Iran dan AS Saling Ajukan Syarat Baru, Pembukaan Selat Hormuz Makin Sulit - Tribunnews
Iran dan AS Saling Ajukan Syarat Baru, Pembukaan Selat Hormuz Makin Sulit
SERAMBI NEWS.COM – Upaya Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mencapai kesepakatan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz menghadapi hambatan baru.
Kedua negara kini justru mengajukan tuntutan masing-masing yang semakin keras.
Kondisi tersebut memunculkan keraguan terhadap peluang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama lima bulan.
Dikutip SerambiNews melalui Al Jazeera, Rabu (12/8/2026), persoalan Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling penting dalam perundingan AS dan Iran.
Selat tersebut merupakan jalur strategis yang sebelum perang menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Sejak perang AS-Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari, aktivitas pelayaran di kawasan tersebut terganggu.
Iran pada pekan lalu menyatakan tidak akan membuka kembali selat tersebut sebelum Washington memenuhi sejumlah tuntutan politik dan ekonomi.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump justru mengajukan tuntutan baru berupa kompensasi kepada Iran.
Baca juga: Trump Klaim Hubungan dengan Netanyahu Tetap Baik meski Rencana Damai Gaza Ditolak
Trump Tuntut Kompensasi dari Iran
Trump mengatakan Iran harus membayar kompensasi atas kematian dan cedera yang menurutnya berkaitan dengan tindakan Iran selama beberapa dekade.
“Kita akan meminta uang ganti rugi atas kerusakan yang telah mereka lakukan selama 50 tahun,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Trump kemudian memperluas tuntutannya melalui unggahan di platform Truth Social.
Ia menyebut Iran harus memberikan kompensasi kepada keluarga 17 pelaut AS yang tewas dalam serangan terhadap kapal perang USS Cole di Yaman pada Oktober 2000.
Namun, serangan tersebut secara umum dikaitkan dengan kelompok al-Qaeda, bukan Iran.
Trump juga menuntut pertanggungjawaban Iran atas korban di Lebanon, Suriah, Yaman, dan Gaza.
Tuntutan tersebut muncul setelah Iran sebelumnya meminta Washington memberikan kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan serangan AS dan Israel selama perang tahun ini.
Perbedaan tuntutan tersebut membuat proses diplomasi menjadi semakin rumit.
Iran Ajukan Enam Syarat
Iran sendiri telah menetapkan enam syarat baru yang harus dipenuhi sebelum pembukaan kembali Selat Hormuz.
Syarat tersebut disampaikan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran pada Sabtu.
Pertama, Iran meminta AS menghentikan ancaman dan penghinaan terhadap Teheran.
Kedua, Iran menuntut penghentian permanen serangan terhadap Iran dan kelompok sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, serta Irak.
Ketiga, Iran meminta blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dihentikan.
Teheran juga meminta pasukan angkatan laut dan udara AS ditarik dari sekitar wilayah Iran.
Keempat, Iran menuntut kompensasi atas kerusakan yang terjadi akibat dua perang yang disebutnya sebagai “perang yang dipaksakan”.
Kelima, Iran meminta pencabutan sanksi ekonomi.
Keenam, Teheran meminta aset-aset Iran yang dibekukan dibebaskan tanpa syarat.
Dengan tuntutan tersebut, pembukaan Selat Hormuz kini tidak hanya menjadi persoalan teknis pelayaran.
Masalah tersebut telah berkembang menjadi bagian dari perundingan politik yang lebih luas antara Washington dan Teheran.
Baca juga: Terungkap! Ancaman Iran Bikin Trump Diam-Diam Ganti Pesawat di Turki, Air Force One Jadi Umpan
Pembicaraan Iran-Oman Tetap Berjalan
Di tengah ketegangan AS dan Iran, Teheran masih melakukan pembicaraan dengan Oman mengenai pengaturan pelayaran di Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pembicaraan tersebut telah memasuki tahap akhir.
Iran dan Oman disebut tengah membahas jalur pelayaran baru serta mekanisme pengelolaan selat.
