50 Jam Bersembunyi di Iran, Pilot AS Ungkap Detik-detik Bertahan Hidup hingga Diselamatkan - Tribunnews
Ringkasan Berita:
- Pilot AS berkode "Bravo" mengungkap hampir 50 jam bertahan di Iran setelah F-15E ditembak jatuh dan dirinya mengalami sejumlah patah tulang.
- CIA dan militer AS menjalankan operasi penyesatan serta pencarian hingga Bravo berhasil dievakuasi, sementara sejumlah pesawat senilai sekitar Rp1,67 triliun dihancurkan.
- Wawancara Bravo muncul menjelang pemilu paruh waktu dan memicu perdebatan soal dugaan tekanan terhadap awak, yang dibantah Pentagon.
TRIBUNNEWS.COM - Setelah berbulan-bulan bungkam, seorang perwira Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) yang menggunakan nama sandi "Bravo" akhirnya menceritakan bagaimana dirinya bertahan hidup hampir 50 jam di wilayah Iran setelah jet tempur F-15E yang ditumpanginya ditembak jatuh.
Dalam wawancara dengan program televisi 60 Minutes CBS, Bravo mengungkap kondisi yang dihadapinya setelah pesawat berkode Dude 44 jatuh di wilayah Iran pada April lalu.
Ia terluka parah, terpisah dari rekannya, kekurangan makanan dan air, serta harus bersembunyi ketika pasukan Iran memburunya.
Kisah tersebut menjadi salah satu bagian dramatis dari operasi penyelamatan yang melibatkan militer Amerika Serikat dan badan intelijen CIA.
Operasi itu berlangsung dalam situasi yang sangat berisiko karena Washington harus menemukan Bravo lebih dulu sebelum pasukan Iran melakukannya.
Jet Tempur Jatuh, Dua Awak Terpisah
Dude 44 membawa dua awak. Pilot yang dikenal dengan nama sandi Alpha duduk di kursi depan, sementara Bravo merupakan petugas sistem senjata di kursi belakang.
Menurut kesaksian Bravo, rudal Iran menghantam pesawat ketika mereka berada di wilayah udara Iran. Keduanya kemudian berusaha menyelamatkan pesawat, tetapi menyadari bahwa jet tersebut tidak mungkin dipertahankan.
Mereka akhirnya melontarkan diri menggunakan kursi pelontar.
Alpha berhasil mendarat, tetapi Bravo mengalami masalah yang jauh lebih serius. Pecahan rudal merusak parasutnya sehingga tidak dapat mengembang sebagaimana mestinya.
Alpha menggambarkan momen itu sebagai salah satu pengalaman paling menakutkan dalam hidupnya.
Dia kemudian jatuh bebas dengan kecepatan sekitar 70 hingga 100 mil per jam sebelum akhirnya selamat.
Bravo sendiri mengalami cedera berat saat mendarat, termasuk patah tulang punggung, lengan dan bahu.
Ia mendarat sekitar lima mil dari posisi Alpha.
Alih-alih bertahan di sekitar lokasi jatuh, Bravo segera menjauh karena menyadari pasukan Iran kemungkinan akan mencari awak pesawat yang jatuh.
Mendaki Gunung dengan Tulang Patah
Saat hari mulai terang, Bravo baru bisa melihat lingkungan di sekelilingnya. Ia berada di sebuah lembah gurun pegunungan yang dikelilingi tebing tinggi.
Dalam kondisi cedera, ia memutuskan bergerak ke tempat yang lebih tinggi untuk menghindari pencarian dari pasukan Iran.
Bravo kemudian mendaki hingga ketinggian hampir 7.000 kaki.
Keputusan itu menjadi bagian penting dari upayanya bertahan hidup. Kondisi di kawasan tersebut sangat berat, dengan suhu dingin, angin pegunungan dan medan terjal.
Selama hampir satu hari berikutnya, ia nyaris tidak memiliki makanan dan air. Pada saat yang sama, media Iran mulai menampilkan gambar puing-puing pesawat yang jatuh.
Video juga beredar yang menunjukkan kelompok bersenjata melakukan pencarian terhadap awak pesawat.
Bravo mengetahui dirinya sedang diburu, sehingga harus terus bergerak dan bersembunyi meski dalam kondisi terluka.
Penyelamatan Alpha Lebih Dulu
Pasukan Amerika sebenarnya telah mengetahui posisi Alpha. Menurut sumber militer AS, pasukan Iran sempat mendekati Alpha hingga dalam jarak beberapa ratus meter.
Sekitar enam jam setelah pesawat ditembak jatuh, pasukan AS berhasil mengevakuasi Alpha. Namun, mereka belum menemukan Bravo.
Pasukan penyelamat kemudian meninggalkan lokasi tanpa mengetahui secara pasti apakah Bravo masih hidup.
Pada malam harinya, Bravo berhasil mengirim pesan kepada militer AS untuk memberi tahu bahwa dirinya terluka tetapi masih bergerak. Isi pesan tersebut tidak diungkapkan.
Upaya penyelamatan segera disiapkan. Namun, operasi itu sempat ditunda setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyebut ada sesuatu yang tidak beres dan menggambarkan keputusan tersebut sebagai pilihan yang sulit.
