Setelah Dideportasi dari AS, 146 Warga Venezuela Terjebak di Hotel Transit yang Roboh akibat Gempa - Tribunnews

Ringkasan Berita:
- Sebanyak 146 warga Venezuela yang baru dideportasi dari Amerika Serikat menjadi korban gempa bumi hanya beberapa jam setelah tiba di negara asalnya.
- Mereka ditempatkan di sebuah hotel transit di La Guaira sebelum bangunan tersebut roboh akibat gempa berkekuatan 7,2 dan 7,5.
- Hingga kini, tim penyelamat masih mencari korban yang diduga masih tertimbun reruntuhan, sementara keluarga menunggu kepastian nasib orang-orang tercinta.
TRIBUNNEWS.COM - Nasib tragis menimpa 146 warga Venezuela yang baru beberapa jam dideportasi dari Amerika Serikat (AS).
Dikutip dari NBC News, setelah tiba di Venezuela, mereka ditempatkan di sebuah hotel transit di Kota La Guaira untuk menjalani proses administrasi sebelum dipulangkan ke keluarga masing-masing.
Namun, beberapa jam kemudian, dua gempa bumi berkekuatan 7,2 dan 7,5 mengguncang wilayah pesisir utara Venezuela hingga merobohkan Hotel Santuario La Llanada, tempat para deportan tersebut menginap.
Hingga Senin (30/6/2026), tim penyelamat masih melakukan pencarian terhadap korban yang diduga masih tertimbun reruntuhan.
Berdasarkan data ICE Flight Monitor yang dikutip Associated Press, penerbangan deportasi dari Miami membawa 146 warga Venezuela, terdiri atas 120 pria, 19 perempuan, dan tujuh anak-anak.
La Guaira menjadi salah satu wilayah yang mengalami kerusakan paling parah akibat gempa yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni lalu.
Pemerintah Venezuela mencatat sedikitnya 1.700 orang meninggal dunia, sementara puluhan ribu lainnya masih dinyatakan hilang, Al Jazeera melaporkan.
Penyintas Ceritakan Detik-detik Hotel Roboh
Baca juga: Ahli Patologi Peringatkan Bahaya Gas Beracun dari Pembusukan Jenazah Gempa Venezuela
Salah seorang penyintas, Lisbeth Portillo, mengatakan dirinya berhasil keluar dari reruntuhan bersama sekitar 20 orang lainnya.
Ia mengaku sedang berada di balkon hotel ketika gempa pertama mengguncang bangunan.
Tak lama berselang, gempa kedua datang dengan kekuatan lebih besar hingga membuat hotel runtuh.
"Kami berjalan sekitar lima kilometer sambil mencari bantuan. Saat itu tidak ada komunikasi sama sekali," ujar Portillo kepada Associated Press.
Ia menyebut selamat dari reruntuhan sebagai kesempatan hidup kedua.
Kesaksian serupa disampaikan Jenny Rodriguez.
Ia mengaku sempat tertimbun puing-puing bangunan sebelum akhirnya diselamatkan oleh sesama deportan yang berada dalam penerbangan yang sama.
"Saya berhasil mengeluarkan tangan dari reruntuhan, meraih celananya, lalu memohon agar diselamatkan," tuturnya.
Puluhan Deportan Masih Belum Ditemukan
Di tengah proses evakuasi, banyak keluarga mengaku belum memperoleh kepastian mengenai nasib kerabat mereka.
Enit Hernández, yang tinggal di Texas, mengatakan suaminya, José Rafael Rossi Ydrogo, terakhir kali menghubunginya sehari sebelum diterbangkan dari AS.
Sejak tiba di Venezuela, keluarganya belum lagi menerima kabar.
Sejumlah keluarga lainnya juga mengaku kesulitan memperoleh informasi karena akses menuju lokasi reruntuhan masih dibatasi selama proses pencarian berlangsung.
Mereka berharap pemerintah segera merilis daftar korban maupun penyintas agar kepastian mengenai anggota keluarga yang hilang dapat segera diketahui.
Respons Pemerintah
Baca juga: Kamar Jenazah Caracas Kewalahan, Keluarga Korban Gempa Venezuela Antre Cari Orang Tercinta
Departemen Keamanan Dalam Negeri AS menyatakan seluruh penumpang penerbangan deportasi telah tiba dengan selamat di Venezuela.
Menurut pemerintah AS, setelah para deportan diserahkan kepada otoritas Venezuela, tanggung jawab mereka tidak lagi berada di bawah pengawasan Badan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE).
Sementara itu, pemerintah Venezuela hingga kini belum merilis daftar resmi deportan yang menjadi korban maupun mereka yang masih dinyatakan hilang.
Tim penyelamat masih terus menyisir reruntuhan Hotel Santuario La Llanada, sementara puluhan keluarga di Venezuela maupun Amerika Serikat hanya bisa menunggu kabar tentang orang-orang yang mereka cintai.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)