Uang Perang Rusia-Ukraina Mengalir ke Korut, Kim Jong Un Bangun Proyek hingga Perkuat Nuklir - Tribunnews
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Pemimpin-Korea-Utara-Kim-Jong-Un-saat-meresmikan-kapal-perusak.jpg)
Ringkasan Berita:
- Dukungan Korea Utara terhadap Rusia dalam perang di Ukraina disebut membawa keuntungan finansial besar bagi rezim Kim Jong Un.
- Dana dan manfaat ekonomi yang diterima Pyongyang dari Moskwa selama tiga tahun terakhir kini mulai terlihat digunakan untuk berbagai proyek yang sebelumnya sulit dibiayai Korea Utara.
- Badan Intelijen Nasional Korea Selatan (NIS) memperkirakan pada Mei 2026 bahwa Korea Utara menerima manfaat senilai sekitar 7,7 miliar dollar AS atau Rp135,5 triliun dari Rusia.
SERAMBINEWS.COM, PYONGYANG – Dukungan Korea Utara terhadap Rusia dalam perang di Ukraina disebut membawa keuntungan finansial besar bagi rezim Kim Jong Un.
Dana dan manfaat ekonomi yang diterima Pyongyang dari Moskwa selama tiga tahun terakhir kini mulai terlihat digunakan untuk berbagai proyek yang sebelumnya sulit dibiayai Korea Utara.
Badan Intelijen Nasional Korea Selatan (NIS) memperkirakan pada Mei 2026 bahwa Korea Utara menerima manfaat senilai sekitar 7,7 miliar dollar AS atau Rp135,5 triliun dari Rusia sebagai imbalan atas pengerahan personel dan perlengkapan militer untuk mendukung perang di Ukraina.
Nilai tersebut bahkan diperkirakan dapat mencapai 14 miliar dollar AS atau sekitar Rp246 triliun.
Jumlah itu sangat besar jika dibandingkan dengan produk domestik bruto (PDB) Korea Utara pada 2024 yang diperkirakan hanya sekitar 26,6 miliar dollar AS atau Rp468 triliun.
Dana Rusia Dorong Proyek di Dalam Negeri
Salah satu proyek yang disebut mendapat manfaat dari aliran dana tersebut adalah Kebijakan Pembangunan Regional 20×10.
Program yang diluncurkan pada Januari 2024 itu menargetkan pembangunan fasilitas industri modern di 20 kota setiap tahun selama satu dekade. Tujuannya meningkatkan taraf hidup masyarakat di luar ibu kota Pyongyang.
Pengamat menilai pemerintah Korea Utara juga mulai menghidupkan sejumlah proyek sipil lainnya.
Martyn Williams, peneliti senior Program Korea di Stimson Center, Washington, mengatakan kondisi infrastruktur Korea Utara sebelumnya sangat buruk akibat salah urus ekonomi dan sanksi internasional.
"Setelah runtuhnya konsensus di Dewan Keamanan PBB serta pulihnya perdagangan dengan Cina dan Rusia, berbagai proyek Korea Utara kini mulai bergerak," kata Williams kepada DW.
Sejumlah proyek pembangunan pabrik dan rumah sakit mulai berjalan di berbagai wilayah. Kim juga memerintahkan pembangunan kawasan baru di Pyongyang serta proyek perumahan pedesaan yang menargetkan pembangunan puluhan ribu rumah.
Modernisasi sejumlah sektor ekonomi turut dilakukan.
Namun, pembangunan fisik belum otomatis menyelesaikan persoalan Korea Utara.
Williams mencontohkan rumah sakit besar yang telah selesai dibangun di pusat Pyongyang, tetapi sempat tidak beroperasi karena kekurangan obat-obatan dan peralatan medis.
"Korea Utara sangat pandai membangun, tetapi tantangan sebenarnya adalah menjaga agar fasilitas tersebut tetap beroperasi," ujarnya.
Anggaran Militer Ikut Menguat
Aliran sumber daya dari Rusia juga diduga ikut memperkuat sektor militer Korea Utara.
Pada Rabu (9/9/2026), Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan telah mengidentifikasi fasilitas baru pengayaan uranium di Kompleks Nuklir Yongbyon.
Fasilitas tersebut diperkirakan memiliki 28 rangkaian sentrifugal dan berpotensi menghasilkan sekitar 85 kilogram uranium berkadar tinggi untuk kebutuhan senjata setiap tahun.
