pada Jumat, utusan Trump, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner, bertemu dengan pejabat Ukraina di Miami untuk membahas proposal perdamaian.
Sekutu-sekutu Eropa Ukraina menyatakan kekecewaan atas kesepakatan pasokan solar Rusia dan menegaskan tetap berkomitmen terhadap sanksi terhadap Moskow.
Perseteruan terbaru Trump dan Zelensky mengingatkan pada konfrontasi keduanya di Ruang Oval pada 28 Februari 2025.
Baca juga: Ukraina Siap Produksi Rudal Patriot Sendiri, Zelensky Klaim Trump Telah Beri Persetujuan
Saat itu, Trump dan Wakil Presiden AS JD Vance mengkritik Zelensky dalam pertemuan yang berlangsung di hadapan wartawan.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
