Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Ebola Featured Kesehatan Kongo Spesial

    Ebola di Kongo Catat Angka Kematian Tertinggi dalam Sejarah - DW

    5 min read

     


    Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo kini telah menewaskan 2.325 orang. Angka ini melampaui rekor sebelumnya, yakni 2.299 kematian pada 2018-2020, menurut data pemerintah pada Senin (17/08). 

    Kematian tersebut berasal dari 4.945 kasus terkonfirmasi. Penyakit ini menular melalui cairan tubuh yang terinfeksi. Hal tersebut dapat menyebabkan demam, muntah, diare, dan jika parah, pendarahan internal serta eksternal. 

    Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut wabah ini "berkembang paling cepat dalam catatan sejarah" dan menewaskan satu orang setiap setengah jam di Kongo. 

    Wabah tersebut kini menjadi kedua paling mematikan setelah wabah di Afrika Barat pada 2014-2016. 

    Saat itu, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tercatat 28.616 kasus dan 11.310 kematian di Ginea, Liberia, dan Siera Leoni. 

    Virus tetap jadi ancaman kesehatan bagi manusia. Walaupun ilmuwan sudah berhasil temukan vaksin untuk sejumlah virus, beberapa tetap menjadi ancaman. Berikut 8 virus yang paling berbahaya.

    Foto: Christian Ohde/CHROMORANGE/picture alliance

    Bagaimana wabah Ebola menyebar di Kongo? 

    Wabah saat ini merupakan wabah Ebola ke-17 di Kongo dan disebabkan oleh spesies Bundibugyo. 

    Belum ada vaksin atau pengobatan yang disetujui untuk penyakit ini. 

    Beberapa pekan sebelum pengumuman wabah pada 15 Mei, penyebarannya telah ada di Provinsi Ituri, Kongo timur laut. Kini, wabah telah menyebar ke lima provinsi lainnya.  

    Tingkat kematian tinggi 

    Menurut data pemerintah, tingkat kematian kasus naik dari sekitar 20% pada awal Juni menjadi 46% saat ini. Angka ini merupakan proporsi kematian dari mereka yang telah dikonfirmasi terinfeksi. 

    Artinya, hampir satu dari setiap dua kasus terkonfirmasi berakhir dengan kematian. 

    Para ahli mengatakan, kenaikan ini bukan berarti virus menjadi lebih mematikan. Sebaliknya, angka tersebut mencerminkan kelemahan dalam pemantauan, deteksi, dan akses terhadap layanan kesehatan

    Penyakit ini telah menewaskan lebih dari 15.000 orang di Afrika dalam 50 tahun terakhir.

    Komentar
    Additional JS