Harga Minyak Dunia Tembus USD100 per Barel, Bisa Lampaui USD120 dalam Waktu Dekat - Sindo8
Makin mudah baca berita nasional an internasional.
Kamis, 10 September 2026 - 07:54 WIB

Harga minyak dunia menembus level USD100 per barel di tengah kembali memanasnya konflik AS dan Iran yang meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global. FOTO/iStock Photo
A A A
JAKARTA - Harga minyak mentah Brent menembus level USD100 per barel untuk pertama kalinya dalam sekitar dua bulan pada Rabu, di tengah kembali memanasnya konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global. Kenaikan harga juga dipicu oleh masih terbatasnya aktivitas pelayaran minyak melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia.
"Investor minyak menyampaikan pandangan mereka mengenai dampak eskalasi terbaru di Timur Tengah dengan cara yang sangat jelas. Mereka memberikan suara melalui dolar mereka, dan suara tersebut menunjukkan bahwa selama Selat Hormuz belum kembali terbuka dan aliran minyak belum pulih tanpa gangguan, pasokan tidak akan mampu memenuhi permintaan dalam waktu dekat," kata analis PVM Oil Associates Tamas Varga dikutip dari Reuters, Rabu (10/9/2026).
Baca Juga: Serangan AS Berlanjut, Harga Minyak Dunia Dekati USD100 per Barel
Kontrak berjangka minyak Brent, yang menjadi patokan harga minyak internasional, naik sekitar 3% hingga menembus USD100 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), yang menjadi acuan harga minyak AS, menguat lebih dari 2% hingga melampaui USD95 per barel.
Konflik di Timur Tengah yang telah memasuki bulan ketujuh terus menghambat arus produk energi dari kawasan Teluk Persia. Ketegangan AS dan Iran kembali meningkat dalam dua pekan terakhir setelah kedua negara sebelumnya menjalani sekitar satu bulan perundingan yang sempat meredakan situasi.
Kenaikan harga minyak pada Rabu juga dipengaruhi laporan bahwa militer AS menenggelamkan lima kapal tanker minyak mentah Iran dalam operasi malam sebelumnya. Komando Pusat AS (US Central Command) menyebut tindakan tersebut sebagai respons terhadap upaya Iran menyerang kapal induk Angkatan Laut AS di kawasan tersebut.
Gangguan terhadap pelayaran melalui Selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar karena sebelum konflik berlangsung, jalur tersebut menangani sekitar 20% arus perdagangan minyak mentah dunia. Saat ini, aktivitas pengiriman melalui selat tersebut masih sangat terbatas karena perusahaan pelayaran mempertimbangkan risiko terhadap awak dan muatan.
Tekanan terhadap pasar energi juga datang dari sejumlah wilayah lain. Serangan kelompok Houthi dalam beberapa hari terakhir terhadap infrastruktur energi Arab Saudi kembali menimbulkan kekhawatiran terhadap distribusi minyak melalui Laut Merah yang menjadi salah satu jalur alternatif untuk menghindari Selat Hormuz.
Di sisi lain, serangan militer Ukraina ke wilayah Rusia turut menyasar sektor pengolahan minyak Rusia sehingga mengurangi kapasitas kilang di negara tersebut. Sebelum 2022, Rusia berkontribusi sekitar 10% terhadap ekspor solar dunia. Sementara itu, China yang merupakan salah satu pembeli minyak mentah terbesar dunia mulai menunjukkan tanda-tanda peningkatan impor minyak setelah sebelumnya menahan pertumbuhan volume impor selama konflik berlangsung.
Goldman Sachs memperingatkan harga minyak dapat mencapai USD120 per barel dalam waktu dekat apabila serangan terus mengganggu aliran energi secara signifikan. Namun, skenario dasar bank tersebut masih memperkirakan kontrak berjangka Brent dan WTI masing-masing berada di sekitar USD85 dan USD80 per barel pada Desember.
"Intensitas dan cakupan geografis serangan terhadap kapal tanker, yang merupakan variabel dengan tingkat ketidakpastian tinggi, akan tetap menjadi faktor utama yang menentukan apakah ekspor minyak Teluk dapat pulih dan seberapa cepat pemulihan tersebut terjadi," tulis ahli strategi Goldman Sachs yang dipimpin Kepala Strategi Minyak Daan Struyven.
Baca Juga: Balas Serangan AS, Iran Serang 10 Kapal di Dekat Selat Hormuz
Tekanan juga semakin terasa pada pasar produk olahan minyak karena persediaan global berada pada tingkat yang mengkhawatirkan, sementara margin pengolahan minyak atau crack spread bertahan di level tertinggi sepanjang masa. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kenaikan harga bahan bakar yang dapat merambat ke biaya transportasi dan kegiatan usaha.
Di AS, harga rata-rata bensin mencapai USD4,22 per galon pada Rabu, sedangkan harga solar bertahan di USD5,94 per galon setelah sebelumnya mencatat rekor tertinggi. Kenaikan harga solar menjadi perhatian karena bahan bakar tersebut berperan penting dalam distribusi barang global sehingga peningkatan harganya berpotensi menambah beban biaya bagi dunia usaha dan konsumen.
Analis JPMorgan menilai pasar minyak menghadapi situasi yang semakin menyerupai konflik berkepanjangan. "Durasi konflik telah jauh melampaui perkiraan kami pada Mei ketika kami memperkirakan Selat Hormuz akan kembali dibuka pada Juni," tulis tim analis JPMorgan yang dipimpin Kepala Strategi Komoditas Global Natasha Kaneva.
JPMorgan menilai pasar berulang kali memperkirakan normalisasi akan terjadi dalam beberapa bulan, tetapi perkiraan tersebut terus mundur seiring berlanjutnya konflik. Kondisi itu membuat ketidakpastian mengenai pasokan minyak global tetap tinggi dan berpotensi mempertahankan tekanan kenaikan harga minyak dalam beberapa waktu ke depan.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rekomendasi
Infografis

Pentagon: China Bisa Hancurkan Semua Kapal Induk AS dalam 20 Menit
Terpopuler
1
2
3
4
5