Jumlah itu diperkirakan cukup untuk membuat sekitar empat hulu ledak nuklir.
Di sektor maritim, citra satelit menunjukkan Korea Utara memperluas dan memodernisasi Pelabuhan Nampo di pesisir barat serta Pelabuhan Chongjin di pesisir timur.
Kedua pelabuhan tersebut dipersiapkan untuk mendukung kapal perang generasi baru.
Pada Senin (7/9/2026), Kim menghadiri upacara pengoperasian kapal perusak Kang Kon berbobot 5.000 ton di Wonsan.
Kim mengklaim kapal tersebut mampu meluncurkan senjata nuklir dan memberikan "serangan balasan mematikan terhadap musuh."
Baca juga: VIDEO - Kim Jong Un Siagakan Kapal Perusak Baru, Korut Uji Rudal Jelajah dan Perkuat Armada Laut
Infrastruktur Perbatasan Kembali Dihidupkan
Investasi besar juga mengalir ke pembangunan jalan, pelabuhan, jembatan, jalur kereta api, serta fasilitas perbatasan.
Berbagai proyek tersebut sebelumnya terhambat selama bertahun-tahun akibat isolasi dan sanksi internasional.
Kini, infrastrukturnya semakin penting bagi hubungan militer dan ekonomi Pyongyang-Moskow.
Selain mendukung pengerahan personel Korea Utara ke Rusia, jalur transportasi baru dapat memperlancar masuknya teknologi militer, energi, serta barang konsumsi dari Rusia.
Pada Selasa (8/9/2026), Korea Utara dan Rusia meresmikan jembatan jalan raya pertama yang melintasi Sungai Tumen.
Pos bea cukai dan fasilitas pergudangan juga tengah dibangun di kedua sisi sungai.
Jembatan tersebut menjadi simbol semakin eratnya hubungan kedua negara setelah Kim dan Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan kemitraan strategis komprehensif pada 2024.
Jalur baru itu memungkinkan peningkatan pengiriman barang menggunakan truk sekaligus menekan biaya logistik. Infrastruktur tersebut juga berpotensi digunakan untuk memindahkan personel militer Korea Utara, senjata, dan amunisi ke Rusia.
Marcus Noland, wakil presiden eksekutif Peterson Institute for International Economics, mengatakan sejumlah proyek transportasi lintas batas sebenarnya telah dimulai sebelum pandemi, tetapi perkembangannya sempat terhambat.
"Setelah melewati masa sulit selama pandemi yang disertai penutupan perbatasan, ekonomi Korea Utara tampaknya tumbuh dalam beberapa tahun terakhir berkat pendapatan terkait perang Ukraina dan kejahatan siber," kata Noland.
Pedalaman Korut Masih Tertinggal
Meski Pyongyang dan sejumlah kota di perbatasan China menikmati manfaat dari membaiknya hubungan ekonomi dengan Rusia dan China, kondisi tersebut belum dirasakan secara merata.
Noland menilai wilayah pedalaman Korea Utara masih mengalami stagnasi.
Kondisi ini menjadi salah satu tantangan bagi Kim Jong Un. Sebab, keuntungan ekonomi dari perang Ukraina sangat bergantung pada keberlanjutan hubungan Pyongyang dengan Moskwa.
Para analis memperingatkan situasi tersebut dapat berubah apabila perang Rusia-Ukraina berakhir.
"Rezim Korea Utara bisa saja menghadapi situasi sulit jika perdamaian tercapai di Ukraina," kata Noland.
Menurutnya, jika pendapatan yang berkaitan dengan perang berhenti mengalir, pertumbuhan ekonomi Korea Utara berpotensi melambat.
Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan ketidakpuasan masyarakat karena sebelumnya telah muncul ekspektasi yang lebih tinggi terhadap perbaikan ekonomi.
Noland menilai situasi itu belum tentu mengguncang stabilitas rezim Kim Jong Un. Namun, berakhirnya perang Ukraina dapat menjadi tantangan baru bagi Pyongyang untuk mempertahankan momentum ekonomi yang saat ini sedang dinikmatinya.(*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Korut Panen Cuan dari Perang Ukraina, Mau Bangun Pabrik hingga Senjata Nuklir”