Araghchi juga menegaskan bahwa Iran tidak melakukan pembicaraan langsung dengan AS.
Namun, pesan antara kedua negara disebut tetap disampaikan melalui perantara.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei sebelumnya mengatakan pembicaraan dengan Oman berjalan lancar dan konstruktif.
Menurut Iran, kesepakatan mengenai peta rute pelayaran telah tercapai, meskipun sejumlah persoalan teknis masih harus diselesaikan.
Pembahasan juga mencakup navigasi, perlindungan lingkungan, layanan maritim, serta pemberantasan kejahatan di jalur perairan tersebut.
Baca juga: Senator Chris Murphy Sebut Donald Trump Kalah dalam Perang Melawan Iran: Posisi AS Semakin Lemah
Harga Minyak Ikut Melonjak
Ketidakpastian dalam perundingan tersebut langsung berdampak pada pasar energi global.
Harga minyak dilaporkan melonjak lebih dari 5 persen pada Senin setelah Trump menyampaikan tuntutan kompensasi kepada Iran.
Harga minyak kembali meningkat pada Selasa ketika harapan terhadap tercapainya kesepakatan mulai memudar.
Hal tersebut tidak mengherankan mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia.
Jika aktivitas pelayaran tetap terganggu, pasokan energi global dapat ikut terdampak.
Situasi tersebut juga berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan harga berbagai kebutuhan di sejumlah negara.
Negosiasi Perdamaian Makin Sulit
Analis menilai persoalan Selat Hormuz kemungkinan harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum pembicaraan mengenai kesepakatan damai yang lebih luas dapat kembali berjalan.
Peneliti senior Center for International Policy, Negar Mortazavi, mengatakan posisi kedua negara saat ini semakin keras.
“Kedua belah pihak tampaknya mengajukan tuntutan maksimalis menjelang negosiasi serius,” kata Mortazavi kepada Al Jazeera.
Menurutnya, tuntutan terbaru Trump menjadi persoalan sensitif karena mencakup berbagai peristiwa yang terjadi jauh sebelum konflik terbaru.
Jika tuntutan kompensasi tersebut benar-benar dijadikan syarat utama kesepakatan, Iran kemungkinan akan kesulitan menerimanya.
Di sisi lain, Iran juga berusaha mendapatkan jaminan agar perang tidak kembali terjadi setelah kesepakatan tercapai.
Teheran juga menginginkan bantuan ekonomi setelah perang serta pencabutan berbagai tekanan ekonomi yang diberikan Washington.
Baca juga: Trump Klaim Perang dengan Iran Segera Berakhir, Sebut Diplomasi Masih Jadi Pilihan Utama
Kedua Pihak Saling Tekan
Analis politik yang berbasis di Teheran, Hossein Royvaran, menggambarkan kebuntuan saat ini sebagai pertarungan antara penutupan Selat Hormuz dan blokade AS.
Menurutnya, kedua pihak sama-sama menghadapi tekanan.
AS menghadapi kenaikan harga bensin, inflasi, dan meningkatnya biaya hidup.
Sementara Iran menghadapi tekanan ekonomi akibat perang, sanksi, dan terganggunya ekspor minyak.
“Persamaan ini sekarang ada: penutupan versus blokade. Tetapi pertanyaannya adalah, siapa yang akan berteriak lebih dulu?” kata Royvaran kepada Al Jazeera.
Situasi tersebut membuat masa depan Selat Hormuz menjadi sangat penting.
Jika AS dan Iran gagal menemukan titik temu, ketidakpastian pelayaran di salah satu jalur energi paling strategis dunia berpotensi berlanjut.
Sebaliknya, apabila kedua negara mampu menyepakati mekanisme pembukaan dan pengelolaan selat, hal itu dapat menjadi langkah awal menuju perundingan perdamaian yang lebih luas.
Baca juga: Militer AS Mulai Kehabisan Cara, Jenderal Top Minta Trump Cari Jalan Keluar dari Perang dengan Iran
(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)