Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Amerika Serikat Bahrain Berita Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Pangkalan Armada Kelima AS di Bahrain Hancur Lebur Diserang Iran, Washington Pikirkan untuk Pergi - Tribunnews

    6 min read

     

    TC/tangkap Layar A-A+ CITRA SATELIT - Gambar citra satelit yang diperbesar menunjukkan kehancuran di pangkalan militer AS di dekat Erbil di Irak utara. Pangkalan ini dihajar belasan serangan oleh milisi perlawanan Irak sebagai bentuk dukungan terhadap pejuangan milisi perlawanan Palestina di Gaza yang bertempur melawan tentara Israel. 

    SERAMBINEWS.COM - Salah satu titik tumpu utama kekuatan laut Amerika Serikat di Timur Tengah kini menghadapi masa depan yang tidak pasti setelah serangkaian serangan Iran menyebabkan kerusakan berat pada fasilitas militer AS di Bahrain.

    Pangkalan yang menjadi markas Armada Kelima AS itu bahkan belum dipastikan akan dibangun kembali. Washington kini harus mempertimbangkan apakah fasilitas tersebut layak diperbaiki dengan biaya ratusan juta dolar atau justru ditinggalkan dan digantikan dengan lokasi lain.

    Penjabat Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao mengungkapkan bahwa evaluasi menyeluruh terhadap kondisi pangkalan sedang dilakukan.

    “Mereka benar-benar menghancurkan Bahrain,” kata Cao dalam wawancara dengan The Epoch Times pada Selasa.

    Baca juga: Pangkalan Militer Amerika Serikat di Bahrain dan Yordania Rusak Parah Dihajar Iran 

    Cao mengatakan Angkatan Laut AS telah membentuk satuan tugas untuk menentukan langkah selanjutnya, termasuk kemungkinan memperbaiki fasilitas yang rusak maupun mencari alternatif lain.

    Pangkalan tersebut adalah Naval Support Activity Bahrain, fasilitas yang selama ini menjadi pusat komando dan dukungan bagi Armada Kelima AS serta U.S. Naval Forces Central Command.

    Dari Bahrain, militer AS menjalankan dan mengoordinasikan operasi laut di kawasan Teluk Persia, Laut Merah dan sejumlah perairan strategis di Timur Tengah.

    Operasi Armada Kelima Terganggu

    Kerusakan yang terjadi tidak hanya mengenai satu bangunan.

    Sejumlah fasilitas penting dilaporkan terdampak serangan, mulai dari markas komando, barak personel, gudang hingga infrastruktur komunikasi.

    Kondisi tersebut memaksa Angkatan Laut AS mengalihkan sebagian aktivitas logistik ke lokasi lain di kawasan.

    Dampaknya juga dirasakan oleh kapal-kapal perang Amerika yang beroperasi di kawasan, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln. Kapal tersebut kehilangan akses terhadap sejumlah fasilitas pelabuhan dan dukungan logistik regional yang selama ini menjadi bagian penting dalam menopang operasi armada AS.

    Pada tahap awal, Pentagon menyatakan serangan Iran tidak menimbulkan korban jiwa dari pihak Amerika dan tidak secara signifikan mengganggu operasi militer.

    Namun, perkembangan berikutnya menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi jauh lebih serius.

    Kepala Operasi Angkatan Laut AS, Laksamana Daryl Caudle, bahkan mengatakan personel Amerika belum akan segera kembali ke pangkalan tersebut.

    “Kami tidak akan kembali ke sana dalam waktu dekat,” ujar Caudle kepada para pelaut dalam sebuah pertemuan pada 31 Agustus.

    Biaya Pemulihan Capai Rp6 Triliun

    Jika Washington memilih membangun kembali fasilitas tersebut, tagihannya diperkirakan tidak kecil.

    Biaya rekonstruksi disebut mencapai sekitar 400 juta dolar AS, atau setara dengan beberapa triliun rupiah.

    Namun, persoalannya bukan sekadar soal anggaran.

    Membangun kembali pangkalan yang telah menjadi sasaran serangan berarti mempertahankan kehadiran militer AS di lokasi yang kembali menghadapi ancaman dari Iran.

    Sebaliknya, meninggalkan Bahrain juga memiliki konsekuensi strategis.

    Selama bertahun-tahun, pangkalan tersebut menjadi salah satu pusat utama proyeksi kekuatan laut Amerika di kawasan yang berada di dekat jalur perdagangan dan energi paling vital di dunia.

    Kehilangan fasilitas itu berarti Washington harus mencari cara baru untuk mempertahankan kemampuan operasional Armada Kelima.

    Iran Kembali Menekan Fasilitas AS

    Ancaman terhadap pangkalan Bahrain juga belum sepenuhnya berakhir.

    Pada 1 September, Iran kembali meluncurkan drone ke sejumlah fasilitas yang digunakan Amerika Serikat di Bahrain. Serangan tersebut disebut sebagai bagian dari aksi balasan setelah serangkaian serangan AS terhadap wilayah Iran.

    Pasukan Bahrain menyatakan berhasil mencegat drone-drone tersebut. Tidak ada laporan mengenai kerusakan besar tambahan terhadap pangkalan AS dalam serangan itu.

    Namun, serangkaian aksi tersebut memperlihatkan bahwa fasilitas militer Amerika di kawasan tetap berada dalam jangkauan serangan Iran.

    Ketegangan bahkan meluas ke lokasi lain.

    Iran kemudian menembakkan sekitar 20 rudal balistik ke sebuah pangkalan udara di Yordania yang digunakan Amerika Serikat, setelah pasukan Amerika menghancurkan lima kapal tanker minyak Iran.

    Pejabat AS selanjutnya mengakui bahwa sejumlah pesawat tempur Amerika mengalami kerusakan akibat serangan tersebut.

    Di kawasan Selat Hormuz, konfrontasi antara kedua negara juga semakin meningkatkan risiko terhadap kapal-kapal militer Amerika.

    Bahrain Jadi Ujian Strategis Washington

    Kerusakan pangkalan Armada Kelima menempatkan Washington dalam dilema besar.

    Jika dibangun kembali, Amerika harus mengeluarkan ratusan juta dolar untuk menghidupkan kembali fasilitas yang telah menjadi sasaran serangan Iran.

    Jika ditinggalkan, Amerika harus mencari lokasi alternatif untuk menjaga kemampuan Armada Kelima dalam mengawasi salah satu kawasan paling strategis bagi perdagangan dan energi global.

    Karena itu, persoalan Bahrain bukan hanya tentang memperbaiki bangunan yang rusak.

    Keputusan Washington terhadap pangkalan tersebut dapat menjadi indikator penting mengenai bagaimana Amerika Serikat akan mempertahankan kehadiran militernya di Timur Tengah di tengah meningkatnya konfrontasi dengan Iran.

    Untuk pertama kalinya, pertanyaan yang muncul bukan lagi sekadar seberapa kuat pangkalan itu bertahan menghadapi serangan, tetapi apakah Amerika masih akan memilih Bahrain sebagai salah satu pijakan utama kekuatan lautnya di kawasan.(*)

    Komentar
    Additional JS