CIA Ikut Memburu Lokasi Bravo
Dalam wawancara tersebut, Bravo juga mengungkap peran CIA dalam operasi pencariannya.
Menurut kesaksiannya, CIA menjalankan operasi penyesatan untuk mengacaukan pencarian yang dilakukan pasukan Iran.
Badan intelijen itu juga menggunakan teknologi rahasia untuk mempersempit lokasi Bravo.
Tujuannya sederhana tetapi berisiko tinggi: memastikan pasukan Amerika bisa mencapai Bravo lebih dulu tanpa membuka posisinya kepada Iran.
Untuk mendukung operasi tersebut, pesawat pembom dan drone Amerika melakukan serangan terhadap pasukan Garda Revolusi Iran di sekitar lokasi persembunyian Bravo.
Hampir 50 jam setelah jetnya ditembak jatuh, Bravo akhirnya ditemukan dan dievakuasi saat matahari terbit pada Minggu Paskah.
Ketika melihat tim penyelamat datang, Bravo mengatakan itu menjadi salah satu momen terbesar dalam hidupnya.
"Ayo pergi," kata Bravo kepada tim penyelamat.
Operasi Evakuasi Berubah Menjadi Krisis Baru
Evakuasi Bravo ternyata belum menjadi akhir dari operasi.
Pesawat yang digunakan untuk penyelamatan mengalami masalah ketika roda pendaratannya tersangkut di pasir pada landasan udara darurat di gurun. Pesawat tersebut tidak dapat segera meninggalkan lokasi.
Lebih dari 90 personel militer Amerika kemudian terjebak di darat sampai unit Angkatan Udara rahasia datang untuk mengevakuasi mereka.
Amerika akhirnya mengambil keputusan untuk menghancurkan dua pesawat yang tertinggal agar teknologi di dalamnya tidak jatuh ke tangan Iran.
Masing-masing pesawat tersebut disebut bernilai sekitar US$100 juta atau sekitar Rp1,67 triliun.
Sebuah helikopter kecil yang dikenal sebagai Little Bird juga dihancurkan dalam rangka mengamankan teknologi militer yang dibawanya.
Dengan demikian, operasi tersebut bukan hanya menjadi misi pencarian seorang pilot.
Amerika juga harus memastikan bahwa perangkat dan teknologi yang digunakan dalam operasi penyelamatan tidak dapat dipelajari oleh pihak Iran.
"Ini Bukan Hanya Tentang Saya"
Setelah berhasil meninggalkan Iran, Bravo segera menghubungi istrinya di Amerika Serikat.
Ia mengatakan ingin masyarakat Amerika memahami bahwa kisah tersebut bukan semata-mata tentang dirinya, melainkan hasil dari pelatihan, keputusan, kepemimpinan dan kerja banyak orang yang terlibat dalam operasi penyelamatan.
Bravo juga menyebut pengalaman itu sebagai gambaran mengenai komitmen militer Amerika untuk tidak meninggalkan personelnya di medan operasi.
Kesaksiannya sekaligus memperlihatkan betapa kompleksnya operasi penyelamatan ketika seorang personel militer jatuh di wilayah musuh.
Setiap langkah harus memperhitungkan keselamatan awak, keberadaan pasukan lawan, kerahasiaan teknologi dan kemungkinan eskalasi konflik.
Wawancara Muncul Menjelang Pemilu
Di luar kisah penyelamatan, wawancara Bravo juga memunculkan kontroversi baru karena ditayangkan menjelang pemilu paruh waktu AS pada November.
CNN mempertanyakan apakah awak F-15E mendapat tekanan dari pejabat pertahanan untuk tampil dalam wawancara tersebut.
Spekulasi itu muncul di tengah meningkatnya kritik publik terhadap perang dengan Iran dan kebutuhan pemerintahan Trump untuk mempertahankan dukungan terhadap operasi militernya.
Menurut sumber yang dikutip CNN, sejumlah pilot awalnya keberatan memberikan wawancara. Salah satunya bahkan disebut khawatir akan dipaksa berpartisipasi.
Namun, laporan tersebut menyebut Hegseth kemudian bertemu dengan para pilot secara langsung dan menanyakan apakah mereka bersedia tampil.
Bravo akhirnya menyetujui wawancara, sementara Alpha memilih tidak berpartisipasi.
CBS sendiri disebut sangat menginginkan wawancara tersebut karena nilai eksklusifnya di tengah persaingan media.
Pentagon membantah adanya tekanan terhadap para pilot.
Departemen tersebut menyebut laporan CNN sebagai "rekayasa murni" dan menegaskan bahwa keputusan untuk memberikan wawancara bersifat sukarela.
Pentagon juga mengatakan keamanan operasional tetap menjadi pertimbangan utama.
Pada akhirnya, kesaksian Bravo membuka kembali perhatian terhadap salah satu operasi penyelamatan paling berisiko dalam konflik AS-Iran.
Di balik kisah seorang pilot yang bertahan hampir 50 jam di pegunungan Iran, terdapat operasi militer dan intelijen yang melibatkan puluhan personel, teknologi rahasia, serangan udara, serta keputusan untuk menghancurkan peralatan bernilai triliunan rupiah agar tidak jatuh ke tangan lawan.