BBM AS Tembus 4 Dollar AS per Galon, Trump Minta Warga Menerima Efek Konflik Iran - Tribunnews
iran Vs Amerika Serikat
Harga BBM di AS melonjak ke 4 dollar per galon. Trump minta warga maklum demi cegah Iran miliki senjata nuklir di tengah ketegangan.
Tayang:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/20260721-TRUMP.jpg)
ISTIMEWA/schreenshot-video
BBM AS TERUS NAIK - Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta warganya memaklumi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang melonjak hingga 4 dollar AS per galon. Kenaikan biaya hidup ini diklaim Trump sebagai konsekuensi logis yang harus ditanggung demi mencegah Iran mengembangkan dan memperoleh senjata nuklir.
Ringkasan Berita:
- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meminta warganya untuk memaklumi kenaikan harga BBM
- Pernyataan itu disampaikan Trump dalam pidatonya di Garden City, New York, pada Jumat (14/8/2026), seiring meningkatnya eskalasi retorika AS terhadap perairan vital tersebut
- Sepanjang pekan ini, harga minyak mentah jenis Brent melonjak mendekati 90 dollar AS per barrel, sebagaimana dilansir Reuters.
- Sementara itu, harga bensin di tingkat konsumen AS telah merangkak naik ke kisaran 4 dollar AS per galon
TRIBUNBANYUMAS.COM, WASHINGTON DC — Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta warganya memaklumi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang melonjak hingga 4 dollar AS per galon.
Kenaikan biaya hidup ini diklaim Trump sebagai konsekuensi logis yang harus ditanggung demi mencegah Iran mengembangkan dan memperoleh senjata nuklir.
Imbas eskalasi politik dan ketegangan militer di perairan Teluk, harga minyak mentah jenis Brent sepanjang pekan ini melesat mendekati angka 90 dollar AS per barel. Lonjakan ini langsung berdampak pada meroketnya harga bensin di tingkat konsumen domestik Amerika Serikat.
"Apa yang kami lakukan adalah pengabdian yang luar biasa bagi dunia, tidak hanya untuk diri kita sendiri. Warga yang harus membayar sedikit lebih mahal untuk bensin perlu mengingat bahwa langkah ini diambil demi memastikan senjata nuklir Iran tidak pernah terwujud," tegas Trump dalam pidatonya di Garden City, New York, sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (14/8/2026).
Risiko Politik Jelang Pemilu Sela AS
Trump menekankan dirinya tidak akan meminta maaf atas kebijakan ketat maupun serangan yang dilancarkan AS terhadap Iran.
Namun, lonjakan harga BBM AS ini memicu risiko politik yang membesar bagi sang Presiden karena berbenturan langsung dengan janji kampanyenya yang bersumpah menekan biaya energi nasional.
Baca juga: Klaim AS Soal Selat Hormuz Ditolak Mentah-Mentah: Iran Tepis Klaim Sepihak,Tak Gentar Unjuk Kekuatan
Situasi ekonomi ini langsung dimanfaatkan oleh kubu oposisi dari Partai Demokrat. Dampak inflasi energi akibat perselisihan mengenai program senjata nuklir Iran ini mulai disorot tajam dan dijadikan amunisi politik utama jelang Pemilu Sela AS pada November mendatang.
Tak hanya menyoroti isu bensin, dalam kesempatan yang sama Trump juga mengklaim berencana mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah teritorial AS setelah mengalahkan Iran.
Selat Hormuz merupakan titik chokepoint vital dunia yang dilintasi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global.
Iran Reaksi Keras Gertakan Donald Trump
Rencana sepihak yang disampaikan Donald Trump tersebut langsung direspons keras oleh Teheran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan bahwa negaranya tidak akan gentar menghadapi ancaman maupun gertakan militer Washington.
Gharibabadi memastikan bahwa navigasi di Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah kedaulatan Iran dan tidak bisa diklaim sepihak.
"Jalur perairan strategis itu hanya akan dibuka atau ditutup di bawah wewenang Iran. Selat Hormuz tidak dapat direbut melalui kapal induk ataupun pidato kampanye. Jalur tersebut tetap milik Iran, dulu, kini, hingga nanti," tegas Gharibabadi melalui akun X resminya, Sabtu (15/8/2026). (danur/kps)