Houthi Kuasai Pantai Yaman, Mampukah Tutup Jalur Laut Merah? - Tribunnews
SERAMBINEWS.COM - Kelompok Houthi mengklaim perkembangan besar dalam pertempuran di Yaman setelah berhasil merebut sejumlah wilayah di sepanjang garis pantai Laut Merah hingga mendekati Selat Bab al-Mandeb.
Pada Kamis (10/9/2026), pasukan Houthi merebut kota pelabuhan Mocha yang menjadi salah satu titik penting di pesisir barat Yaman.
Kemenangan tersebut menjadi pukulan bagi pemerintah Yaman yang mendapat dukungan Arab Saudi.
Para analis menilai keberhasilan Houthi menguasai wilayah pesisir Yaman dapat memberikan dampak besar terhadap keamanan pelayaran dan perdagangan global.
Pasalnya, Selat Bab al-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.
Dikutip Serambinews melalui Aljazeera (12/9/2026), sekitar 12 persen perdagangan global sebelumnya melewati selat yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden tersebut setiap hari.
Situasi menjadi semakin penting setelah Iran menutup Selat Hormuz di tengah perang yang berlangsung sejak Februari 2026.
Dengan kondisi tersebut, sebagian jalur pengiriman energi yang sebelumnya menggunakan Selat Hormuz kini semakin bergantung pada rute melalui Laut Merah dan Bab al-Mandeb.
Baca juga: Houthi Kuasai Pulau Mayun di Laut Merah, Jalur Ekspor Minyak Arab Saudi Terancam
Houthi Kuasai Wilayah Pesisir Yaman
Yaman telah berada dalam konflik berkepanjangan sejak 2014 ketika kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sejumlah wilayah strategis.
Pemerintah Yaman kemudian mundur dan perang melibatkan berbagai kelompok serta negara regional.
Arab Saudi memasuki konflik pada 2015 dengan tujuan mendukung pemerintah Yaman sekaligus membendung pengaruh Iran di kawasan.
Meskipun gencatan senjata yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2022 berhasil mengurangi pertempuran, bentrokan sporadis masih terus terjadi.
Pekan lalu, pertempuran kembali meningkat setelah Houthi melancarkan serangan untuk merebut wilayah pesisir Laut Merah.
Pasukan pemerintah Yaman berusaha mempertahankan wilayah tersebut, tetapi Houthi berhasil memperoleh sejumlah kemenangan penting.
Salah satu kemenangan terbesar terjadi ketika Houthi merebut Mocha.
Kota pelabuhan tersebut memiliki posisi strategis karena berada tidak jauh dari Selat Bab al-Mandeb.
Baca juga: Donald Trump Tolak Permintaan MBS, AS Tak Mau Serang Houthi di Yaman
Ancaman bagi Ekspor Minyak Arab Saudi
Penguasaan pesisir Laut Merah oleh Houthi dapat menjadi masalah serius bagi Arab Saudi.
Selama Selat Hormuz masih terganggu akibat perang, Arab Saudi berusaha meningkatkan penggunaan jalur alternatif untuk mengirimkan minyaknya.
Kerajaan tersebut memiliki East-West Crude Oil Pipeline yang membentang dari ladang minyak Abqaiq menuju pelabuhan Yanbu di pantai Laut Merah.
Pipa tersebut memang dibangun untuk mengurangi ketergantungan Arab Saudi terhadap Selat Hormuz.
Sejak perang dimulai pada Februari, kapasitas pipa tersebut disebut telah ditingkatkan hingga sekitar tujuh juta barel per hari.
Sebelumnya, kapasitasnya berada di sekitar lima juta barel per hari.
Akibatnya, semakin banyak minyak Saudi yang dikirim melalui kawasan Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb.
Namun, kondisi tersebut juga membuat jalur tersebut semakin rentan terhadap serangan Houthi.
Kelompok tersebut sebelumnya telah menyatakan blokade terhadap kapal berbendera Saudi dan melancarkan serangan terhadap kapal yang memiliki hubungan dengan Arab Saudi.
Houthi juga pernah menyerang fasilitas energi dan sejumlah kota di wilayah selatan Arab Saudi.
Pada Jumat (11/9/2026), muncul gambar yang memperlihatkan asap mengepul dari area pipa East-West.
Namun, pihak Arab Saudi belum mengonfirmasi apakah fasilitas tersebut terkena serangan Houthi.
Baca juga: Houthi Kuasai Pesisir Yaman, Mampukah Tutup Jalur Laut Merah?
Houthi Beri Keuntungan Strategis bagi Iran
Perkembangan terbaru di Yaman juga dinilai dapat memperkuat posisi Iran dalam konflik dengan Amerika Serikat.
Para pengamat melihat Houthi sebagai salah satu kelompok yang memiliki hubungan dekat dengan Teheran.
