Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    CNN: Perang Iran Makin Membebani Trump, dari Krisis Amunisi hingga Moral Pasukan - Ahlulbait Indonesia

    3 min read

     

    Media ABI, 15 Agustus 2026 — Perang dengan Iran mulai menambah tekanan terhadap pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Selain persoalan di medan tempur dan meja perundingan, Washington menghadapi sorotan atas penanganan informasi, keterbatasan amunisi, kekhawatiran politik di dalam negeri, hingga kondisi awak kapal perang yang menjalani penugasan panjang.

    Laporan CNN yang dikutip Mehr News Agency pada Sabtu (15/8/26) menyebut perang tersebut tidak berkembang sesuai kepentingan Trump sejak beberapa waktu setelah dimulai. Meski Washington meningkatkan tekanan militer dan ekonomi, Teheran tidak menunjukkan kesediaan memenuhi tuntutan Amerika Serikat. Sebaliknya, Iran dinilai semakin berani dan menaikkan tuntutannya seiring persepsi bahwa pengaruhnya menguat.

    Baca juga: Laksamana Prancis: Trump Remehkan Harga Diri Iran dan Tumbang di Babak Pertama

    Persoalan tersebut kini tidak lagi terbatas pada medan perang. Perang telah memasuki bulan keenam, sementara publik Amerika sejak awal belum memperoleh penjelasan yang meyakinkan mengenai tujuan operasi tersebut. Kondisi itu turut menguji kemampuan pemerintahan Trump untuk mempertahankan perang dalam jangka panjang.

    Skandal informasi dan persoalan amunisi

    Salah satu persoalan yang disorot adalah dugaan Trump meninggalkan pesawat kepresidenan Air Force One secara diam-diam saat berada di Turki bulan lalu dengan menggunakan truk pengangkut makanan.

    Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan mengenai penggunaan media untuk menyampaikan informasi yang menyesatkan. Klaim Washington tentang keberhasilan menghancurkan kemampuan militer Iran juga ikut dipertanyakan dan menjadi bahan ejekan media.

    Di bidang militer, persoalan yang lebih serius muncul dari keterbatasan amunisi. Laporan menyebut peringatan Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, mengenai kondisi tersebut tidak mendapat perhatian memadai.

    Baca juga: Jenderal AS Akui Amerika Tak Mampu Hadapi Serangan Drone Massal

    Sekitar 80 persen rudal pencegat sistem pertahanan THAAD disebut telah digunakan. Kondisi ini mengancam kesiapan militer Amerika Serikat dan berpotensi memberi ruang bagi pesaing seperti China. Padahal, pemerintahan Trump sebelumnya menyatakan memiliki persediaan yang cukup untuk menghadapi Iran.

    Tekanan politik dan kondisi pasukan

    Tanda-tanda kelelahan juga muncul di lingkungan pemerintahan dan kalangan pendukung Trump. Caine dilaporkan secara tertutup telah mendesak para penasihat senior untuk mencari jalan keluar dari perang karena eskalasi lebih lanjut dinilai dapat menghasilkan dampak yang berlawanan.

    Kekhawatiran tersebut beriringan dengan meningkatnya kecemasan di kalangan Partai Republik mengenai dampak perang terhadap pemilu paruh waktu 2026. Ketua DPR AS Mike Johnson, sejumlah pembawa acara Fox News, serta tokoh-tokoh berpengaruh mulai menyerukan penghentian perang dan meminta pemerintah kembali memusatkan perhatian pada ekonomi domestik.

    The Guardian juga baru-baru ini melaporkan munculnya keraguan yang semakin terbuka terhadap perang melawan Iran di lingkungan Fox News, jaringan yang selama ini dikenal memiliki dukungan kuat terhadap operasi militer.

    Baca juga: Pejabat Senior Keamanan Nasional Gedung Putih Mundur

    Tekanan tersebut juga terlihat di lingkungan pasukan. Awak kapal induk USS Abraham Lincoln telah berada di laut sejak November dan disebut menghabiskan lebih dari 200 hari tanpa berlabuh di pelabuhan mana pun.

    Dalam periode tersebut, tercatat sejumlah kasus percobaan melompat ke laut yang oleh Angkatan Laut AS dikategorikan sebagai persoalan psikologis. Keluarga ratusan pelaut kapal tersebut juga melakukan protes karena kekurangan peralatan dan persoalan pencemaran air.

    Rangkaian persoalan tersebut memperlihatkan bahwa perang dengan Iran tidak hanya menguji kemampuan militer Amerika Serikat, tetapi juga semakin membebani pemerintahan Trump secara politik dan domestik. []

    Baca juga: Krisis USS Abraham Lincoln, Harga Perang Berkepanjangan AS terhadap Iran

    Komentar
    Additional JS