China Makin Kuat di Maritim Afrika, Bukan Hanya Bangun Pelabuhan tapi Kuasai Teknologinya - Viva
VIVA – Peran China dalam pengembangan infrastruktur maritim Afrika semakin berkembang. Keterlibatan Beijing kini tidak hanya terlihat dari pembangunan pelabuhan, tetapi juga dari penggunaan teknologi digital yang menopang operasional fasilitas tersebut.
Baca Juga
Sebuah studi dari Africa Center for Strategic Studies menyoroti semakin luasnya kehadiran perusahaan China dalam jaringan pelabuhan Afrika. Keterlibatan tersebut mencakup kepemilikan, pembiayaan, pengoperasian hingga penyediaan teknologi.
Perusahaan China disebut telah terlibat di hampir sepertiga pelabuhan di Afrika. Selain membangun fasilitas fisik, mereka juga menyediakan perangkat lunak, sistem otomatisasi, kecerdasan buatan (AI), jaringan komunikasi, hingga platform logistik.
Baca Juga
Perubahan ini dinilai penting karena teknologi digital dapat menciptakan hubungan jangka panjang antara operator pelabuhan dan penyedia teknologi.
Ketika sebuah pelabuhan telah menggunakan sistem tertentu, pengelola membutuhkan pemeliharaan, pembaruan perangkat lunak, dukungan teknis, serta peningkatan sistem secara berkala. Berbeda dengan proyek pembangunan yang memiliki masa pengerjaan tertentu, hubungan berbasis teknologi dapat berlangsung selama bertahun-tahun.
Baca Juga
Keterlibatan China juga mencakup infrastruktur yang menghubungkan pelabuhan dengan wilayah pedalaman. Jalur kereta api, jalan raya, gudang, dan koridor logistik turut dikembangkan untuk mendukung arus barang, seperti melansir dari The Mt Kenya Times.
Dengan pola tersebut, pelabuhan tidak lagi menjadi fasilitas yang berdiri sendiri. Infrastruktur tersebut terhubung dengan jaringan perdagangan yang lebih luas dan menghubungkan pusat produksi Afrika dengan jalur pelayaran internasional.
Bagi China, jaringan tersebut memiliki nilai ekonomi yang besar karena Afrika merupakan sumber berbagai komoditas seperti minyak, gas, mineral, serta produk pertanian.
Perusahaan teknologi China, termasuk Huawei, juga semakin aktif menawarkan solusi untuk modernisasi pelabuhan. Teknologi yang ditawarkan mencakup infrastruktur digital, otomatisasi, keamanan siber, hingga sistem berbasis AI.
Bagi sejumlah pemerintah Afrika, model tersebut memberikan kemudahan karena berbagai kebutuhan teknologi dapat diperoleh melalui satu ekosistem. Namun, penggunaan sistem yang sama dalam jangka panjang juga berpotensi menimbulkan ketergantungan.
Perpindahan ke sistem dari perusahaan lain dapat membutuhkan biaya besar karena operator harus menyesuaikan perangkat, perangkat lunak, serta sistem operasional yang sudah berjalan.
Digitalisasi pelabuhan juga menghasilkan data dalam jumlah besar. Informasi mengenai kapal, kargo, arus barang, dan aktivitas logistik menjadi bagian dari sistem yang semakin terintegrasi.
Karena itu, keamanan data dan transparansi kerja sama menjadi perhatian. Studi tersebut juga menyoroti terbatasnya pengawasan publik terhadap sejumlah perjanjian konsesi dan kontrak pengelolaan pelabuhan.
Struktur utang dan kepemilikan saham turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan karena dapat memberikan pengaruh jangka panjang kepada pihak investor.
Djibouti menjadi salah satu wilayah yang memperlihatkan hubungan antara kepentingan ekonomi dan strategis China di Afrika.
Pelabuhan Serbaguna Doraleh berada di dekat Selat Bab el-Mandeb, jalur penting yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden. China juga memiliki fasilitas dukungan militer di Djibouti.
Meski investasi pelabuhan pada dasarnya memiliki kepentingan komersial, keberadaan infrastruktur tersebut sekaligus memberikan keuntungan logistik bagi aktivitas pelayaran China.
Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China sendiri telah hadir secara rutin di Teluk Aden sejak 2008 untuk menjalankan operasi pengawalan dan keamanan pelayaran.
Pada akhirnya, pengaruh China di sektor maritim Afrika tidak lagi hanya dapat diukur dari jumlah pelabuhan yang dibangun. Penguasaan teknologi digital, sistem logistik, dan infrastruktur pendukung menjadi bagian penting dari hubungan jangka panjang tersebut.
Bagi negara-negara Afrika, investasi ini dapat membantu mempercepat modernisasi. Namun, aspek keamanan data, transparansi kontrak, pembiayaan, dan ketergantungan teknologi tetap menjadi hal yang perlu diperhatikan.
![]()
Masa Depan Robot Humanoid Mulai Dipertaruhkan
Masa depan robot humanoid mulai dipertaruhkan setelah AS membatasi robot buatan asing. Kebijakan FCC memicu kekhawatiran soal keamanan nasional, AI, data, dan persaingan.

VIVA.co.id
9 Agustus 2026