Resmi! AS Luncurkan Aksi Balas Dendam ke Iran atas Perintah Trump, Berlangsung 10 hingga 14 Hari - Tribunnews
Perang Iran kembali meletus setelah Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk melancarkan aksi balas dendam setelah pangkalan udaranya kena rudal.
Tayang:
/IST/Tangkap Layar/Khaberni
AKSI BALAS DENDAM - Tangkap layar khbrn, Jumat (24/7/2026) yang menunjukkan ledakan yang terjadi saat rudal serangan Amerika Serikat menghantam sebuah lokasi di Iran. Trump resmi meluncurkan serangan udara sebagai bentuk balas dendam terhadap Iran setelah serangan rudal balistik ke fasilitas militer AS di Yordania pekan ini.
Ringkasan Berita:
- Amerika Serikat (AS) kembali meluncurkan serangan udaranya ke wilayah Iran sebagai bentuk balas dendam.
- Serangan udara yang terjadi pada Rabu (29/7/2026) waktu setempat menjadi akhir jeda pertempuran singkat dalam beberapa hari terakhir.
- Operasi militer ini menjadi aksi pertama Washington ke wilayah Iran sejak Donald Trump menghentikan sementara kampanye pemboman pada pekan lalu.
TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat (AS) resmi meluncurkan serangan udara sebagai bentuk balas dendam terhadap Iran.
Serangan udara yang dilakukan pada Rabu (29/7/2026) waktu setempat, menjadi akhir jeda pertempuran dan upaya diplomasi singkat yang sempat diupayakan selama beberapa hari terakhir.
Menurut laporan eksklusif Axios, pejabat senior AS menyebutkan, operasi militer ini menjadi aksi gempuran udara pertama Washington ke wilayah Iran sejak Presiden Donald Trump menghentikan sementara kampanye pemboman pada pekan lalu.
"Kami akan memukul mereka dengan sangat keras karena sekarang giliran kami untuk memukul balik," tegas Trump saat berbicara kepada awak media di Gedung Putih.
Keputusan Trump untuk melanjutkan gempuran udara dipicu oleh tindakan Iran yang meluncurkan serangan rudal balistik ke fasilitas militer AS di Yordania pekan ini.
Walaupun Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim berhasil mengintersepsi seluruh rudal yang mengarah ke markas militer mereka, tindakan Teheran dinilai telah menghancurkan momentum negosiasi damai.
Sebagai bentuk pembalasan, armada tempur AS yang disokong kekuatan sekutu melancarkan serangan udara terkoordinasi yang menyasar fasilitas logistik, gudang senjata, dan basis-basis strategis di Iran serta milisi pro-Iran di Irak.
Melalui laporan tersebut, Departemen Pertahanan AS (Pentagon) dikabarkan telah menyiapkan skenario kampanye udara berskala besar.
Diperkirakan serangan udara tersebut berlangsung selama 10 hingga 14 hari nonstop apabila saluran diplomasi mati total.
Baca juga: Iran Dikabarkan Terima Ratusan Rudal Buatan China di Tengah Ancaman Baru Trump
Keterlibatan Arab Saudi
Kerajaan Arab Saudi secara resmi mengonfirmasi keterlibatan langsung angkatan bersenjatanya dalam melancarkan serangan udara bersama CENTCOM.
Sasarannya adalah kelompok-kelompok bersenjata yang disokong Iran di wilayah Irak.
Untuk pertama kalinya sejak rangkaian bentrokan bersenjata pecah awal tahun ini, Riyadh tidak lagi hanya mengandalkan pertahanan udara pasif atau diplomasi di balik layar.
Melainkan secara aktif mengambil tindakan militer ofensif lintas batas negara bersama Washington.
Mengutip The New York Times, operasi militer gabungan tersebut menyasar basis-basis strategis milik Unit Mobilisasi Populer (PMF) di Irak.
Menurut pernyataan resmi CENTCOM dan Kementerian Pertahanan Saudi, instalasi tersebut diidentifikasi sebagai pusat kendali serangan armada drone yang dalam 72 jam terakhir berulang kali menghantam kilang minyak utama Ras Tanura di Arab Saudi serta pangkalan militer AS di kawasan tersebut.
Laporan yang dihimpun menunjukkan, serangan balasan ini menewaskan sedikitnya 20 anggota milisi dan melukai puluhan lainnya.
Kerusakan signifikan juga dilaporkan terjadi pada pangkalan logistik dan peluncuran rudal kelompok pro-Teheran tersebut.
Baca juga: Kesal Markas AS di Yordania Diserang, Trump Klaim Siap Buat Iran Babak Belur
Bagi Riyadh, tindakan ini diambil sebagai langkah darurat demi melindungi aset vital nasional.
Serangan drone beruntun terhadap kilang Ras Tanura — salah satu fasilitas pemrosesan dan ekspor minyak terbesar di dunia — bukan saja mengancam stabilitas ekonomi dalam negeri, tetapi juga mengirimkan gelombang kejutan pada pasar energi global yang sudah berada dalam situasi rentan.
(Tribunnews.com/Whiesa)