Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Dunia Internasional Featured Jepang Spesial

    Kesenjangan Gaji di Industri Penerbangan Jepang, Pilot Kantongi Rp2,53 Miliar per Tahun - Tribunnews

    6 min read

     


    Ringkasan Berita:
    • Rata-rata penghasilan pilot di ANA mencapai lebih dari 23 juta yen atau sekitar Rp2,53 miliar per tahun 
    • Di saat ANA dan JAL mencetak rekor laba berkat kuatnya penerbangan internasional, maskapai domestik menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya operasional 
    • Konflik Timur Tengah juga diperkirakan meningkatkan beban biaya bahan bakar maskapai Jepang

    Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

    TRIBUNNEWS.COM, TOKYO  —  Rata-rata penghasilan pilot di salah satu maskapai penerbangan terbesar Jepang, All Nippon Airways (ANA), mencapai lebih dari 23 juta yen per tahun atau sekitar Rp2,53 miliar.

    Dengan demikian, penghasilan per bulannya mencapai sekitar 1,91 juta yen atau sekitar Rp210 juta sebelum pajak dan berbagai potongan.

    Angka tersebut terungkap dalam analisis laporan sekuritas lima perusahaan penerbangan utama Jepang yang diterbitkan Diamond pada Kamis (23/7/2026).

    Analisis tersebut membandingkan rata-rata penghasilan tahunan karyawan di masing-masing maskapai, termasuk pilot dan awak kabin.

    Mulai tahun fiskal 2025, ANA Holdings tidak hanya mengungkapkan rata-rata gaji pegawai di perusahaan induk, tetapi juga secara terpisah mempublikasikan penghasilan tahunan karyawan All Nippon Airways (ANA).

    Data tersebut mencakup pilot yang memiliki tingkat penghasilan relatif tinggi sehingga perbandingan tingkat gaji antara pegawai ANA dan Japan Airlines (JAL) kini dapat dilakukan secara lebih jelas.

    Baca juga: Komnas HAM Sebut Pilot Kerap Jadi Sasaran Kelompok Bersenjata di Papua Sejak 2023

    Di JAL, gaji pokok bulanan dilaporkan berkisar antara 227.000 yen atau sekitar Rp25 juta untuk awak kabin hingga 261.000 yen atau sekitar Rp28,7 juta untuk posisi perencanaan.

    Sementara itu, rata-rata penghasilan tahunan pegawai JAL berkisar antara 6,04 juta yen atau sekitar Rp664 juta untuk ilmuwan data hingga 6,59 juta yen atau sekitar Rp725 juta untuk posisi perencanaan.

    ANA dan JAL Cetak Rekor Laba

    ANA Holdings dan JAL sama-sama membukukan laba tertinggi sepanjang sejarah pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026. Kinerja positif tersebut ditopang oleh meningkatnya permintaan penerbangan internasional serta melonjaknya jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Jepang.

    ANA Holdings mencatat laba operasional sebesar 217,4 miliar yen atau sekitar Rp23,9 triliun, naik 10,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

    Sementara itu, JAL membukukan EBIT atau laba sebelum bunga dan pajak sebesar 218 miliar yen atau sekitar Rp24 triliun, meningkat 26,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

    Bisnis penerbangan internasional menjadi motor utama pertumbuhan kedua maskapai tersebut.

    Maskapai Domestik Tertekan Biaya Tinggi

    Berbeda dengan ANA dan JAL, maskapai yang lebih bergantung pada rute domestik menghadapi tekanan akibat meningkatnya biaya operasional.

    Kenaikan harga bahan bakar, biaya perawatan pesawat, pelemahan nilai tukar yen, serta berkurangnya penumpang bisnis bertarif tinggi menyebabkan profitabilitas mereka menurun.

    Skymark Airlines, misalnya, mencatat pendapatan operasional sebesar 110,4 miliar yen atau sekitar Rp12,1 triliun, naik 1,4 persen dan menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.

    Namun, laba operasionalnya justru turun 1,4 persen menjadi 1,8 miliar yen atau sekitar Rp198 miliar.

    Margin laba operasional Skymark hanya mencapai 1,6 persen, jauh lebih rendah dibandingkan 8,1 persen pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2019 atau sebelum pandemi Covid-19.

    Kondisi tersebut membuat kesenjangan tingkat penghasilan antara pegawai maskapai besar dan maskapai yang berfokus pada penerbangan domestik semakin lebar.

    Baca juga: Pesawat Ringan Tabrak Gedung 528 Meter Tertinggi di Beijing, Pilot Tewas

    Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Biaya

    Memburuknya situasi di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga bahan bakar penerbangan dan mulai memengaruhi struktur keuntungan maskapai Jepang.

    ANA Holdings memperkirakan kenaikan biaya tersebut dapat memangkas laba operasional sekitar 60 miliar yen atau sekitar Rp6,6 triliun pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2027.

    Apabila ketegangan di Timur Tengah berlangsung lebih lama, dampaknya diperkirakan akan semakin membebani operasional dan kondisi keuangan perusahaan-perusahaan penerbangan di Jepang.

    Diskusi  beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com

    Komentar
    Additional JS