Dengan semakin kuatnya posisi Houthi di kawasan Bab al-Mandeb, Iran dinilai memiliki pengaruh tidak langsung terhadap dua jalur pelayaran penting dunia.
Selain Selat Hormuz di kawasan Teluk Persia, Bab al-Mandeb menjadi jalur strategis yang menghubungkan kawasan Timur Tengah dengan Laut Merah dan Terusan Suez.
Alam Saleh, profesor hubungan internasional di Australian National University, menilai perkembangan tersebut menguntungkan posisi Iran dalam menghadapi Washington.
Menurutnya, keberhasilan Houthi memberikan Iran pengaruh terhadap keamanan energi dan harga minyak dunia.
Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan tekanan terhadap Amerika Serikat karena perang yang berkepanjangan telah memicu kekhawatiran terhadap kenaikan harga bahan bakar dan kebutuhan pokok.
Mampukah Houthi Menguasai Laut Merah?
Meski berhasil merebut sejumlah wilayah penting, kemampuan Houthi untuk mempertahankan penguasaan kawasan Laut Merah masih menjadi pertanyaan.
Pasukan pemerintah Yaman diperkirakan memiliki sekitar 300.000 personel, sementara Houthi disebut memiliki sekitar 250.000 anggota.
Namun, kekuatan pemerintah Yaman menghadapi masalah berupa perpecahan internal dan koordinasi yang lemah.
Situasi tersebut membuat pasukan pemerintah kesulitan menghadapi Houthi yang dinilai lebih cepat beradaptasi dalam pertempuran.
Mohamad Elmasry, profesor di Doha Institute for Graduate Studies, menilai kemampuan tempur Houthi saat ini jauh lebih kuat dibandingkan satu dekade lalu.
Houthi juga disebut memperoleh berbagai persenjataan dari Iran, termasuk rudal, drone dan sistem pertahanan udara.
Persenjataan tersebut membantu kelompok tersebut meningkatkan kemampuan menyerang sekaligus mempertahankan wilayah yang dikuasainya.
Namun, tidak semua analis yakin Houthi mampu mempertahankan blokade dalam jangka panjang.
Andreas Krieg, profesor madya di King's College London, menilai Houthi memiliki kelemahan besar dalam hal pemerintahan.
Menurutnya, kemenangan Houthi lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi pasukan lawan yang terpecah dibandingkan kemampuan Houthi semata.
Ancaman terhadap Jalur Pelayaran Dunia
Para analis menilai Houthi sebenarnya tidak harus menguasai seluruh Laut Merah untuk memberikan dampak besar terhadap perdagangan internasional.
Sedikit saja ancaman terhadap kapal sudah dapat membuat perusahaan pelayaran dan perusahaan asuransi menilai kawasan tersebut terlalu berisiko.
Jika perusahaan pelayaran memilih menghindari Bab al-Mandeb, kapal-kapal kemungkinan harus menggunakan rute yang lebih panjang.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya bahan bakar, waktu pengiriman dan tarif transportasi.
Dampaknya juga dapat dirasakan oleh konsumen melalui kenaikan harga barang.
Situasi tersebut menjadi semakin serius karena Laut Merah merupakan salah satu jalur utama perdagangan antara Asia, Timur Tengah dan Eropa.
Arab Saudi Berusaha Hentikan Houthi
Arab Saudi disebut telah melancarkan puluhan serangan rudal ke wilayah yang dikuasai Houthi dalam 24 jam terakhir.
Salah satu wilayah yang menjadi sasaran adalah Mocha yang baru saja direbut Houthi.
Namun, serangan tersebut belum menunjukkan tanda-tanda berhasil menghentikan laju pasukan Houthi.
Arab Saudi juga memiliki pakta pertahanan dengan Pakistan dan Turki.
Namun, para analis menilai kemungkinan keterlibatan langsung kedua negara tersebut masih terbatas karena mereka tidak ingin memperluas konflik antara Amerika Serikat, Israel dan Iran.
Di sisi lain, Washington juga disebut belum bersedia memberikan dukungan militer langsung kepada Arab Saudi untuk menghadapi Houthi.
Menurut laporan Axios, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman bahkan telah dua kali menelepon Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis (10/9/2026) dan meminta serangan udara Amerika terhadap Houthi.
Namun, Trump dilaporkan menolak permintaan tersebut.
Perkembangan ini membuat posisi Houthi semakin penting dalam konflik regional.
Jika kelompok tersebut mampu mempertahankan wilayah pesisir yang telah direbut, ancaman terhadap Bab al-Mandeb dan jalur perdagangan Laut Merah berpotensi semakin besar.
Namun, kemampuan Houthi mempertahankan wilayah tersebut masih akan bergantung pada kekuatan militer pemerintah Yaman, respons Arab Saudi serta sikap Amerika Serikat dalam menghadapi perkembangan konflik di kawasan.
(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)